Kajian Tafsir Tematik: Begini Anjuran Nabi Kalau Mendapatkan Nikmat Agar Tidak Menjadi Bencana

Yasayyidiyarasulallah | Anjuran membaca "Masya Allah, la quwwata illa billah" pada saat mendapatkan nikmat atau melihat mengagumi sesuatu yang baik, sebagai bentuk pengakuan bahwa semua kebaikan itu hakekatnya datang dari Allah subhanahu wa ta'ala, bukan dari kekuatan manusia. Tapi tahukah keutamaan apabila membaca kalimat Masya Allah, la quwwata illa billah"..?

Berikut penjelasan kajian tafsir tematiknya dari kalimat itu terambil dalam surat Al Kahfi ayat 39 dengan latar kisah tragis seorang yang diberikan nikmat lantaran sombong dan lupa daratan menjadi kufur, maka kemudian Allah subhanahu wa ta'ala mencabut nikmatnya menjadi bencana, siksaan amat pedih sebagai peringatan pelajaran untuk bersyukur atas nikmat-Nya.  

Arti dari kalimat Masya Allah la quwwata illa billah:

( مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ ) 

Dijelaskan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin dalam Kitabnya Tafsir Al Qur'anul Karim Surat Al Kahfi, beliau mendetailkan bahwa kalimat arti Masya Allah (ما شاء الله) memiliki dua makna. Hal tersebut dikarenakan kalimat “Maa syaa Allah” (ما شاء الله) bisa di-i’rab dengan dua cara di dalam bahasa Arab:

I’rab yang pertama dari “Masya Allah” (ما شاء الله) adalah dengan menjadikan kata “maa” (ما) sebagai isim maushul (kata sambung) dan kata tersebut berstatus sebagai khabar (predikat). Mubtada’ (subjek) dari kalimat tersebut adalah mubtada’ yang disembunyikan, yaitu “hadzaa” (هذا). Dengan demikian, bentuk seutuhnya dari kalimat “Maa syaa Allah” adalah :

هذا ما شاء الله

(Hadzaa maa syaa Allah

Jika demikian, maka artinya dalam bahasa Indonesia adalah:

Inilah yang dikehendaki oleh Allah”. Adapun i’rab yang kedua, kata “maa” (ما) pada “Maa syaa Allah” merupakan maa syarthiyyah (kata benda yang mengindikasikan sebab) dan frase “Syaa Allah” (شاء الله) berstatus sebagai fi’il syarath (kata kerja yang mengindikasikan sebab).

Sedangkan jawab syarath (kata benda yang mengindikasikan akibat dari sebab) dari kalimat tersebut tersembunyi, yaitu “Kaana” (كان) . Dengan demikian, bentuk seutuhnya dari kalimat “Maa syaa Allah” adalah:

ما شاء الله كان

(Maa syaa Allahu kaana

Jika demikian maka artinya dalam bahasa Indonesia adalah: “Apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi”.

Ringkasnya, “Masya Allah” bisa diterjemahkan dengan dua terjemahan, “Inilah yang diinginkan oleh Allah” atau “Apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi”. Maka ketika melihat hal yang menakjubkan, lalu kita ucapkan “Masya Allah”, artinya kita menyadari dan menetapkan bahwa hal yang menakjubkan tersebut semata-mata terjadi karena kuasa Allah.

Kalimat (Masya Allah laa quwwata illa billah) ini dalam Al Qur'an surat Al Kahfi ayat 39-41 berbunyi:

وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالا وَوَلَدًا . فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا . أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ  تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا

"Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki ke­bunmu 'Masya Allah' tidak ada kekuasaan kecuali dgn (pertolongan) Allah? Jika kamu anggap aku lebih kurang dari­pada kamu dalam hal harta dan anak, maka mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari­pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ke­tentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yg licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.". 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan kitab kitab tafsir lainya didapati penjelasan ayat tersebut, misalnya di tafsir Kemenag juga menyebutkan ayat ini bercerita tentang nasihat (Yahuza) seorang pemilik kebun kepada temannya yang sama-sama mempunyai kebun, yaitu (Qurthus) namun ia kafir. Saat masuk ke kebunnya, dengan penuh kesombongan Qurthus pemilik kebun yang kafir ini mengatakan, “Menurutku, kebun ini akan abadi. Dan kiamat itu tidak akan terjadi. Kalau pun aku diambil oleh Tuhanku, aku pasti akan dapat tempat tinggal yang lebih baik dari ini.”

Mendengar ucapan itu, sang pemilik kebun Yahuza yang mukmin menasihati temannya itu, “Apa kamu berani ingkar kepada Tuhan yang menciptakan kamu dari tanah dan setetes air mani, kemudian kamu menjadi laki-laki yang matang?!” . (Percakapan mereka ada di surah Al-Kahfi, ayat 35 – 38). Kemudian, pemilik kebun yang mukmin itu melanjutkan nasihat yang terekam pada ayat 39 surah Al-Kahfi diatas.

Bila dilihat dari latar belakang munculnya nasihat itu, yaitu di saat menegur saudaranya yang sombong atau takjub melihat kebunnya yang indah dan menawan, maka ucapan “Masya Allah” dituntunkan untuk diucapkan pada saat melihat hal-hal yang menakjubkan, baik pada rezeki kita atau milik orang lain.

Yahuza kepada saudaranya yang kafir itu bahwa dia tidak sependapat dengannya. Dia berkeyakinan tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah yang memelihara makhluk, Yang Maha Esa, dan Maha Kuasa. Yahuza juga mengatakan bahwa dia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Pendirian saudaranya bahwa Allah tidak kuasa membangkitkannya dari kubur sama sekali tidak dapat diterima Yahuza karena menganggap Allah lemah dan sama dengan makhluk.

Hal demikian, menurutnya, sama dengan syirik. Sikap Yahuza yang tegas di hadapan saudaranya yang kaya itu sangat terpuji, meskipun dia dalam keadaan fakir yang berkedudukan sebagai seorang yang meminta pekerjaan, namun dengan penuh keberanian, dia menyatakan perbedaan identitas (hakikat) pribadinya, yaitu perbedaan yang menyangkut akidah atau keimanan kepada Tuhan.

Yahuza meneruskan kata-katanya kepada Qurthus, “Seharusnya kamu mengucapkan syukur kepada Allah ketika memasuki kebun-kebunmu dan merasakan kagum terhadap keindahannya. Mengapa kamu tidak mengucapkan pujian kepada Allah atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu, berupa harta dan anak yang banyak yang belum pernah diberikan-Nya kepada orang lain.”

“Katakanlah “Masya Allah” ketika itu, sebagai tanda pengakuan atas kelemahanmu di hadapan-Nya, dan bahwa segala yang ada itu tidak mungkin terwujud tanpa izin dan kemurahan-Nya. Di tangan-Nya nasib kebun-kebun itu, disuburkan menurut kehendak-Nya ataupun dihancurkan menurut kehendak-Nya pula. Mengapa kamu tidak mengucapkan la quwwata illa billahi (tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) sebagai tanda pengakuan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat memakmurkan dan mengurusnya kecuali dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala. 

Harapan Yahuza yang mukmin itu, agar Allah memperlihat-kan kekuasaan-Nya secara nyata kepada orang yang kafir dan sombong itu. Dengan turunnya hukuman itu, baik berupa bencana dari langit ataupun dari bumi, manusia yang kafir itu bisa menjadi sadar.

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa apa yang diharapkan (Yahuza) akan segera menjadi kenyataan. Allah subhanahu wa ta'ala kemudian membinasakan segala harta kekayaan Qurthus. Tadinya ia mengatakan dengan penuh kesombongan bahwa kebun-kebunnya tidak akan binasa selama-lamanya.

Tetapi setelah dia menyaksikan kehancuran harta kekayaannya, timbullah kesedihan dan penyesalan yang mendalam, sambil membolak-balikkan dua telapak tangannya sebagai tanda menyesal terhadap lenyapnya segala biaya yang dibelanjakannya untuk membangun kebun-kebunnya selama ini. Semua tanaman dan pohon anggur yang ada dalam kebun itu runtuh bersama penyangganya.

Pada saat kesedihannya memuncak, dia teringat kepada nasihat dan ajaran saudaranya, sehingga ia mengerti bahwa bencana itu datang karena kemusyrikan dan kezalimannya terhadap diri sendiri. Lalu keluarlah kata-kata penyesalan dari mulutnya, “Aduhai, kiranya aku beriman dan bersyukur, tentulah Tuhan tidak akan menghancurkan kebun-kebunku.”

Kata-kata penyesalan yang demikian lahir dari seorang yang sudah berada dalam kesulitan besar yang tak terelakkan lagi. Semua orang bila terjepit dan berada dalam bencana, dia mengeluh dan dari mulutnya keluar kata-kata yang mencerminkan penyesalannya yang mendalam. Sedangkan jika tidak terjepit atau tidak dalam kesengsaraan, dia tidak akan mengeluarkan kata-kata demikian.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

فَلَمَّا رَاَوْا بَأْسَنَاۗ قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهٖ مُشْرِكِيْنَ 

"Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, ”Kami hanya beriman kepada Allah saja dan kami ingkar kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.” (al-Mu’min/40: 84).

Pada ayat ini juga mengandung pelajaran tentang dzikir yang baik diamalkan diajarkan oleh Nabi Muhammad sholallahu 'alaihi wasalam mengajarkannya sebagaimana hadis berikut ini:

يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوْزِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلى يَا رَسُوْلَ الله، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Artinya: Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu suatu simpanan dari berbagai simpanan surga? Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah. Kemudian beliau bersabda: La haula wala quwwata illa billah. (HR al-Bukhari). (Majduddin al-Jaziri, Jâmi’ul Ushûl fî Ahâdîstir Rasûl, [Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 1972], juz IV, halaman: 176).

Imam Nawawi berkata:

قَالَ النَّوَوِيُّ هِيَ كَلِمَةُ اسْتِسْلَامٍ وَتَفْوِيْضٍ، وَأَنَّ الْعَبْدَ لَا يَمْلِكُ مِنْ أَمْرِهِ شَيْئًا، وَلَيْسَ لَهُ حِيْلَةٌ فِي دَفْعِ شَرٍّ وَلَا قُوَّةَ فِي جَلْبِ خَيْرٍ إِلَّا بِإِرَادَةِ اللهِ

Artinya: Imam an-Nawawi berkata: Kalimat la haula wala quwwata illa billah atau hauqalah adalah kalimat yang penuh kepatuhan dan kepasrahan diri (kepada Allah), dan sungguh seorang hamba tidak memiliki urusannya sedikit pun, tidak ia tidak memiliki daya untuk menolak keburukan dan tidak memiliki kekuatan untuk menarik kebaikan, kecuali dengan kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. (Abul ‘Ala Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwâdzi bi Syarhi Jâmi’it Tirmidzi, [Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 2000], juz IX, halaman: 301).

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis:

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عِيسَى، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانة، عَنْ أَبِي بَلَج، عَنْ عَمْرو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: قَالَ لِي نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ تَحْتَ الْعَرْشِ؟ ". قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي. قَالَ: "أَنْ تَقُولَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" قَالَ أَبُو بَلْج: وَأَحْسَبُ أَنَّهُ قَالَ: "فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: أَسْلَمَ عَبْدِي وَاسْتَسْلَمَ". قَالَ: فَقُلْتُ لِعَمْرٍو -قَالَ أَبُو بَلْج: قَالَ عَمْرو: قُلْتُ لِأَبِي هُرَيْرَةَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ؟ فَقَالَ: لَا إِنَّهَا فِي سُورَةِ الْكَهْفِ: {وَلَوْلا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ}

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bukair ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Balkh, dari Amr ibnu Maimun yang mengatakan, "Abu Hurairah pernah menga­takan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya, 'Hai Abu Hurairah, maukah aku tunjukkan kamu kepada sesuatu dari perbendaha­raan surga di bawah 'Arasy?'." Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa ia menjawab, "Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. bersabda: Hendaklah kamu ucapkan, "Tidak ada kekuatan kecuali de­ngan pertolongan Allah.” Abu Balkh mengatakan, ia menduga bahwa Amr ibnu Maimun mengata­kan, "Maka sesungguhnya Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah Islam dan berserah diri'." Abu Balkh menceritakan apa yang dikatakan oleh Amr kepada Abu Hurairah seraya bertanya kepadanya, bahwa apakah ucapan yang dimaksud adalah kalimah 'La Haula Wala Quwwata lila Billah' (Tidak ada upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)? Abu Hurairah menjawab bahwa bukan itu kalimat yang dimak­sud, melainkan yang terdapat di dalam surat Al-Kahfi, yaitu firman-Nya: Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu 'Masya Allah' tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah?. (Al-Kahfi: 39).

Dalam hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lainnya juga banyak dinukil Tafsir Ibnu Katsir terkait penjelasan ayat-ayat surat al Kahfi, beliau Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mengajarkan kepada umatnya sewaktu mendapat nikmat dari Allah supaya dia mengucapkan bacaan kalimat ini seperti sabdanya:

مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فِى أَهْلٍ أَوْ مَالٍ أَوْ وَلَدٍ فَيَقُوْلُ مَا شَاءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، إِلاَّ دَفَعَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ كُلَّ آفَةٍ حَتَّى تَأْتِيَهُ مَنِيَّتُهُ وَقَرَأَ وَلَوْلاَ إِذَ دَخَلْتَ، إلخ. (رواه البيهقي وابن مردويه عن أنس)

"Setiap Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kepada seorang hamba nikmat pada keluarga, harta, atau anak lalu dia mengucapkan “Masya Allah, la quwwata illa billah”, tentu Allah menghindarkan dia dari segala bencana sampai kematiannya, lalu Rasulullah membaca ayat 39 Surah al-Kahfi ini." (Riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Mardawaih dari Anas radhiyallahu 'anhu.). 

Pelajaran hikmah pada ayat ini membaca kalimat Masya Allah laa quwwata illa billah adalah ungkapan kelemahan seorang hamba, semua kenikmatan yang ada pada manusia semuanya berasal dari Allah azza wajalla, bukan semata hasil dari usahanya yang dilakukan.

Bukankah kisah Qarun laknatullah pada zaman Nabi Musa 'alaihi as-salam, seorang yang kaya raya pada zamannya, akhirnya dihancurkan oleh Allah azza wa jalla sebab ia merasa bahwa apa yang dia miliki adalah murni dari hasil kerja kerasnya. Demikian juga dengan Qurthus lelaki pemilik kebun yang indah dalam ayat - ayat surat al Kahfi tersebut, akhirnya mendapatkan teguran keras dari Allah, sebab tidak menyandarkan apa yang ia miliki kepada Allah, akhirnya kebunnya hangus dihantam petir, hartanya habis dalam sekejap.

Kalimat "Masya Allah", "Laa khaula wala quwwata illa billah" dalam kitab Asrarur Rabbaniyah, Syaikh Ahmad Al-Shawi didapati do'anya Nabi Khidir 'Alaihi as-Salam dan Nabi Ilyas 'Alaihi as-Salam yang menggunakan kalimat "Masya Allah", "Laa khaula wala quwwata illa billah". Berikut do'anya :

بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إلَّا اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

'Bismillahi ma sya-allah la yasuqul khoiro illallah bismillahi ma sya-allah la yashrifus su-a illallah bismillah ma sya-allah ma kana min ni’matin fa minallah bismillah ma sya-allah la hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim."

"Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang menyingkirkan keburukan kecuali Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada kenikmatan melainkan dari Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tiada daya untuk berbuat kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah dan tiada kekuatan untuk menghindar dari perbuatan maksiat kecuali dengan perlindungan Allah yang maha tinggi dan maha agung."

Syaikh Ahmad Al-Shawi menjelaskan kedua nabi ini masih hidup sampai sekarang Nabi Khidir 'alaihi as-salam hidup di laut sementara Nabi Ilyas 'alaihi as-salam hidup di daratan dan gunung. Mereka berdua setiap tahun bertemu di Mina dan ketika hendak berpisah, mereka membaca do'a tersebut.

Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wa Al-Nihayah menyebutkan bahwa Ibnu Abbas rhodiyallahu 'anhu berkata;

من قالهن حين يصبح وحين يمسي ثلاث مرات، آمنه الله من الغرق والحق والسرق 

"Barangsiapa membaca doa di atas ketika pagi dan sore sebanyak tiga kali, maka Allah menyelamatkannya dari tenggelam, kebakaran dan pencurian". Insya Allah senantiasa terjaga keselamatannya. Wallahu 'a'lam bi as-showab

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin" . 

(@hyan elbanis)


  • Tentang Penulis
  • youtube