Hakekat Santri Bukan Sekedar Mondok, Refleksi Hari Santri

Yasayyidiyarasulallah (@hiyan_elbanis*) | Momen penting setiap tahun tanggal 22 Oktober diperingati Hari Santri Nasional (HSN), hal ini sebagai wujud nyata pengakuan negara atas jasa emas perjuangan ulama kyai dan santri dalam berjuang melawan penjajah. 

Puncaknya dengan Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari pendiri NU kakek dari Presiden ke 4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), atas permintaan Presiden Soekarno (Bung Karno) sehingga memompa semangat pertempuran 10 Nopember 1945 arek arek Surabaya dikomandani Bung Tomo hingga bersama rakyat ulama kyai dan santri mencapai kemenangan dan diakui dunia internasional (PBB) bahwa Indonesia merdeka tanpa syarat. 

Eksistensi santri salah seorang Kyai menta'rifkan tentang Santri bukan hanya mereka yang sekedar mondok di pesantren, tetapi mereka yang bisa mengamalkan dan perilakunya atau akhlaqnya baik serta punya hubungan baik kepada sesama juga bisa disebut sebagai santri.

Istilah  “Santri”, seperti dikutip dari buku Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan (2001) karya M. Habib Mustopo, mengatakan kata “santri” berasal dari bahasa Sanskerta. Istilah “santri”, menurut pendapat itu, diambil dari salah satu kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya "melek huruf" atau "bisa membaca". Versi ini terhubung dengan pendapat C.C. Berg yang menyebut istilah “santri” berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti "orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu". 

Sanskerta merupakan bahasa liturgis dalam agama Hindu, Buddha, dan ajaran Jainisme, serta salah satu dari 23 bahasa resmi di India. Sanskerta pernah digunakan di Nusantara pada masa Hindu dan Buddha yang berlangsung sejak abad ke-2 Masehi hingga menjelang abad ke-16 seiring runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Karel A. Steenbrink, seperti dikutip oleh Zamakhsyari Dhofir dalam buku Tradisi Pesantren (1985), mendukung rumusan Berg dan meyakini bahwa pendidikan pesantren, yang kemudian lekat dengan tradisi edukasi Islam di Jawa, memang mirip dengan pendidikan ala Hindu di India jika dilihat dari segi bentuk dan sistemnya.

Nurcholis Madjid lewat buku Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (1999) menautkan pendapat tersebut dengan menuliskan bahwa kata “santri” bisa pula berasal dari bahasa Jawa, yakni cantrik yang bermakna "orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya". 

Ada pula yang mengaitkan asal usul istilah “santri” dengan kata-kata dalam bahasa Inggris, yaitu sun (matahari) dan three (tiga), menjadi tiga matahari. Dinukil dari tulisan Aris Adi Leksono bertajuk “Revitalisasi Karakter Santri di Era Milenial” dalam NU Online, maksud tiga matahari itu adalah tiga keharusan yang harus dimiliki oleh seorang santri, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. 

Istilah “santri” bisa pula dimaknai dengan arti “jagalah tiga hal”, sebagaimana yang tertulis di buku Sejarah Pergerakan Nasional (2015) karya Fajriudin Muttaqin dan kawan-kawan, yaitu menjaga "ketaatan kepada Allah, menjaga ketaatan kepada Rasul-Nya, dan menjaga hubungan dengan para pemimpin".

Dari bahasa Arab, asal usul istilah “santri” juga bisa ditelaah. Kata “santri” terdiri dari empat huruf Arab, yakni sin, nun, ta’, dan ro’ yang masing-masing mengandung makna tersendiri dan hendaknya tercermin dalam sikap seorang santri, demikian dikutip dari buku Kiai Juga Manusia: Mengurai Plus Minus Pesantren (2009). Menurut ulama dari Pandeglang, Banten, K.H. Abdullah Dimyathy, huruf sin merujuk pada satrul al ‘awroh atau "menutup aurat"; huruf nun berasal dari istilah na’ibul ulama yang berarti "wakil dari ulama"; huruf ta’ dari tarkul al ma’ashi atau "meninggalkan kemaksiatan"; serta huruf ‘ro dari ra’isul ummah alias "pemimpin umat". 

Sedangkan dalam pandangan K.H. M.A. Sahal Mahfudz, Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 1999-2014, kata “santri” berasal dari bahasa Arab yakni santaro yang berarti “menutup”. 

Santri adalah orang yang belajar, bukan justru menutup. Maka, dikutip dari jurnal Ulul Albab (2014) seorang santri mustahil santaro. Artinya santri itu belajar dan terus belajar bersama ulama Kyai untuk menebarkan kemanfaatan ilmu dan amal bagi kehidupan sebagai bekal hidup sesudah mati agar selamat dunianya dan selamat akhiratnya.

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

Semoga bermanfaat, 

"Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wa sallim ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin".

  • Tentang Penulis
  • youtube