Sang Jurnalis Saat Jamuan Makan Bersama Kyai Khos Mbah Yai Faqih Langitan

Yasayyidiyarasulallah | Nama Mbah Yai Faqih bernama lengkap KH Abdullah Faqih dikenal luas sebagai Kyai Khos saat Pemilihan Presiden 1999. Saat itu ada perbedaan pendapat terkait pencalonan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden yang dipelopori poros tengah (Koalisi Partai Islam). Maka sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama mengadakan pertemuan di Langitan, yang memunculkan Poros Langitan dengan keputusan mendo'akan restu kepada Gus Dur agar menjadi Presiden RI keempat. 

Saya pertama kali betemu dengan KH Abdullah Faqih dikenalkan alm KH Robbach Ma'shum awal menjabat Bupati Gresik di jamuan makan, yaitu selepas acara peresmian salah satu gedung di Pondok Mambaus Sholihin, Suci Manyar asuhan KH Masbuhin Faqih dihadiri Presiden Gus Dur. 

Beliau punya daya ingatan sangat luar biasa alias dhabit kalau istilah ilmu hadisnya, bisa mengenal 'saget niteni' setiap orang walaupun sekali bertemu, hal ini saya ketahui setelah dari tahun 2000 sewaktu dikenalkan sama beliau oleh KH Robbach Ma'shum di acara tersebut, tepatnya pada tahun berikutnya 2012 saya diajak oleh Kakak saya (alm Ustadz Sholih Ahyat) alumni Ponpes Langitan Widang Tuban untuk sowan ke beliau yang setiap hari raya idul fitri open house di rumah kediaman beliau Ponpes Langitan.

Setiap momen ini ribuan alumni santrinya berdatangan juga murid beliau KH Masbuhin Faqih pasti (istiqomah) hadir dan rela antri bersalaman sungkem dengan beliaunya sebagai ta'dhim antara murid dan gurunya. 

Dari ribuan santri dan alumni itu satu persatu menyalami Mbah Yai Faqih, maka pas giliran saya dan kakak saya mencium tangan beliau langsung ngendiko; "Iki teko endi, Gresik yo", saya pun dalam hati kagum ternyata beliau masih ingat lalu spontan saya menjawabnya, "Njeh Yai kulo riyen ingkang panjenengan paringi dahar, beliaupun tersenyum khasnya taseh ingat saya dengan KH Robbach Ma'shum . 

"Alhamdulillah saya bersyukur diberi kesempatan langka di jamuan makan bersama beliau dan Gus Dur, KH Robbach Ma'shum beserta banyak kyai yang hadir".

Sebelumnya seusai acara tertutup pers itu saya yang diperkenankan bisa masuk ke lokasi untuk tugas meliput dari kantor Harian Jawa Pos (Radar Gresik), karena berkat kebaikan hati KH Robbach Ma'shum katanya beliau saat itu kepada Mbah Yai Faqih, "Niki wartawan siji mawon boten nopo-nopo Yai mlebet niki sak jobo jerone tiyang NU" langsung dijawab Mbah Yai Faqih, "Yo wes ayo melu dahar kene". Saya mengiyakan dalam jamuan makan hangat itu saya diparingi ikan lauk kepala bandeng. "Awakmu entuk berkate Yai," ujar Yai Robbach kepada saya dengan sumringah saya agak sungkan menimpalinya, "Njeh Yai" sambil saya melahap nikmatnya makan bersama para ulama dan kyai. 

Secara pribadi jamuan itu sangat berkesan di hati saya sambung barokah ilmunya saya mondokkan anak saya ke Ponpes Langitan, ketika saya dan istri mendaftarkan ke Ponpes Langitan saya melihat terpajang berjejer pigura foto-foto Masyayikh Langitan, saya pun menjadi terkenang beliau kemudian saya memotret foto diri depan sekretariat pendaftaran santri yang terpajang fotonya tersebut. 

Anak saya diterima di pondoknya setelah tes pendaftaran santri tapi awalnya sempat tidak kerasan minta pulang, saya dan istri agak kebingungan gimana caranya supaya membatalkan pulang kemudian istri saya mengalihkan mengajak anak saya untuk ziarah terlebih dulu ke makam para Masyayikh Ponpes Langitan, begitu kami di makam berdo'a membaca tahlil dan tawasul kepada Masyayikh Ponpes Langitan juga khusus kepada KH Abdullah Langitan tiba-tiba anak saya tertidur di sebelah makam beliau, selesai kami berdo'a anak saya terbangun dan langsung ngomong meminta tidak jadi boyong pulang dan tetap ingin mondok, saya dan istri pun sangat bersyukur anak saya mengurungkan keinginannya tersebut hingga sampai sekarang sudah empat tahun ini berjalan anak saya kerasan menuntut ilmu di Ponpes Langitan. Alhamdulillah semoga barokah ilmunya menjadi anak yang sholih. "Allahumma faqqihu fiddin". Aamiin ya Rabbal 'alamin. 

Sosok dan kiprah Mbah Yai Faqih ada di dalam hati siapapun yang memang sangat merindukan ke-sholih-an pribadi dan ke-sholih-an sosial, melalui tulisan ini saya jadi teringat pula cerita senior alm Cak Anam (Drs. Choirul Anam penulis buku Babon NU), pemilik Museum NU, pendiri Harian Duta Masyarakat (4 tahun saya bekerja sebagai jurnalis disini), beliau juga pernah menjadi wartawan Tempo dan pernah menjadi Ketua PW Ansor Jatim, Ketua DPW PKB Jatim juga deklarator/Ketum DPP PKNU, alumnus Fakultas Ushuluddin IAIN Surabaya (sekarang UINSA). 

Beliau pernah mengisahkan kepada saya kenangan yang tak terlupakan saat berjuang di NU maupun  dalam menjalankan kepemimpinan politik dengan wejangan spiritual Mbah Yai Faqih. 

Penuturan Cak Anam yang tidak kemaruk jabatan saat memimpin PKB menjadi pemenang pemilu, beliau menolak jabatan Gubernur Jatim atau Ketua DPRD Jatim saat itu sangat berkesan banyak ilmu yang beliau dapatkan dari Mbah Yai Faqih terutama mengenai prinsip dalam memperjuangkan yang berkaitan dengan nilai-nilai keislaman dan ke-aswasja-an NU. 

"Sekarang mana ada seperti Mbah Yai Faqih beliau itu kalau berjuang ya dengan jiwa raganya ya dengan hartanya," ujar Cak Anam. 

Dikatakan Cak Anam beliau dalam kepedulian memperjuangkan agama Islam, terutama berkaitan dengan NU sangat concern dan bisa diandalkan, bahkan ketika mendirikan PKNU beliau sendiri kata Cak Anam juga banyak membantu banyak modal untuk terwujudnya partai (PKNU) yang bisa memperjuangkan aspirasi umat Islam secara khusus di blantika politik tanah air. 

Cak Anam melanjutkan saat Mbah Yai Faqih sedang sakit sebelum kapundut, beliau dipeseni untuk tidak berhenti peduli dan berjuang membela kepentingan umat Islam. Banyak kisah dengan beliau yang tentunya disampaikan kepada sahabat dan koleganya yang saat ini banyak menjadi tokoh/ulama Kyai dan bahkan pejabat menginspirasi sosok beliau Sang Kyai Khos yang menjadi penyemangat dalam berbuat kebaikan memberikan kemanfaatan bagi sesama. 

Mbah Yai Faqih disebut Gus Dur adalah seorang wali. Kewaliannya bukan lewat tariqat atau tasawuf, tapi karena kedalaman ilmu fiqihnya. Beliau merupakan anak KH Rofi'i Zahid yang lahir pada  2 Mei 1932 di Mandungan, Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Mbah Yai Faqih memimpin Pondok Pesantren Langitan sejak tahun 1971, menggantikan KH Abdul Hadi Zahid. Ia didampingi pamannya, KH Ahmad Marzuki Zahid. Ponpes Langitan sendiri didirikan 1852 oleh KH Muhammad Nur asal Tayuban, Rembang, Jawa Tengah. Saat dipimpin KH Faqih ponpes lebih terbuka, termasuk mengembangkan ilmu komputer, tetapi tetap mempertahankan salafiyah. Saat ini di Ponpes Langitan sudah dengan ribuan santri setiap tahunnya. 

Beliau lahir di Dusun Mandungan, Desa Widang, Tuban. Ia lahir pada 2 Mei 1932. Sedari kecil ia belajar mengaji kepada ayahnya, Kiai Rofi’i Zahid. Setelah remaja, ia nyantri pada Mbah Abdurrochim di Lasem, Jawa Tengah.

Ia kemudian belajar tafsir dan hadis kepada Sayid Alwi bin Abbas al-Maliki di Mekah, Arab Saudi. Setelah ilmunya matang, Mbah Yai Faqih kembali ke Pesantren Langitan yang didirikan pada 1852 oleh Kiai Muhammad Nur.

Kiai Muhammad Nur merupakan kiai dari Desa Tuyuban, Rembang, Jawa Tengah. Pesantren Langitan yang didirikannya itu terletak di tepi Bengawan Solo. Pesantren itu dikenal sebagai pesantren ilmu alat, semacam syarat yang harus dikuasai kyai, dari mulai nahwu, sharaf, balaghah, dan mantiq.

Di Pondok Pesantren Langitan juga masih diajari kitab kuning secara tradisional. Di pesantren itu para pendiri NU pernah belajar, seperti Kiai Muhammad Cholil, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, dan Kiai Shiddiq.

Mbah Yai Faqih merupakan generasi kelima yang memimping Langitan sejak 1971 menggantikan KH. Abdul Hadi Zahid. Beliau  meninggal dunia pada Rabu, 29 Januari 2012 karena sakit di kediamannya komplek Pondok Pesantren Langitan. Ratusan ribu pelayat datang mengiringi beliau ke peristirahatan terakhirnya di Makam Ponpes Langitan. Hingga saat ini makam beliau ramai banyak dikunjungi peziarah yang datang dari berbagai penjuru daerah di Nusantara ini untuk mendo'akannya. Wallahu 'a'lam bi asshowab. "Ya Rabbi sholli 'ala Muhammad wagfirlahum warhamhum wa 'afihim wa'fuanhum". 

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin". Lahum Al Fatihah. 🤲

(@hyan elbanis)

  • Tentang Penulis
  • youtube