Bermacam-macam bacaan sholawat salah satunya sholawat yang diajarkan oleh Imam Syafi'i. Dalam kitab karya Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani (w. 1932 M) berjudul kitab Afdhalus Sholawat ‘ala Sayyiddis Sadat menjelaskan, sholawat Imam Syafi’i.
Dalam sholawatnya beliau juga disebutkan Syekh Hasan al-‘Adawi asy-Syadzili dalam kitabnya Bulûghul Masarrât Syarah Dalâ’ilul Khairât, mengutip riwayat Imam al-Baihaqi berikut:
Imam Syafi’i hadir dalam mimpi seseorang. Lalu ia ditanya, “Apa yang telah Allah perbuat padamu?” Imam Syafi’i menjawab, “Allah telah mengampuniku.” “Dengan apa?” “Dengan lima kalimat yang dulu aku bacakan untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.” “Kalimat apakah itu?” “Dulu aku membaca (Sholawat) :
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ، وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ، وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا أَمَرْتَ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ، وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا تُحِبُّ أَنْ يُصَلَّى عَلَيْهِ، وَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا تَنْبَغِي الصَّلَاةُ عَلَيْه
"Allâhumma shalli ‘alâ muḫammadin bi ‘adadi man shalla ‘alaih. Wa shalli ‘alâ muḫammadin bi ‘adadi man lam yushalli ‘alaih. Wa shalli ‘alâ muḫammadin kamâ amarta bish shalâti ‘alaih. Wa shalli ‘alâ muḫammadin kamâ tuḫibbu an yushallâ ‘alaih. Wa shalli ‘alâ muḫammadin kamâ tanbaghish shalâtu ‘alaih.” (Syekh Hasan al-‘Adawi asy-Syadzili, Bulûghul Masarrât Syarah Dalâ’ilul Khairât, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2020], h. 128-129).
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah sholawat (rahmat) kepada Nabi Muhammad ﷺ sebanyak jumlah orang yang bershalawat kepadanya. Limpahkanlah sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ sebanyak jumlah orang yang tidak bersholawat kepadanya. Limpahkanlah sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana Engkau perintahkan untuk bersholawat kepadanya. Limpahkanlah salawat kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana Engkau suka dibacakannya sholawat atasnya. Limpahkanlah pula sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana selayaknya ucapan salawat atasnya.”
Terkait sholawat ini, Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Qasim dalam kitabnya, Tadzkiratul Muhibbîn Syarhu Asmâ’i Sayyidil Mursalîn mengutip sebuah riwayat berikut,
و قال ابن الحكيم رأيت الشافعي في المنام فقلت له: ما فعل الله تعالى بك؟ فقال: غفر لي؛ ورحمني؛ وزفّفت روحي إلى الجنة كما تُرّفُ العروس؛ ونثر علي كما يُثر عَلَى العروس؛ فقيل له: بما بلغت هذه الحالة؟ فسمعت قائلا يقول: بكتابة اسمه الشريف في أوّل كتاب " الرسالة " ». قلت: وكيف ذلك؟ قلت: قال: وصلَّى الله عَلَى محمّد عدد ما ذكره الذاكرون؛ وعدد ما غفل عن ذكره الغافلون. فلمًا أصبحت نظرت فِي الرسالة فوجدت الأمر كما رأيت؛ وعددت من رأى الشافعي فِي النوم, فوجدتهم أربين رجلا، كل منهم يقول بخلاف الأخر. فمنهم من رأى النبي صلى الله عليه و سلم و هو يدعو له، و منهم من قال له لا يقف للحساب يوم القيامة، و منهم من قال له خصصته أن الله تعالى لا يحاسبه، و منهم من قال له: تسبق بصلاة لم يسبق بها أحد.
Artinya: “Ibnul Hakim berkata, ‘Saya bermimpi bertemu Imam Syafi’i, lantas saya bertanya, ‘Apa yang Allah lakukan terhadapmu? Imam Syafi’i menjawab, ‘Allah mengampuniku, merahmatiku, dan memboyong ruhku menuju surga sebagaimana diboyongnya pengantin, juga ditaburi layaknya pengantin’. Lalu ia ditanya, ‘Apa yang membuatmu mencapai semua ini?’ Kemudian aku mendengar seseorang berakata, ‘Dengan sebab menulis nama Nabi Muhammad yang mulia di awal kitab Ar-Risâlah (kitab karya Imam Syafi’i).’ Aku pun bertanya, ‘Bagaimana itu?’ Yaitu;
صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ
"Shallahu ‘alâ nabiyyinâ muḫammadin kullamâ dzakarahudz dzâkirûna wa ghafala ‘an dzikrihil ghâfilûn(a)".
Artinya, “Ya Allah, limpahkanlah sholawat atas nabi kami, Nabi Muhammad ﷺ, selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu dan orang-orang yang lalai lupa untuk menyebut-Mu.”
Ketika aku terbangun dan mengecek Ar-Risâlah, dan aku lihat di dalamnya apa yang dikatakan dalam mimpi tadi. Lalu aku himpun orang-orang yang pernah mimpi bertemu Imam Syafi’i, aku temukan sebanyak empat puluh orang. Masing-masing dari mereka menceritakan mimpi bertemu Imam Syafi’i dengan pengalaman yang berbeda. Ada yang mimpi bertemu Nabi Muhammad yang mendoakan Imam Syafi’i. Ada yang bilang Imam Syafi’i tidak akan terkena hisab (perhitungan amal) di hari kiamat nanti.
Ada pula yang mengatakan, Allah mengistimewakan Imam Syafi’i dengan tanpa melewati hisab. Dan ada yang bilang disodorkan Sholawat. (Syekh Abu Abdillah Muhammad, Tadzkiratul Muhibbin Syarhu Asma’i Sayyidil Mursalin, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2007], h. 56).
Dalam Kitab Syawariqul Anwar karya Syekh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani, sholawat Imam Syafi’i tersebut ditulis dalam redaksi tambahan kata “Sayyidina” di depan lafal “Muhammad”. Kata penambahan "Sayyidina" dari banyak pendapat sebagai penghormatan ta'dhim kepada Nabi Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasallam.
Dalam hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: Saya adalah sayyid (tuan)-nya anak Adam di hari kiamat. (Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, Shahîh Muslim, [Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.], juz IV, halaman: 1782).
"Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi ajma'in adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin".
Semoga bermanfaat,
@hiyan_elbanis
