Kebiasaan Nabi Tidur Malam Lebih Awal, Tidak Menyukai Begadang Agar Bisa Bangun Sholat Tahajud

Yasayyidiyarasulallah | "Begadang jangan begadang, Kalau tiada artinya, Begadang boleh saja, Kalau ada perlunya...", penggalan bait lirik " Lagu "Begadang" raja dangdut Indonesia, Rhoma Irama bernama asli Raden Haji Oma Irama yang dirilis pada tahun 1973  ini sangat populer hingga sekarang ingin mengajak agar tidak begadang untuk hal-hal yang tidak berarti.

Ya begadang telah membuat orang lupa kalau sudah melekan semalam suntuk, sholat isya' atau subuhnya jadi kelewatan atau kesiangan karena abis begadang tidurnya pagi lupa perintah wajib (fardhu) sholatnya.

Begadang boleh saja asal ada manfaatnya, tapi begadang tanpa ada hajat alias tanpa tujuan jelas dan hanya bersenang-senang janganlah, karena Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam tidak menyukainya berbicara (cangkruk'an/ngerumpi/rasan-rasan/ghibah/ghosip) setelah shalat Isya, kecuali untuk kemaslahatan atau percakapan yang baik.

عن اپى برزة أنه قال ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

"Dari Abi Barzah, beliau berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari no. 568) dan dan Muslim (647).

Hadis shahih ini juga dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah membahas waktu pengerjaan sholat lima waktu diriwayatkan secara panjang dan singkat oleh al-Bukhari (541), (547), (568), dan (599), Muslim (647), Abu Dawud (398) (4849), al-Tirmidzi (166), dan al-Nasa'i 1/246 dan 262 melalui berbagai hadis dari Abu al-Minhal, dengan hadis ini. Hadis ini juga ditemukan dalam Musnad Ahmad (19767) dan Sahih Ibn Hibban (1503).

Hadits ini bertujuan untuk menata kehidupan umat Islam sesuai dengan tuntunan Ilahi yang menjaga kewajiban agama mereka, memanfaatkan waktu mereka sebaik-baiknya, dan melindungi mereka dari hal-hal yang merugikan diri sendiri dan ibadah mereka. Hadits ini merupakan seruan untuk disiplin dan tidur awal yang bermanfaat, serta meninggalkan begadang yang berbahaya, agar umat Islam dapat bersemangat dalam menaati Allah siang dan malam.

Karenanya dengan tidur secara teratur setiap hari, seseorang akan lebih terjaga kesehatannya. Orang yang tidak pernah tidur dengan waktu yang cukup tentu akan mudah  sakit. Tidur ibarat kematian atau kebangkitan.

Imam al-Ghazali memberikan nasihatnya tentang adab tidur sebagaimana termaktub dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 434) sebagai berikut:

آداب النوم: يتطهر قبل النوم، و ينام على يمينه، ويذكرالله عز وجل حتى يأخذه النوم، ويدعو إذا استيقظ، ويحمد الله تعالى

"Adab tidur, yakni: bersuci sebelum tidur, tidur di atas sisi kanan, berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla hingga tidur, berdoa ketika bangun dan memuji Allah ta'ala".

Dalam hadis tersebut diingatkan untuk tidak begadang, tapi kalau pun mendesak setelah shalat Isya ada acara atau kegiatan positif diperbolehkan tanpa ada keberatan jika ada manfaatnya. Jika tidak ada manfaatnya, maka makruh, tetapi tidak haram, kecuali jika ucapannya sendiri haram, seperti ghibah dan gosip. 

Sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu 'Anhu juga tidak menyukai begadang, dikisahkan ketika beliau menjadi  khalifah umat islam, beliau sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang tanpa faedah setelah sholat isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”. (Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah).

Dari kisah ini menjelaskan bahwa sang khalifah sangat memperhatikan sekali tentang bahaya begadang tanpa ada manfaat sama sekali.

Pepatah Arab mengatakan: 

طابَ نَوْمُكُم طابَ يَومُكُم

Jika kita tidur dengan baik maka hari kita pun akan baik.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam syarahnya menyebutkan: Para ulama berkata: Sebab kemurkaan tidur sebelum waktu maghrib adalah karena tidur tersebut dapat mengakibatkan waktu maghrib terlewati, baik karena tidur lelap maupun karena waktu yang lebih utama dan lebih utama, sehingga manusia tidak bersikap lunak terhadap hal itu dan tidur melewati shalat maghrib berjamaah.

Alasan dibencinya berbincang setelah salat Isya adalah karena hal itu menyebabkan begadang, dan dikhawatirkan tidur akan mengganggu kemampuan seseorang untuk melaksanakan salat Isya, berdzikir kepada Allah di dalamnya, atau salat Subuh pada waktu yang dibolehkan, diutamakan, atau paling baik. Bergadang juga menyebabkan kemalasan di siang hari, sehingga menghambat kewajiban agama, ibadah, dan urusan duniawi. Para ulama berkata:

"Berbincang yang dibenci setelah salat Isya adalah yang tidak bermanfaat. Akan tetapi, pembicaraan yang bermanfaat dan baik tidaklah dibenci. Ini termasuk menuntut ilmu, menceritakan kisah orang-orang saleh, berbincang dengan tamu atau pengantin untuk menjalin silaturahmi, seorang laki-laki berbincang dengan keluarga dan anak-anaknya untuk kasih sayang dan karena kebutuhan, musafir berbincang untuk menjaga harta benda atau diri mereka sendiri, membahas perdamaian antar manusia, memberi syafaat bagi mereka dalam hal-hal yang baik, amar ma'ruf nahi munkar, memberi petunjuk kepada yang bermanfaat, dan semisalnya.

" Semua ini tidak dibenci, dan hadis-hadis shahih telah diriwayatkan mengenai sebagiannya, dan sisanya memiliki makna yang serupa... Lebih lanjut, keengganan berbicara setelah salat Isya mengacu pada setelah salat Isya, bukan setelah masuk waktu salat Isya. Para ulama sepakat tentang keengganan berbicara setelahnya, kecuali yang baik, sebagaimana telah kami sebutkan.

Beliau berkata dalam bukunya Al-Adhkar (hal. 533): (Adapun hadits-hadits yang membolehkan berbicara untuk hal-hal yang saya sebutkan, maka jumlahnya banyak. Di antaranya adalah hadits Ibnu Umar dalam dua Shahih-nya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan salat Isya di akhir hayatnya. Setelah selesai, beliau bersabda, “Apakah engkau melihat malammu ini? Karena setelah seratus tahun, tidak akan tersisa satu pun dari mereka yang ada di muka bumi ini.”)

Di antaranya adalah hadis Abu Musa al-Asy’ari dalam Shahih-shahih mereka: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda salat hingga malam tiba, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan mengimami mereka. Setelah selesai salat, beliau berkata kepada mereka yang hadir: ‘Tenanglah, aku akan mengabarkan kepadamu, dan bergembiralah, karena merupakan suatu berkah dari Allah atasmu bahwa tidak ada seorang pun di antara manusia yang salat pada waktu ini kecuali kamu.’ Atau beliau berkata: ‘Tidak ada seorang pun yang salat pada waktu ini kecuali kamu."

Makna dari: (Dia menunda salat hingga hampir berakhir malam) adalah: Dia menunda salat Isya hingga hampir tengah malam.

Orang yang tidur sering kali kehilangan kendali atas keinginannya;  Ia mungkin menemukan dirinya dalam situasi yang tidak diinginkannya, atau mengatakan sesuatu yang tidak ingin diungkapkannya, atau bermimpi yang disukainya dan tidak disukainya. Inilah sebabnya mengapa perintah untuk mencuci tangan setelah bangun diberikan, sebagaimana Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

Artinya; “Ketika salah seorang di antara kalian bangun dari tidur, janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana sebelum ia mencucinya tiga kali, karena salah seorang di antara kalian tidak tahu di mana tangannya berada di malam hari.” Oleh karena itu, tidur membatalkan wudhu. Sungguh, tidur adalah semacam pemenuhan, sebagaimana Allah subhahu wata'ala berfirman: "Dan Dialah yang memegang jiwamu di malam hari," (Al-An'am: 60).

Ketika seseorang bangun, ia memuji Allah subhanahu wata'ala atas kehidupan yang baru, sebagaimana Nabi shollallahu 'alaihi wasallam menganjurkan do'a bangun tidur sebagaimana sabda Nabi shollallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Huzaifah bin Alyaman, dia bercerita;

وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun tidur, beliau membaca; ‘Alhamdulillahilladzi ahyana ba’dama amatana wa ilaihin nusyur’. (Segala puji bagi Allah yang menghidupkanku dan mematikanku dan kepadaNya dikembalikan).”

Tidur malam lebih bermanfaat bagi tubuh, dan awal malam lebih baik daripada akhirnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur di awal malam dan bangun di akhir malam. Demikian pula dengan orang-orang saleh, baik yang lalu maupun yang sekarang, bangun di akhir malam, sebagaimana Allah subhanahu wata'ala berfirman: 

"Mereka hanya tidur sedikit di malam hari," (Adh-Dhariyat: 17). Allah subhanahu wata'ala telah menetapkan siang untuk mencari rezeki dan bekerja, dan malam untuk istirahat dan privasi. Dia berfirman: "Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam untuk pakaian, dan Kami jadikan siang untuk penghidupan," (An-Naba: 11).

Sebagian anak muda zaman ini telah mengubah pola tidur alami, tidur di siang hari dan begadang di malam hari. Akibatnya, produktivitas mereka menurun, dan keberkahan dari banyak usaha mereka pun berkurang. Keberkahan bekerja terletak pada bangun pagi, sebagaimana do'anya untuk umatnya diriwayatkan Imam Abu Daud (hadis no. 2606) : 

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”

Selain membaca doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membaca sepuluh ayat terakhir dari surah Ali Imran, yaitu ayat 190-200. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Abbas, dia berkata;

اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ الْآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun tidur kemudian duduk sambil wajahnya dengan tangannya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah sepuluh ayat terakhir dari Ali Imran". Diantaranya ayat - ayat tersebut berikut ini;

*  اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ ۚۖ‏ * الَّذِيۡنَ يَذۡكُرُوۡنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوۡدًا وَّعَلٰى جُنُوۡبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُوۡنَ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ​ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ‏ * رَبَّنَاۤ اِنَّكَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَيۡتَهٗ ​ؕ وَمَا لِلظّٰلِمِيۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ‏ * رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيًا يُّنَادِىۡ لِلۡاِيۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّكُمۡ فَاٰمَنَّا  ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَكَفِّرۡ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ​ۚ‏ * رَبَّنَا وَاٰتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخۡزِنَا يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ ​ؕ اِنَّكَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِيۡعَادَ‏ *

Dengan demikian ringkas penjelasan tersebut pentingnya tidur di awal malam untuk bisa bangun akhir malam, supaya bisa mengerjakan sholat tahajud karena itu sunnah Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasalam, jangan lupa pula menjelang tidur ambil berwudhu dan berdo'a kemudian apabila bangun juga biasakan berdo'a seperti halnya sunnah yang dicontohkan Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. 
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي مَحْيَايَ وَمَمَاتِي ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي يَوْمِ أَمُوتُ وَيَوْمِ أُبْعَثُ حَيًّا ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ  مِنْ يَوْمِ خَلَقْتَ الدُّنْيَا إِلَى يَوْمِ ٱلْحِسَابِ ، وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً كَثِيراً ، وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ**

"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi mahyaya wa mamati, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi amutu wa yaumi ub'atsu hayya, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi kholaqtaddunya ila yaumil hisab, wa 'ala alihi washohbihi wasallam tasliman katsiro, walhamdulillahi rabbil 'alamin"

"Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dalam hidupku dan matiku, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad sejak hari Engkau menciptakan dunia sampai Hari Pembalasan (kiamat) dan atas keluarganya dan para sahabatnya, semoga kesejahteraan senantiasa Engkau limpahkan kepada mereka. Dan segala puji bagiMu Allah, Tuhan semesta alam".

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

(@hyan elbanis)

  • Tentang Penulis
  • youtube