Kajian Tafsir Tematik: Ketika Usman bin Affan Amalkan Do'a Nabi Shollallahu 'Alaihi Wasallam Lenyapkan Kesusahan

Yasayyidiyarasulallah | Suatu hari sahabat Sa'ad bin Abi Waqosh melaporkan Usman Bin Affan radhiyallahu 'anhu kepada Khalifah Umar Bin Khattab radhiyallahu 'anhum. Ketiganya adalah sahabat Nabi Muhammad shalallahu a'laihi wasalam yang terdepan, beliau - beliau saling mengasihi satu sama lain dalam persaudaraan sesama muslim. 

Usman Bin Affan radhiyallahu 'anhu yang terkenal dermawan kaya raya itu diadukan lantaran tidak menjawab salam yang diucapkan Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu. 

Mendengar itu kemudian Umar pun klarifikasi Usman, "Wahai sahabatku benarkah yang dikatakan Sa'ad itu kenapa engkau tidak menjawab salamnya?". Usman pun menimpali aku tidak mendengar salamnya seraya istighfar dan mencoba menjelaskan beliau tidak mendengar salam sahabatnya itu.

Dua sahabatnya lalu menyadari dan mendengarkan baik-baik apa yang menyebabkan tidak menjawab salam. Usman pun melanjutkan saat dirinya tidak mendengar karena merenung mengingat-ingat Do'a yang bila dipanjatkan pasti akan terkabul, beliau menceritakan kepada Umar dan Sa'ad saat itu hatinya tertutup dengan sesuatu urusan lain sehingga kira - kira belum sempat fokus. 

Maka saat termenung mengingat-ingat do'a yang diajarkan Nabi Muhammad Shalallahu'Alaihi wa sallam itu datanglah Sa'ad mengucapkan salam tapi beliau tidak mendengarnya. 

Imam Ahmad bin Hambal dalam haditsnya melanjutkan kisah ini, kemudian Usman mengatakan kepada Umar bahwa Do'a itu adalah Do'a Nabi Yunus 'alaihi as-Salam yang dalam gelap perut ikan, beliau berdo'a sungguh benar Do'a yang diajarkan Nabi Muhammad Shalallahu'Alaihi wa sallam itu lanjut Usman kepada Umar, segala kesusahan apapun kesulitan  akan lenyap berganti kebahagiaan apabila dipanjatkan dibiasakan membacanya.

Do'a Nabi Yunus 'alaihi as-salam ini diabadikan dalam Al Qur'an surat Al Anbiya' ayat 87:

لَاإِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimin",

Artinya: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." 

Imam Bukhari meriwayatkan, Nabi Muhammad Shalallahu'Alaihi wa sallam secara khusus menyebutkan, "Seandainya saudaraku Yunus bin Matta tidak berdo'a, "Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimin", niscaya akan tetap berada di perut ikan sampai datangnya hari kiamat".

Do'a Nabi Yunus menggetarkan langit penghuninya yaitu para Malaikat saling mendengar, hingga kemudian Allah Subhanahu Wata'ala mengeluarkannya dari perut ikan. Do'a ini banyak keistimewaan dan sangat baik untuk kita biasakan membaca setiap hari misal seusai sholat lima waktu ataupun di saat sholat sunnah. 

Kisah Nabi Yunus bin Mata ’alaihi as-salam adalah diantara utusan Allah subhanahu wa ta'ala dari kalangan bani Israil. Dia diutus untuk 100 ribu orang sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur'an :

وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَى مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ

Kami utus Yunus kepada seratus ribu orang atau lebih.” (QS. as-Shaffat: 147).

Selama tiga puluh tahun berdakwah Nabi Yunus 'alaihi as-salam ditentang kaummnya, mereka menolak beriman kepada Allah ta'ala dan mengingkarinya. Hanya dua orang saja dari mereka yang beriman. Para ahli tafsir mengatakan ketika itu beliau berdakwah di Kampung Ninawa, Mosul, Irak. Mereka lebih memilih tetap menyembah berhala dengan alasan karena Nabi Yunus bukan berasal dari kaum mereka. Akhirnya beliau pun berputus asa karena kecil sekali kemungkinan mereka mau beriman, sehingga beliau berdoa untuk kebinasaan mereka. (Lihat Al-Kamil fii Tarikh, 1: 208-209).

Mereka tidak dapat menerima ajaran Nabi Yunus 'alaihi as-salam karena dianggap orang asing yang bukan dari keturunan mereka. Beliau pun mengingatkan kaum Ninawa untuk segera bertobat karena akan datang azab jika mereka tidak segera bertobat. Namun kaummya tidak menggubrisnya sehingga beliau tinggalkan mereka, hijrah ke daerah lain dalam keadaan marah, sebelum ada perintah dari Allah ta’ala untuk hijrah.

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah” (QS. Al-Anbiya: 87).

Dalam perjalanannya, Nabi Yunus 'alaihi as-salam menaiki perahu. Namun karena kelebihan penumpang, membuat perahu itu terancam tenggelam. Merekapun membuat kesepakatan, salah satu harus keluar dari kapal. Penentuan siapa yang keluar, dilakukan dengan undian,

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ. فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ

Sesungguhnya Yunus termasuk para rasul Allah. (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan,  Kemudian dia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian". (QS. As-Shaffat: 139 – 141) .

Sebagian ahli sejarah mengatakan, beliau ditelan ikan persis setelah beliau jatuh ke laut. Sehingga peristiwa itu dilihat oleh para penumpang kapal. Beliau ditelan dan dibawa masuk ke dasar laut. 

Dalam suasana kegelapan didalam perut ikan laut beliau menyesal bertobat atas tindakan tanpa perintah Allah subhanahu wa ta'ala meninggalkan kaummya. Dia pun bertasbih do'a dengan penuh taubat:

Kemudian Allah Ta’ala berfirman,

فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Maka, ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan, selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’” (QS. Al-Anbiya’: 87)

Saat di dalam perut ikan yang sangat gelap, Nabi Yunus pun bertobat kepada Allah atas kesalahannya. Beliau ketika itu dihukum Allah berada dalam tiga kegelapan sekaligus: 1) gelapnya dalam perut ikan, 2) gelapnya dasar lautan, dan 3) gelapnya malam. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir,  5: 367).

Maka, Allah menerima tobat beliau dan menyelamatkannya dari perut ikan paus. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

Maka, Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 88)

Dalam firman-Nya yang lain,

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ. لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Maka, kalau sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit (kiamat).” (QS. Ash-Shaffat: 143-144).

فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ

Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.” (QS. Ash-Shaffat: 145)

Ada banyak pendapat mengenai berapa lama Nabi Yunus berada dalam perut ikan paus ada yang menyebutkan tiga hari. Namun, disebutkan bahwa Nabi Yunus dimuntahkan dari perut ikan paus dalam kondisi sangat sakit. Ini menunjukkan beliau berada di sana dalam waktu yang cukup lama. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 7: 36).

Allah Ta’ala melanjutkan firman-Nya,

وَأَنْبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِنْ يَقْطِينٍ

Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.” (QS. Ash-Shaffat: 146)

Hikmah kenapa Allah memilih labu karena labu merupakan buah yang mudah dimakan dan daunnya yang besar bisa dijadikan selimut ketika dinginnya malam. Maka tatkala Nabi Yunus 'alaihi as-salam pulih dan sehat, beliau kemudian diperintahkan oleh Allah azza wa jalla untuk menuju kepada kaumnya kembali. Ketika sampai di sana, beliau terkejut karena melihat kaumnya telah beriman kepada Allah. Beliau juga memberitahukan mereka, bahwa Allah ta'ala telah menerima tobat mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

فَآمَنُوا فَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ

Lalu, mereka beriman. Karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS. Ash-Shaffat: 148)

Dalam firman-Nya yang lain,

فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ

Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98).

Nabi Yunus 'alaihi as-salam rajin bertasbih sejak dulu saat dalam kondisi normal ataupun dalam kondisi tidak kesulitan. Karena kebiasaan baik di waktu lapang, beliau mendapat pertolongan di waktu susah. Ini bagian dari janji Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Ingat Allah di saat lapang, Allah akan mengingat kita di saat kita membutuhkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan prinsip ini kepada Ibnu Abbas radhiyallahu :

تَعَرَّفْ إِلَيْهِ فِي الرَّخَاءِ، يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

”Kenali Rabmu ketika lapang, dia akan mengingatmu ketika susah.” (HR. Ahmad 2803 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Karena itulah perlu ingat, amal soleh yang kita lakukan di waktu lapang, akan menjadi penolong kita ketika sempit. Ibnul Qoyim menjelaskan,

فالأعمال تشفع لصاحبها عند الله وتذكر به إذا وقع في الشدائد قال تعالى عن ذي النون فلولا أنه كان من المسبحين للبث فى بطنه إلى يوم يبعثون

Amal soleh bisa memberikan pertolongan kepada pelakunya di sisi Allah dan menjadi sebab dia diperhatikan ketika dalam kondisi kesusahan. Allah ta’ala berfirman tentang Dzun Nun (Nabi Yunus), (yang artinya)’ Kalau sekiranya dulu dia bukan termasuk orang-orang yang banyak bertasbih,  Niscaya dia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.’ (Madarij as-Salikin, 1/329).

Sudah saatnya kita tidak membiarkan setiap kesempatan yang kita miliki berlalu sia-sia. Hanya dengan modal gerakan lisan, kita bisa mendulang banyak pahala. Jadilah orang yang rajin bertasbih, kapanpun dan dimanapun.

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin".

(@hyan elbanis/risalah hati/FB) 

  • Tentang Penulis
  • youtube