Jangan Suka Mengkafir Bid'ahkan Orang Lain, Karena Hidup Itu Pungkasan Amalnya, Ya Allah Wafatkanlah Kami Husnul Khotimah

Yasayyidiyarasulallah | Hidup itu ditentukan pungkasan amalnya, tidak peduli keadaannya manusia itu mau bagaimana akan tergantung perbuatannya di akhir hayatnya. Banyak orang dianggap tersesat kelakuannya seolah-olah ahli neraka akeh maksiat, tapi happy ending dengan husnul khotimah. Sebaliknya tidak sedikit orang melakukan amal seolah-olah ahli surga rajin beribadah namun berakhir tragis matinya syu'ul khotimah. Naudzubillah mindzalik!.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan agar tidak mudah menghakimi orang lain salah, apalagi sampai mengkafir-kafirkan atau membid'ah-bid'ahkan sesama saudara muslim karena amal perbuatannya. Bisa jadi mereka yang melakukan seolah pendosa ahli neraka tapi sesungguhnya ahli surga, manusia tidak ada yang mengetahuinya karena rahasia dari Allah subhanahu wata'ala agar sesama manusia saling berbuat baik terus melakukan kebajikan. Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا »

"Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)

Dalam riwayat lain disebutkan,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Amalan yang dimaksud di sini adalah amalan shalih, bisa juga amalan jelek. Yang dimaksud ‘bil khawatim’ adalah amalan yang dilakukan di akhir umurnya atau akhir hayatnya.

Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yaitu Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi  berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya beliau malah berujar, “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini.” Kontan seseorang menguntitnya, dan terus ia kuntit hingga prajurit tadi terluka dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadis tersebut diatas.

Dalam Syarh Al-Muwatha’ Az-Zarqani menyatakan bahwa amalan akhir manusia itulah yang jadi penentu dan atas amalan itulah akan dibalas. Siapa yang beramal jelek lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« لاَ عَلَيْكُمْ أَنْ لاَ تُعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَاناً مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً سَيِّئاً وَإِنَّ الْعَبْدَ لِيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً صَالِحاً وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ »


Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek. Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.” Para sahabat bertanya, “Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Ahmad, 3: 120, 123, 230, 257 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah 347-353 dari jalur dari Humaid, dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat shahih Bukhari – Muslim. Lihat pula Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1334).

Dengan demikian maka penting sekali amalan yang kontinu dan menjadi akhir hidup dengan penutup terbaik yaitu husnul khatimah.

Akhirnya marilah senantiasa berbaik sangka kepada orang lain, dengan tidak mengkafir-kafirkan atau membid'ah-bid'ahkan sesama, karena orang yang dianggap pendosa belum tentu buruk di mata Allah subhanahu wa ta'ala. Demikian juga orang yang ahli ibadah belum tentu bagus di sisi Allah subhanahu wa ta'ala, karena tidak ada yang tahu isi hatinya atau niat seseorang itu melainkan hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang maha tahu. Menata hati menata niat dalam beramal ibadah itu sangat penting dalam artian ikhlaskan semata amal ibadah kebaikan apapun itu hanya karena Allah subhanahu wa ta'ala, jangan sampai seperti menjadi manusia yang disebutkan dalam hadis tersebut. "Jangan lihat luarnya berduri tapi rasanya enak kalau dimakan" (Buah Duren), "Jangan tergiur luarnya mulus tapi dalamnya berduri kecut asam pula rasanya" (Buah Kedondong). 

اَللّٰهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَا تِمَةِ 

وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِالْخَاتِمَ

"Ya Allah Ya Tuhan kami wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khotimah, dan janganlah Engkau wafatkan kami dalam keadaan syu'ul khotimah". Aamiin.

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin" . 

(@hyan elbanis)

  • Tentang Penulis
  • youtube