Kisah tragis menodai sejarah Islam dilakukan Ibnu Muljam ini oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya Dzamm al-Hawa yang ditahqiq Musthafa Abdul Wahid halaman 361, disebutkan cinta Fitham binti Syajnah berpaham Khawarij, perempuan dari bani Tamim dengan kekasihnya yang bernama Ibnu Muljam, seorang penghafal Alquran yang tega sadis dan kejam membunuh Khalifah Ali Karramallahu Wajhah.
Tepatnya setelah perang Shiffin berakhir, Ibnu Muljam mulai memberontak karena tidak sependapat dengan perjanjian yang telah disepakati oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Muawwiyah bin Abu Sufyan. Bahkan Ibnu Muljam sempat menyampaikan ketidak setujuannya tersebut dengan mengutip ayat Alquran, ia menyebutkan bahwa kesepakatan Khalifah Ali dan Muawwiyah tidak sesuai dan menyalahi syari’at Alquran dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Perbedaan pendapat ini akhirnya membuat Ibnu Muljam memutuskan untuk keluar dari barisan Khalifah Ali dan kemudian bergabung dengan kelompok Khawarij.
Saat Ibnu Muljam datang ke Kufah, ia melihat perempuan dari bani Tamim Ar-Rabbab yang bernama Fitham binti Syajnah bin Adi. Kecantikannya yang masyhur di tengah kaum muslimin berhasil merebut hatinya.
Ketika Ibnu Muljam melihatnya, dia jatuh cinta lalu melamarnya. Fitham menjawab, “Aku tidak akan menikah denganmu kecuali dengan syarat mahar 3000 dinar dan membunuh Ali bin Abi Thalib”. Syarat dari Fitham ini semakin membuat Ibnu Muljam yakin akan keputusannya membunuh Ali bin Abi Thalib untuk segera mewujudkan niat buruknya.
Syarat ini terpenuhi dan pernikahan pun dilaksanakan. Semenjak itu, Fitham selalu membakar semangat suaminya untuk merealisasikan niatnya. Bahkan ia memberi bantuan kepada Ibnu Muljam seorang lelaki yang bernama Wardan untuk mewujudkan rencana jahat itu.
Ibnu Muljan, al-Burak bin Abdillah at-Tamimi, dan Amr bin Bakr at-Tamimi bergerak melancarkan niatnya membunuh Ali, Mu’awiyyah, dan Amr bin Ash pada malam 17 Ramadhan 41 H. Hari yang sudah diputuskan oleh Ibnu Muljam. Ketiganya ini dianggap harus dibunuh karena tidak sepaham dengan Khawarij.
Ketika Ibnu Muljam berhasil memperistri dengannya, wanita ini berkata, “Hai! Kamu telah menyelesaikan (hajatmu). Pergilah!” Ia pun keluar dengan menyandang senjatanya, dan Qatham juga keluar. Lalu, Qatham memasangkan peci kepadanya di masjid. Ketika ‘Ali keluar sambil menyerukan, “Shalat! shalat!”, kemudian Ibnu Muljam mengikutinya dari belakang lalu menebasnya dengan pedang pada batok kepalanya. Dan membunuh ‘Ali dengan pedang yang tajam. Tidak ada mahar yang lebih mahal dari Ali meskipun berlebihan. Tidak ada kebengisan yang Melebihi kebengisan Ibnu Muljam.
Dia sebelum menjadi pembunuh adalah orang yang saleh, bahkan hafal Al Qur'an. Pada saat dia menusuk Khalifah Ali dengan pedangnya ia berseru: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah, bukan milikmu atau orang-orangmu (wahai ‘Ali).” Dia dengan bangganya merasa paling benar setelah menghunus pedang kepada Sayyidina Ali lantas membaca ayat:
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”. (Al Baqarah: 207).
Naudzubillahi mindzalik ayat tersebut dipakai dalih membenarkan perbuatan haram oleh pembunuh Ibnu Muljam.
Padahal ayat ini diturunkan tidak terkait dengan pembunuhan, akan tetapi asbabun nuzulnya berkenaan dengan Suwaihib bin Sinan ar-Raimi yang akan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam hijrah ke Madinah, akan tetapi orang-orang kafir Mekah melarang ia membawa kekayaannya.
Shuwahaib dengan ikhlas menyerahkan semua kekayaannya asal ia diperbolehkan hijrah ke Madinah, lalu turunlah ayat ini. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya, yakni mengorbankan kekayaannya, untuk mencari keridaan Allah. Nabi Muhammad bersabda, “Sungguh beruntung perdagangan shuwahaib.” Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman yang berjuang di jalan-Nya dan bukan untuk berperang atau menghabisi sesama umat Islam.
Ketika Khalifah Ali dipastikan wafat karena serangan Ibnu Muljam, maka diputuskanlah hukuman mati bagi Ibnu Muljam. Hukuman ini diawali dengan memotong kedua kaki dan tangannya dan menusuk dua matanya, kemudian dilanjutkan dengan membakar jasadnya. Naudzubillah mindzalik.!
Semoga Allah menjaga iman dan islam kita sampai akhir hayat menjadi husnul khatimah.
"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in bi 'adadi kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin".
(@hiyan_elbanis)
