Syekh Muhammad bin Abu Bakar dalam kitabnya al-Mawa’idz al al-Ushfuri menyebutkan penjelasan hadis ke 16 tentang keutamaan membaca surat al Ikhlas yaitu dari Sayidina Anas Bin Malik Radhiyallahu 'Anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda. :
من قرأ قل هو الله احد مرة واحدة فكانما قرأ ثلث القران ومن قرأها مرتين فكانما قرأ ثلثي القران ومن قراها ثلاث مرات فكانما قرا القران كله ومن قراها احدى عشرة مرة بنى الله تعالى له بيتا في الجنة من ياقوتة حمراء
"Barangsiapa yang membaca Surah Al-Ikhlas 1 kali, maka ia seakan-akan membaca sepertiga Al-Qur’an. Barangsiapa yang membacanya 2 kali, maka seakan-akan membaca 2/3 Al-Qur’an. Barangsiapa membacanya 3 kali, maka seakan-akan telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Dan barangsiapa yang membacanya sebanyak 11 kali, maka Allah Swt. telah menyediakan rumah untuknya yang terbuat dari permata berwarna merah".
Asbabun nuzul (sebab turunnya) surat tersebut disebutkan Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri dalam kitabnya tersebut menukil riwayat sahabat Ubay bin Ka’ab, Jabir bin Abdullah, Abu Aliyah, asy-Sya’bi, dan Ikrimah bahwa, suatu ketika orang-orang kafir Mekah sedang berkumpul, di antaranya adalah Amir bin Thufail dan Zaid bin Qais. Mereka bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: “Wahai Muhammad, beritahu kami tentang Tuhanmu, apakah terbuat dari emas, perak, besi atau tembaga? Karena tuhan-tuhan kami terbuat dari benda-benda itu.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun menjawab: “Saya adalah utusan Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyerupai sesuatupun, dan saya tidak pernah mengatakan bahwa Allah itu adalah sesuatu.” Kemudian turunlah surat al-Ikhlas :
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. (سورة الإخلاص)
Artinya: "Katakanlah, Dia (Allah) adalah Maha Esa. Allah tumpuan segala harapan. Dia tidak berketurunan dan diperanakkan. Dan tidak ada yang setara dengan-Nya". (QS. Al-Ikhlash: 1-4).
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
"Allahumma inni as'aluka bi anni asyhadu annaka antallahu laa ilaha illa anta, al ahad ash-shomad lam yalid wa lam yuukad wa lam yakul lahu kufuwan ahad"
Artinya: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu atas dasar persaksianmu bahwa Engkau adalah Allah. Tiada yang berhak disembah kecuali Engkau. Yang Mahatunggal, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta Yang tiada sesuatu yang setara dengan-Nya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,
لَقَدْ سَأَلَ اللهَ بِالاِسْمِ الأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ
“Orang itu memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang agung. Jika nama-Nya itu digunakan untuk meminta, niscaya akan diberi dan jika digunakan untuk berdoa, niscaya dikabulkan.” (HR. Abu Daud, no. 1493; Ibnu Majah, no. 3857; Tirmidzi, no. 3475; Ibnu Hibban, no. 891; Ahmad, 5:350; Ibnu Abi Syaibah, 10:271; Al-Haakim, 1:504).
Dalam do'a tersebut didapati nama-nama Allah dalam surat al Ikhlas yaitu : "Al Ahad" (Allah Maha tunggal/Maha Esa), tidak punya anak dan diperanakkan, "As-Shomad" (Allah tempat bergantung segala sesuatu).
Mengenai do'a menggunakan asmaul husna sangat dianjurkan bahkan Allah subhanahu wa ta'ala sendiri menyebutkan dalam firman-Nya:
وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Lilahi 'asma'ul husna fad'uhu biha wa dzarullaszina yulhiduna fi asma'ihi sayuzjauna ma kanu ya'malaun".
Artinya: "Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (Surat Al-Hasyr Ayat 24).
Disebutkan Allah azza wa jalla mempunyai 99 nama atau disebut asma'ul husna yaitu nama-nama indah/nama-nama terbaik milik Allah. Dari ke 99 asma'ul husna ini ada ismul a'dhom yang apabila digunakan untuk berdo'a akan cepat dikabulkan.
Ismul a'dhom adalah nama-nama Allah yang yang agung yang memiliki keistimewaan untuk mengabulkan doa ketika digunakan dalam munajat. Secara bahasa, artinya adalah "nama-nama yang teragung," sementara secara istilah, adalah nama-nama Allah yang paling agung yang dianjurkan untuk diucapkan dalam doa, para mufassir menyebutkan Ismul A'dhom yaitu al-hayyu al-qayyum (Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri), Al Rahman (Allah Maha Penyayang), Arrahim (Allah Maha Pengasih), Al Ahad, Dzul Jalali Wal Ikram (Allah Yang Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan).
Dalam surat al Ikhlas nama-nama Allah azza wa jalla itu banyak keutamaan, apabila digunakan untuk berdo'a, yaitu terutama pada saat sholat tepatnya sebelum salam dalam posisi tasyahud atau at-tahiyat membaca do'a seperti dalam hadis tersebut diatas.
Surat Al Ikhlas banyak memiliki fadhilah atau keutamaan yang sangat luar biasa, hal ini karena kandungan Surat ini menjelaskan tentang Allah azza wa jalla yang maha esa atau maha tunggal, tidak punya anak atau diperanakkan, Allah tempat segala bergantung mahluk-Nya.
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, dalam riwayat yang lainnya dikatakan, “Sesungguhnya Allah membagi Al-Qur’an menjadi tiga bagian. Lalu Allah menjadikan surah Qul huwallahu ahad (surah Al-Ikhlash) menjadi satu bagian dari 3 bagian tadi.” Lalu Al-Qadhi mengatakan bahwa Al-Maziri berkata, “Dikatakan bahwa maknanya adalah Al-Qur’an itu ada tiga bagian yaitu membicarakan (1) kisah-kisah, (2) hukum, dan (3) sifat-sifat Allah. Sedangkan surah Qul huwallahu ahad (surah Al-Ikhlash) ini berisi pembahasan mengenai sifat-sifat Allah. Oleh karena itu, surah ini disebut sepertiga Al-Qur’an dari bagian yang ada. (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, [Beirut, Dar Ihya’ut Turatsil ‘Arabiy: 1972], juz VI, halaman 94).
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) يُرَدِّدُهَا ، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ»
"Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca dengan berulang-ulang ’Qul huwallahu ahad’. Tatkala pagi hari, orang yang mendengar tadi mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut dengan nada seakan-akan merendahkan surah al Ikhlas. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surah ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, no. 6643). (Ada yang mengatakan bahwa yang mendengar tadi adalah Abu Sa’id Al-Khudri, sedangkan membaca surah tersebut adalah saudaranya Qatadah bin Nu’man)
عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ». قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ « (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ».
"Dari Abu Darda’ dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Mereka mengatakan, “Bagaimana kami bisa membaca seperti Al-Qur’an?” Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Muslim, no. 1922).
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam kitabnya (Mafatih al-Ghaib/at-Tafsir al-Kabir li Al-Qur'anul) menyebutkan bahwa terdapat sembilan belas nama lain dari surah al-Ikhlas di antaranya dengan nama Surah At-Tafrid (ketunggalan), Surah At-Tajrid (mengosongkan), Surah At-Tauhid (keesaan) dan Surah Al-Mu’awwizah (pelindung).
Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al Hasani dalam kitab Abwabul Faraj (lihat hal 186-190) menyebutkan membaca surat Al Ikhlas selain keberkahan dan keamanan, banyak manfaat atau keutamaan yang akan didapat oleh mereka yang sering bahkan istiqamah membacanya merupakan salah satu pintu terbesar solusi dari segala permasalahan. Sebagaimana dari riwayat beberapa hadis berikut ini :
Imam at-Thabrani menyebutkan keutamaan membaca surat al Ikhlas bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda;
عن جرير بن عبد الله قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ حِيْنَ يَدْخُلُ مَنْزِلَهُ نَفَتْ الفِقْرَ عَنْ أَهْلِ ذَلِكَ الْمَنْزِلِ
“Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Bersabda; barang siapa membaca Qul Huwa Allah Ahad ketika hendak masuk rumah maka penghuni rumah akan terbebas dari kefakiran”.
Kemudian orang yang istiqomah membaca surat al-Ikhlas dosanya akan dihapus. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda;
عن أنس مالك رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال : مَنْ قَرَأَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَتَيْ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ مَحَا اللهُ عَنْهُ ذُنُوْبَ خَمْسِيْنَ سَنَةٌ , إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ عَلَيْهِ دَيْنٌ
“Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu. Berkata bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, barang siapa di setiap hari membaca Qul Huwa Allah Ahad sebanyak dua ratus kali, maka Allah akan menghapus dosa-dosanya selama lima puluh tahun, kecuali memiliki tanggungan hutang”. (HR. At-Tirmidzi
Surat Al Ikhlas juga menjadi pembebas dari siksaan api neraka:
عن فيروز الديلمي خادم النبي صلى الله عليه وسلم قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ مِائَةَ مَرَّةٍ فِي الصَّلَاةِ أَوْ غَيْرِهَا كَتَبَ اللهُ لَهُ بَرَاءَةً مِنْ النَّارِ
“Fairuz al-Dailami, seorang pelayan Nabi berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, barang siapa yang membaca Qul Huwa Allah Ahad seratus kali ketika salat dan diluar salat, maka Allah akan mencatat untuknya terbebas dari siksa api neraka” (HR. Al-Thabrani).
Apabila surat al Ikhlas dibaca orang sebelum tidurnya maka kelak akan mendapatkan tempat di surga:
عن أنس بن مالك عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنَامَ عَلَى فِرَاشِهِ فَنَامَ عَلَى يَمِيْنِهِ ثُمَّ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ مِائَةَ مَرَّةٍ فَإِذَا كَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُوْلُ لَهُ الرَّبُّ عَزَّ وّجَلَّ : يَا عَبْدِيْ اُدْخُلْ عَلَى يَمِيْنِكَ الجَّنَّةَ
“Anas bin Malik berkata bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, barangsiapa yang ingin tidur di tempat tidurnya, ia tidur miring ke kanan, kemudian ia membaca Qul Huwa Allah Ahad seratus kali, maka pada saat hari kiamat Allah akan berkata kepadanya: Wahai hamba-Ku, masuklah ke Surga di tangan kananmu”. (HR. At-Tirmidzi).
Jangan lewatkan setelah setiap sholat fardhu lima waktu untuk membaca surah al-Ikhlas dijanjikan surga oleh Allah subhanahu wa ta'ala:
عن جابر بن عبد الله قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : ثَلاَثٌ منْ جَاءَ بِهِنَّ مَعَ الإِيمَانِ دَخَلَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَ، وَزُوِّجَ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ حَيْثُ شَاءَ: مَنْ عَفَا عَنْ قاتله، وَأَدَّى دَيْنًا خَفِيًّا، وَقَرَأَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ عَشْرَ مَرَّاتٍ: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحْدٌ، قَالَ : فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ : أو إِحْدَاهُنَّ يَا رَسَولَ اللهِ؟ قَالَ: أو إِحْدَاهُنَّ.
“Jabir bin ‘Abdullah berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, Tiga perkara sesiapa yang dapat melakukannya bersama iman, ia akan masuk dari mana pun pintu surga yang ia mau dan menikah dengan bidadari sebanyak yang ia kehendaki. Pertama, orang yang memaafkan pembunuhnya (sebelum ia mati). Kedua, menunaikan hutang yang tersembunyi. Ketiga, membaca Qul huwaLlahu ahad selepas setiap kali salat fardu sebanyak sepuluh kali. Lalu Abu Bakar bertanya, atau salah satu daripadanya, wahai Rasulullah? Rasul menjawab, atau salah satu daripadanya”
Keutamaan lainnya membaca Surat Al Ikhlas dalam karya Syekh Muhammad Abu Bakar (lihat hal 20), hadits ke-16 dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasalam sedang duduk di depan pintu Madinah bersama para sahabatnya. Tiba-tiba didatangkan jenazah seorang laki-laki, lantas Rasulullah Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasalam bertanya kepada sahabatnya, “Apakah dia memiliki hutang?”
“Dia memiliki hutang empat Dirham,” jawab salah satu Sahabat.
Kemudian Nabi Muhammad Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasalam menyuruh para sahabat untuk shalat dan Nabi sendiri tidak mau menshalati janazah tersebut karena memiliki hutang dan hutannya belum dibayar.
“Shalatlah kalian atasnya, sesungguhnya aku tidak akan menshalati orang yang memiliki hutang empat dirham lalu mati dan hutangnya belum di bayar,” perintah Rasulullah Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasalam.
Dalam peristiwa tersebut, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan malaikat Jibril 'alaihi as-Salam untuk turun menemui Nabi Muhammad Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasalam . “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah menyampaikan salam untukmu dan berfirman; Aku telah mengutus Jibril dengan berupa anak Adam dan melunasi hutang orang tersebut, Dia berfirman; Berdirilah dan shalatilah dia, karena dia telah diampuni, dan Dia berfirman; Barangsiapa yang shalat atas janazah tersebut maka Allah akan mengampuninya,” terang Jibril.
Setelah mendengar keterangan Jibril, Nabi Muhammad Subhanahu Wa Ta'ala bertanya, “Wahai saudaraku, Jibril! Darimanakah dia mendapatkan karomah seperti ini?”
“Karena setiap harinya dia membaca surat 'Qul Huwallahu Ahad' sebanyak seratus kali, sebab di dalam surat tersebut dijelaskan tentang sifat-sifat Allah dan pujian kepada-Nya. Allah berfirman; Barangsiapa yang membaca satu kali seumur hidupnya, dia tidak akan keluar dari dunia hingga melihat tempat tinggalnya di surga, terutama bagi orang yang membacanya setiap hari dalam shalat lima waktu, maka Allah akan memberi pertolongan kepadanya kelak di hari kiamat dan kepada semua kerabatnya yang berkewajiban untuk masuk neraka,” jelas Jibril.
Dari kisah tersebut dapat ditarik pelajaran bahwa keutamaan membaca surat Al-Ikhlas banyak sekali, sehingga memicu kaum muslim untuk terus membacanya baik ketika waktu shalat maupun di luar shalat, seperti membaca dzikir tahlil, ratib, dan wirid lainnya. Melalui surat al-ikhkas ini manusia terpatri dalam hati sanubarinya untuk senantiasa mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, memohon kebaikan kepada-Nya, serta berharap sesuatu hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Karena hanya Dialah Yang Maha memberikan segalanya. Tiada daya dan kekuatan selain dari-Nya semata. Laa khaula wala quwwata illa billahil 'aliyil 'adhim.
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin". Wallahu a'lam bi asshowab.
(@hyan elbanis)
