Ketika Rasulullah Membaca Ayat Tentang Perkataan Nabi Ibrahim dan Isa, Beliau Menangis Memikirkan Nasib Keselamatan Umatnya

Yasayyidiyarasulallah | Kelak di Hari Kiamat, saat seluruh manusia diliputi ketakutan yang amat dahsyat, para nabi dan rasul lain hanya sempat memikirkan diri mereka sendiri seraya berkata, “nafsī, nafsī” (diriku, diriku). Namun Muhammad Rasulullah shollalahu 'alaihi wasallam tampil berbeda. Beliau tidak berkata untuk dirinya, melainkan menyerukan dengan penuh kasih sayang dan cinta: “ummatī, ummatī” (umatku, umatku). 

Beliau Nabi Muhammad shollalahu 'alaihi wasalam sangat memperhatikan keselamatan umatnya, beliau tidak memasuki surga sebelum semua umatnya disyafa'atinya atas izin Allah azza wajalla. Bahkan beliapun sangat merindukan umatnya yang beriman kepadanya tapi tidak pernah tahu berjumpa dengannya.

Bayangkan, beliau menangis karena rindu kepada kita yang hidup berabad-abad setelah beliau wafat. Rasulullah shollalahu 'alaihi wasalam tidak hanya memikirkan sahabatnya yang setia, tetapi juga generasi yang bahkan belum lahir. Tangis beliau adalah bukti cinta yang melintasi ruang dan waktu.

Kasih sayang beliau Nabi Muhammad shollalahu 'alaihi wasalam, manusia pilihan Allah yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam kepada umatnya menjadi bukti paling indah sepanjang zaman, ini terangkum dalam Surah at-Taubah ayat 128 :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin".

Ayat ini juga memberitahukan tentang sosok Rasulullah shollalahu 'alaihi wasalam yang sangat luar biasa, seorang manusia yang hatinya larut dalam penderitaan umat, yang setiap detiknya menginginkan keselamatan mereka, dan yang diberi anugerah dua sifat agung Allah sendiri—ra'uf (sangat penyantun) dan raḥim (sangat penyayang). 

Namun sungguh menyedihkan, jika kita yang menjadi alasan Rasulullah shollalahu 'alaihi wasalam menangis, justru abai terhadap ajarannya. Kita sibuk mengejar dunia, melupakan sunnahnya, bahkan meremehkan shalat. Rasulullah shollalahu 'alaihi wasalam yang hatinya penuh kasih justru akan merintih pilu ketika melihat bagaimana umatnya saling membenci, terpecah belah, dan jauh dari nilai Islam yang beliau ajarkan.

Tak sedikit orang yang hari ini mengaku mencintai Rasulullah shollalahu 'alaihi wasalam, tetapi tak pernah mencontoh perbuatannya. Bahkan ketika namanya disebut, hati tak bergetar, lisan tak bersholawat. Padahal beliau adalah sosok yang setiap malam bersimpuh kepada Allah, berdo'a agar umatnya tidak dimasukkan ke dalam neraka. Beliau rela menanggung kesakitan dunia agar kita selamat di akhirat. Dan tetap saja, Rasulullah shollalahu 'alaihi wasalam menangis.

Diceritakan dalam suatu riwayat, Beliau sampai meneteskan air mata karena memikirkan keselamatan umatnya.

Kisah ini diceritakan dalam hadits shahih Muslim dari Abdullah bin 'Amru bin Ash. Ia mengisahkan, ketika Rasulullah Shollalahu 'Alaihi Wasalam membaca ayat Al-Qur'an yang menceritakan tentang perkataannya Nabi Ibrahim dan Nabi Isa 'alaihuma as-salam.

رَبِّ اِنَّهُنَّ اَضْلَلْنَ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِۚ فَمَنْ تَبِعَنِيْ فَاِنَّهٗ مِنِّيْۚ وَمَنْ عَصَانِيْ فَاِنَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka (berhala-berhala itu) telah menyesatkan banyak manusia. Maka, siapa yang mengikutiku, sesungguhnya dia termasuk golonganku. Siapa yang mendurhakaiku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ibrahim:
36)

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚوَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

"Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS Al Maidah: 118)

Rasulullah Shollalahu 'Alaihi Wasalam pun berkata, "Ya Allah, Umatku! Umatku!"

Kemudian, Rasulullah Shollalahu 'Alaihi Wasalam pun menangis. Lalu Allah Subhanahu Wa Ta'ala berkata, "Wahai Jibril, pergilah kamu kepada Muhammad dan ketahuilah bahwa Tuhanmu Mahatahu. Bertanyalah kamu kepada Muhammad, apa yang menyebabkan dia menangis?"

Maka Jibril mendatangi Nabi Muhammad Shollalahu 'Alaihi Wasalam dan bertanya kepadanya apa yang membuatnya menangis. Kemudian, Nabi Shollalahu 'Alaihi Wasalam menjawab, bahwa dirinya sangat mengkhawatirkan umatnya kelak di akhirat nanti.

Setelah itu, Malaikat Jibril 'alaihi as-salam menyampaikan apa yang telah dikatakan Nabi Shollalahu 'Alaihi Wasalam kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Maka Allah azza wajalla pun perintahkan Jibril: "Wahai Jibril, pergilah kamu kepada Muhammad dan katakanlah kepadanya kata-kata ini: sungguh, Aku (Allah) akan memberikan syafaat kepada umatmu dan Aku tidak akan menelantarkanmu."

Sebagaimana firman-Nya:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ ٥

"Sungguh, kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida." (QS Ad Dhuha: 5).

Rasulullah Shollalahu 'Alaihi Wasalam saat diberikan pilihan oleh Allah azza wajalla, antara memilih separuh umatnya masuk surga dengan syafa'at, maka Rasulullah Shollalahu 'Alaihi Wasalam memilih syafa'at. Sebab cakupan syafa'at lebih luas dan menjadi hak setiap muslim yang beriman.

Bahkan, ketika nabi dan rasul lain menggunakan do'a mustajabnya untuk di dunia, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam lebih mempersiapkan do'a mustajabnya untuk khusus mensyafa'ati umatnya. Sebagaimana dalam hadits berikut:

لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُو بِهَا، وَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي فِي الآخِرَةِ

Artinya, "Setiap nabi memiliki doa mustajab yang dapat dipergunakannya. Namun, aku ingin menyimpan doa (mustajab)-ku untuk memberi syafaat kepada umatku di akhirat," (HR Al-Bukhari).

Do'a beliau disimpan untuk syafa'ati umatnya. Beliau pernah megungkapkan rasa rindunya kepada kita semuanya yang beliau sampaikan kepada para sahabatnya. Sebagaimana hadits melalui Anas Ibn Malik, Rasulullah ﷺ menyampaikan:

وَدِدْتُ أَنِّى لَقِيتُ إِخْوَانِى. قَالَ فَقَالَ أَصْحَابُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَوَلَيْسَ نَحْنُ إِخْوَانَكَ قَالَ : أَنْتُمْ أَصْحَابِى وَلَكِنْ إِخْوَانِى الَّذِينَ آمَنُوا بِى وَلَمْ يَرَوْنِى.

"Aku rindu ingin sekali berjumpa dengan saudara-saudaraku, para shahabat nabi radliyallahu ‘anhum berkata: “Bukankah kami saudara-saudaramu? Beliau menjawab: “Kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah orang-orang yang beriman kepadaku walaupun mereka belum pernah berjumpa denganku.” (H.R. Imam Ahmad dalam musnadnya, Jilid: 20/37).

Beruntunglah orang yang dirindukan sosok yang Mulia, semoga kecintaan kita dan kerinduan kita semuanya, sebagaimana kerinduan beliau kepada kita dan kita diberikan kenikmatan bisa berkumpul dengannya. Sebagaimana sabdanya dari Abu Musa al-Asy’ari:

الْمَرْء مَعَ مَنْ أَحَبَّ

"Kelak seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai". (H.R. Imam Tirmidzi dalam sunannya, Jilid: 22/144).**

اللَّهُمَّ  اِنِّي آمَنْتُ بِسَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم نَبِياًّ ، فَاغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِّي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

"Allahumma inni amantu bi sayyidina Muhammadin shallallahu 'alaihi wasallam nabiyya, faghfirli warhamni wa liwalidayya wa lilmuslina, wa anta khoirur rohimin".

Ya Rasullallah kami sangat rindu denganmu, hati kami bergetar bila disebut namamu, kami hanya bisa berdo’a semoga kelak kami bisa berkumpul bersamamu di tempat yang paling indah surga yang telah Allah azza  wajalla janjikan kepadamu. “Allahumma Sholli ‘Ala Sayyida Muhammad Wa ‘Ala Aali Sayyidina Muhammad. 

مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا ، عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ ، هـُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِىْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ لِكُلِّ هـَوْلٍ مِنَ اْلأَهـْوَالِ مُقْتَحِمِ ، يَا رَبِّ بالْمُصْطَفٰى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا ، وَاغْفِرْ لَنَا مامضی ، يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

"Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat ta'dhim serta keselamatan atas (Muhammad) kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk. Ya Tuhanku, limpahkanlah selalu rahmat ta'dhim serta keselamatan atas (Muhammad) kekasih-Mu yang terbaik di antara seluruh makhluk. Dialah (Muhammad) seorang kekasih yang diharapkan syafa'at nya pada setiap kejadian dari kejadian yang mengerikan. “Wahai Tuhanku, berkat al-Musthofa (Muhammad), sampaikanlah tujuan kami. Dan ampuni kami dari apa apa yang telah lalu, wahai yang Maha luas Kemurahan-Nya.”

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي مَحْيَايَ وَمَمَاتِي ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي يَوْمِ أَمُوتُ وَيَوْمِ أُبْعَثُ حَيًّا ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ  مِنْ يَوْمِ خَلَقْتَ الدُّنْيَا إِلَى يَوْمِ ٱلْحِسَابِ ، وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً كَثِيراً ، وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi mahyaya wa mamati, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi amutu wa yaumi ub'atsu hayya, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi kholaqtaddunya ila yaumil hisab, wa 'ala alihi washohbihi wasallam tasliman katsiro, walhamdulillahi rabbil 'alamin"

"Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dalam hidupku dan matiku, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad sejak hari Engkau menciptakan dunia sampai Hari Pembalasan (kiamat) dan atas keluarganya dan para sahabatnya, semoga kesejahteraan senantiasa Engkau limpahkan kepada mereka. Dan segala puji bagiMu Allah, Tuhan semesta alam".

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin".

(@hyan elbanis) 


  • Tentang Penulis
  • youtube