اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ
'Uthlubu al ilma walau bi as-shin'. Artinya: "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China".
Hadis tersebut sangat populer di kalangan umat Islam, tapi tahukah ternyata bukan hadis begini penjelasan dari aspek keilmuan hadis (Musthola'ah hadis). Agar hati-hati tidak mudah menyebut itu sebagai hadis dengan menisbatkan nama Nabi Muhammad Shollollahu 'Alaihi wasallam, karena ternyata sanad hadis tersebut (perowinya) tidak sambung alias terputus ke Nabi Muhammad Shollollahu 'Alaihi Wasallam, hal ini diketahui dari kajian ilmu hadis (musthola'ah hadis) yaitu takhrijul hadis, dengan men-tahrij- hadis tersebut, maka 'banyak tentunya persyaratan ketat untuk disebut sebagai hadis dengan beragam macam tingkatan hadis dari mutawatir, shohih, hasan sampai dhoif juga akan diketahui sebuah hadis batal atau hadis palsu.
Dalam kitab Al Maqoshid al Hasanah karya As-Shakawi menyebutkan Ulama Hadis, menjelaskan hadis tersebut palsu atau menggolongkan hadis-hadis al Maudhu'at yang sanad perowinya terputus tidak bersambung kepada Nabi Muhammad Shollollahu 'Alaihi Wasalam. Jadi hendaknya berhati- hati dengan hadis palsu, apalagi digunakan untuk tujuan tertentu.
Meski demikian sebagai motivasi dalam menuntut ilmu harus terbuka, terkait dengan China memang sejak era Khalifah Usman Radhiyallahu 'Anhu sudah banyak yang memeluk Islam, bahkan sejarah masuknya Islam masa kerajaan Majapahit (Indonesia) dulunya juga tidak lepas dari China, harus diakui China punya andil dalam keruntuhan Majapahit dengan Islamisasi melalui perkawinan putri-putri kerajaan dan raja-raja Majapahit.
Sehingga dari Prabu Brawijaya Raja Majapahit kemudian memeluk Islam setelah dikalahkan anaknya (Raden Patah/Sultan Demak) dalam peperangan (juga bersama Sunan Giri) yang sebetulnya tidak direstui Sunan Ampel untuk mendirikan-merubah Majapahit menjadi kerajaan Islam, karena Sunan Ampel memandang Majapahit tidak perlu menjadi kerajaan Islam karena Raja Majapahit sudah memberikan kebebasan umat Islam menjalankan ibadah agamanya.
Hubungan bilateral kedua negara Indonesia dan China memang pasang surut pasang naik, di era pemerintahan Presiden RI pertama yaitu Soekarno atau Bung Karno, tepatnya tahun 1967 misalnya beliau memutuskan hubungan diplomatik dengan China, demikian juga pada era Presiden Soeharto memutuskan hubungan diplomatik.
Di pemerintahan Presiden Jokowi saat ini sedang masanya keemasan China merajut kembali diplomatik dengan Indonesia, walau pun banyak suara sumbang agar tidak loss dengan negara China dengan kepentingan negara mereka di negeri ini. Terlepas dari kepentingan apapun mereka tulisan ini tidak membahas masalah gejolak yang ditimbulkan dari hubungan diplomatik tersebut,
Penulis lebih menekankan pentingnya mempelajari takhrijul hadis, menela'ah meneliti dan mengkaji disebutnya palsu hadis tersebut.
Berikut redaksi hadis palsu 'Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China';
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ
"Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri China!".
Riwayat ini dikeluarkan oleh Imam al-‘Uqaili dalam adh-Dhu’afâ’ (2/230), juga Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil fidh Dhu’afâ’” (4/118) dan Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam Târîkh Ashbahan (2/106), serta al-Baihaqi dalam al-Madkhal ilas Sunanil Kubra (1/244) dan Syu’abul Îmân (no. 1612) , juga al-Khathib dalam Târîkh Bagdad (9/363), 6. Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’u Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih (1/14-15).
Ibnul Jauzi dalam al-Maudhû’ât” (1/215) Dengan sanad mereka semua dari jalur Abu ‘Atikah Tharif bin Sulaiman, dari Anas bin Malik, dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini adalah hadits yang palsu dan batil (rusak), karena rawi yang bernama Abu ‘Atikah Tharif bin Sulaiman adalah rawi yang disepakati kelemahannya, bahkan sebagian dari Ulama ahli hadits menyifatinya sebagai pemalsu hadits.
Imam al-Bukhâri rahimahullah dan Abu Hâtim ar-Râzi rahimahullah menyatakan bahwa hadits riwayatnya sangat lemah. Hal sama Imam as-Sulaimani menyatakan bahwa rawi ini dikenal sebagai pemalsu hadis. (Kitab Tahdzîbut Tahdzîb (12/158).
Rasulullah Shollollahu 'Alaihi Wasallam mengingatkan,
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia bersiap-siap mengambil tempat di neraka". (Muttafaq 'alaih).
Ulama Hadis, Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan,
“Para ulama sepakat bahwa sengaja berdusta atas nama Rasulullah Shollollahu 'Alaihi Wasallam termasuk dosa besar, bahkan Abu Muhammad al-Juwaini sangat keras sehingga mengkafirkan orang yang sengaja dusta atas nama Nabi Muhammad Shollollahu 'Alaihi Wasallam. Dan mereka bersepakat haramnya meriwayatkan hadis maudhu‘ (palsu) kecuali disertai keterangannya (yang menjelaskan kepalsuannya), berdasarkan hadis Nabi Muhammad Shollollahu 'Alaihi Wasallam,
مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يَرَيْ أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ
"Barangsiapa menceritakan dariku suatu hadis yang dia ketahui kedustaannya, maka dia termasuk diantara dua pendusta". (HR. Muslim dalam al-Muqadimah, Ibnu Majah 41).”
Dengan demikian, hendaknya berhati-hati dalam broadcast menyebarkan hadis-hadis ke medsos, pesan berantai baik melalui Whatsapp, facebook atau twitter dan instagram apabila didapati menyampaikan pesan Nabi Muhammad Shollollahu 'Alaihi Wasallam, agar terlebih dahulu chek and richek dicerna tidak langsung ditelan mentah-mentah, baik dari sisi matan ataupun isi dan sanad juga perowi dari hadis - hadis tersebut, jadi apakah memang masuk kategori shohih atau justru palsu hadis itu sangat penting, supaya tidak ikutan berdosa kepada sang Nabi Muhammad Shollollahu 'Alaihi Wasallam. Waallahu A’lamu Bisshowab.
Semoga bermanfaat,
Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallim ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin.
(@hiyan_elbanis)
