KHR Azaim Ibrahimy Ijazahi Kaifiyyah Wirid Ya Jabbar Ya Qohhar, Siapa Berniat Merusak Atau Mempermainkan NU Akan Hancur

Yasayyidiyarasulallah | Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur KHR Azaim Ibrahimy memberikan ijasah bacaan Ya Jabbar Ya Qohhar kepada ribuan jamaah Nahdliyin yang memadati Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Selasa (7/2/2023) dini hari. 

Sang dzurriat dari KH. R. As'ad Syamsul Arifin salah satu mu'assis NU ini menyampaikan ijasah doa "Ya Jabbar Ya Qohhar" dengan Kaifiyyah atau tata cara mengamalkannya.

"Perkenankan kami diamanati untuk menyampaikan ijazah zikir dan hizib yang biasa diamalkan di berbagai pondok pesantren," kata Kiai Azaim dalam sesi ritual keagamaan sebagai rangkaian dari Puncak Resepsi 1 Abad NU tersebut.

Kiai Azaim menjelaskan salah satu dari bacaan wirid dari asmaul husna ini adalah amanah dari Syekhana Kholil Bangkalan dan disampaikan kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.

Tetapi ijazah ini tak bisa sembarang dibaca, karena ada tata cara yang harus dilakukan. Kiai Azaim menjelaskan dan mempraktikkan langsung tata cara yang juga dilakukan oleh sangat kakek beliau yaitu KHR As'ad Syamsul Arifin. 

Caranya, didawamkan dengan menggunakan butiran tasbih. Saat membacakan Ya Jabbar Ya Qahhar sampai 99 kali, lalu ujung atau kuncir tasbihnya dipegang dan diporoti seperti meretas daun kelor. Memutar tasbihdengan Ya Jabbar Ya Qahhar tanpa merusak susunan tasbihnya, rangkaian tali tasbhinya. Tasbihnya tetap utuh tetapi kotorannya bersih.

"Jadi dari ujung, kemudian ditarik ke bawah sebanyak 3 kali. Ya Jabbaar, Ya Jabbaar, Ya Jabbaar. Begitu juga saat selesai membaca Ya Qahhar," kata Kiai Azaim mencontohkan.

Namun ada juga riwayat lain. Misal, ketika selesai hitungan 99 kali membaca Ya Jabbar, lalu tangan kita memutari tasbih secara melingkar, satu putaran. Pun saat selesai membaca Ya Qahhar.

Kiai Azaim menjelaskan rahasia atau hikmah dari tata cara membaca Ya Jabbar Ya Qahhar yang tadi dijelaskan itu. 

"Jamiyah NU ini sudah diwiridi bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar, bahkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dawuh siapa yang niat buruk kepada NU, maka dia akan mendapatkan celaka dan murka Allah," jelasnya.

Menggerakkan tasbih dengan cara memorot itu berarti kita sedang membersihkan sesuatu kotoran yang ada pada tasbih. Ibarat lingkaran tasbih, NU perlu dibersihkan spiritual dan batinnya.

"Memutar tasbih dengan Ya Jabbar Ya Qahhar tanpa merusak susunan tasbihnya, rangkaian tali tasbhinya. Tasbihnya tetap utuh tetapi kotorannya bersih," katanya.

Tata cara itu, kata Kiai Azaim, juga bisa dimaknai bahwa siapa pun yang salah niat berjuang di NU akan dibersihkan oleh Allah dengan cara-Nya.

"Kita niat semoga siapa pun yang mengabdi kepada NU senantiasa mendapat keberkahan, kemanfaatan duniawi ukhrawi dan kelak berkumpul dengan para kiai, satu rombongan dengan Baginda Nabi Muhammad," ujar Kiai Azaim.

"Siapa pun yang memiliki niat tidak baik, niat yang merusak perjuangan NU, semoga mendapatkan keadilan Allah," tegasnya lagi.

Kemudian, Kiai Azaim melakukan prosesi ijab qabul pengijazahan bacaan-bacaan itu. Secara serentak dijawab oleh hadirin.

"Ajaztukum jamian," kata Kiai Azaim.

"Qabiltu al-ijazah," seluruh jamaah menjawab serentak.

"Barakallahu fiikum. Semoga wiridan dan zikir tadi barokah untuk kita semua dalam menyongsong abad kedua NU," pungkas Kiai Azaim, lalu menutup prosesi pemberian ijazah ini dengan doa. 

Jangan Memanipulasi NU

Menukil duta.co Doa ini juga dianjurkan dibaca setiap forum pertemuan khitthah, istighotsah, majelis ta’lim, dan majelis dzikir dengan diwajibkan untuk mengawali dengan bacaan: Pertama, tawassul kepada Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Syeikh Abdul Qodir Jailany, Raden Ahmad Rahmatullah dan seluruh muassis NU.

Kedua, Membaca Ya Jabbar 99x, Ya Qohhar 99x, lalu ditutup dengan cara mengurut tasbih sebanyak 3x dengan bermunajat Ya Allah Ya Jabbar Ya Qohhar, semoga seluruh pengurus NU di semua tingkatan yang benar-benar memperjuangkan NU sesuai dengan cita-cita Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari dan Muassis NU, semoga diberi kelapangan dan kekuatan untuk berjuang dan berkhitmad dengan tulus ikhlas. Dan siapa pun yang berniat memanipulasi cita-cita Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari dan Muassis NU semoga mendapat keadilan dari Allah Subhanahu wata'ala.

Biografi KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy

Beliau lahir pada 25 Januari 1980 di Desa Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, adalah ulama kharismatik yang saat ini mengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Beliau merupakan putra dari KH. Dhofier Munawar dan Nyai Hj. Zainiyah As’ad, yang merupakan putri pertama dari KH. R. As’ad Syamsul Arifin, pendiri pesantren tersebut. Dengan demikian, KH. Azaim adalah cucu langsung dari KH. As’ad Syamsul Arifin.

Sejak kecil, KH. Azaim dikenal sebagai anak yang aktif dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Beliau memulai pendidikan formalnya di SD Ibrahimy Sukorejo dan lulus pada tahun 1992. Setelah itu, beliau melanjutkan ke SMP Ibrahimy Sukorejo. Namun, merasa kurang nyaman dengan perlakuan istimewa dari para guru karena status keluarganya, beliau memutuskan untuk pindah ke SMP Nurul Jadid Paiton pada tahun 1994 dan menyelesaikan pendidikan menengahnya di sana pada tahun 1995.

Setelah lulus SMP, KH. Azaim melanjutkan pendidikannya di Madrasah Aliyah Khusus (MAK) Nurul Jadid Paiton hingga tahun 1998. Beliau kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya ke beberapa pesantren terkemuka di Indonesia, antara lain:

Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an Singosari pada tahun 1998-1999.

Pondok Pesantren Al-Ishlah Kampung Saditon Lasem.

Pesantren Sidogiri Pasuruan.

Pesantren Siwalan Sidoarjo.

Pesantren Nurul Haromain Pujon, Malang.

Pada tahun 2003, KH. Azaim melanjutkan studinya ke Mekkah dan berguru kepada ulama besar seperti Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Makki dan Sayyid Ahmad bin Sayyid Muhammad Alawi. Pengalaman belajar di Mekkah memberikan pengaruh besar pada pemikiran dan pandangan keagamaannya.

Setelah kembali ke Indonesia, KH. Azaim aktif mengajar dan mengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Beliau dikenal sebagai ulama yang tawadhu dan sederhana, serta memiliki kedekatan dengan masyarakat. Selain itu, beliau juga sering diundang untuk memberikan ceramah di berbagai daerah, menyebarkan ajaran Islam yang moderat dan toleran.

Dalam kehidupan pribadinya, KH. Azaim menikah dengan Ning Sari, sesuai dengan wasiat dari kakaknya, Nyai Hj. Makkiyah As’ad. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai beberapa anak yang juga dididik dengan nilai-nilai keislaman yang kuat. Keluarga ini dikenal sebagai keluarga yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.

Silsilah keluarga KH. Azaim menunjukkan bahwa beliau berasal dari garis keturunan ulama besar. Kakeknya, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, adalah pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo dan merupakan tokoh penting dalam sejarah Islam di Indonesia. Ayahnya, KH. Dhofier Munawar, juga dikenal sebagai ulama yang berpengaruh dan berperan dalam pengembangan pesantren tersebut.

Dengan latar belakang keluarga yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam, ditambah dengan pendidikan dan pengalaman yang luas, KH. R. Ahmad Azaim Ibrahimy telah menjadi sosok ulama yang dihormati dan berpengaruh di Indonesia. Dedikasinya dalam pendidikan, dakwah, dan pengembangan masyarakat menjadikannya panutan bagi banyak orang. (@hyan elbanis) 


  • Tentang Penulis
  • youtube