Implementasi Al-Qur'an Sebagai Obat Penyembuh Penyakit

In Memoriam: Bersama KH Mubarok Khudori (kanan) pengasuh Ponpes Al Falah Rengel Tuban, Jawa Timur. "Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fuanhu". (Doc.YBC) 
Yasayyidiyarasulallah | Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam kitabnya menuliskan kisah menarik, yaitu tentang menjadikan ayat Al Qur'an sebagai ikhtiar atau perantara (washilah) untuk penyembuhan terhadap suatu penyakit.

Dalam kitabnya Khawash Al Qur'an (hal.94) beliau Imam Al Ghazali menceritakan ada seorang penduduk daerah Asbahan (sekarang Isfahan, Iran) yang sembuh dari retensi urine dan batu ginjal berkat khasiat ayat Alquran. Uniknya, orang ini benar-benar menjadikan ayat Alquran sebagai obat yang ia telan. Yaitu yang ia lakukan adalah mengambil sebuah kertas, lalu menuliskan basmalah dan beberapa ayat Alquran di dalamnya.

Kemudian kertas tersebut dimasukkan dalam wadah dan dituangi air. Ramuan air itulah yang ia minum sebagai obat penawar. Adapun ayat-ayat Alquran setelah basmalah yang ia tulis dalam kertas tersebut berasal dari dua surah dari Al Qur'an, yaitu Pertama dari surah Al Waqi'ah (56) ayat 5-6 yang bunyinya:

* وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا * فَكَانَتْ هَبَاءً مُّنبَثًّا *

"Wa bussatil jibaalu bassaa, fa kaanat habaaa’am mumbatstsaa"

Artinya:  "Dan gunung-gunung hancur luluh seluluh-luluhnya" . "Maka jadilah ia debu yang beterbangan.”.

Kemudian yang kedua dari surah al Haqqah (69): ayat 14 yang berbunyi:

وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً

"Wa humilatil ardhu wal jibaalu fadukkataa dakkataw waahidah"

Artinya: “Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.”

Setelah meminum air rendaman dari tulisan ayat tersebut, orang tersebut melaporkan bahwa ia langsung sembuh dari penyakit yang dialaminya. Sehingga yang semula susah buang air kecil setelah berikhtiar dengan cara pengobatan tersebut menjadi sembuh, menjadi mudah dan lancar, bahkan batu ginjal di tubuhnya hancur serta luruh hilang ketika ia buang air kecil.

Dari kisah Imam Al Ghazali yang juga penyusun Kitab Ihya Ulumuddin tersebut, bisa dipetik hikmah pelajaran bahwa Al Qur'an sebagai mukzizat terbesar dari Allah azza wajalla yang diturunkan kepada kekasih-Nya (Al Habib) yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam untuk terus bisa digali dalam pengembangan pemahaman terhadap Al Qur'an menjadi obat.

Allah subhanahu wata'ala sendiri menyebutkan Al Qur'an sebagai  sebagai syifa’ (obat), hal ini tercantum dalam firman-Nya surah Al-Isra (17) ayat 82 yang berbunyi:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Wa nunazzilu minal Qur’aani maa huwa syifaa’uw wa rohmatul lil mu’miniina wa laa yaziiduzh zhaalimiina illaa khosaaroo.

Artinya: “Dan Kami turunkan dari Alquran sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.”

Imam Fakhruddin ar-Razi memperjelas makna ayat tersebut dalam tafsirnya, Mafatih al-Ghaib, bahwa di antara sifat Alquran adalah menjadi obat bagi orang beriman. Baik itu penyakit yang bersifat rohani (al-amradh ar-ruhaniyyah) maupun jasmani (al-amradh al-jasmaniyyah). (Mafatih al-Ghaib, juz 21,35).

Menurutnya, penyakit rohani terbagi menjadi dua jenis; Pertama, al-i’tiqadat al-bathilah, atau kerusakan iktikad dan keyakinan kepada Allah. Kedua, al-akhlaq al-madzmumah, alias akhlak dan perilaku yang tercela. Adapun penyakit jasmani merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus.

Untuk penyakit jasmani, menurut ar-Razi bisa disembuhkan dengan mengambil berkah atau tabarruk dari bacaan ayat-ayat Alquran. Umumnya, masyarakat mengenal praktik ini dengan istilah ruqyah. Melantunkan ayat suci Alquran merupakan pengagungan kepada Allah sehingga akan mendatangkan manfaat yang besar untuk mencegah bermacam penyakit.

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqith menjelaskan bahwa maksud obat dalam ayat ini adalah obat untuk penyakit fisik dan jiwa. Beliau berkata :

ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻳَﺸْﻤَﻞُ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﻘَﻠْﺐِ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮَﺍﺿِﻪِ ; ﻛَﺎﻟﺸَّﻚِّ ﻭَﺍﻟﻨِّﻔَﺎﻕِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ، ﻭَﻛَﻮْﻧَﻪُ ﺷِﻔَﺎﺀً ﻟِﻠْﺄَﺟْﺴَﺎﻡِ ﺇِﺫَﺍ ﺭُﻗِﻲَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻪِ ، ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺪُﻝُّ ﻟَﻪُ ﻗِﺼَّﺔُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻗَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺍﻟﻠَّﺪِﻳﻎَ ﺑِﺎﻟْﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ، ﻭَﻫِﻲَ ﺻَﺤِﻴﺤَﺔٌ ﻣَﺸْﻬُﻮﺭَﺓٌ

"Obat yang mencakup obat bagi penyakit hati/jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Bisa menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit. Sebagaimana kisah seseorang yang terkena sengatan kalajengking diruqyah dengan membacakan Al-Fatihah. Ini adalah kisah yanh shahih dan masyhur”  (Adhwaul Tafsir Adhwaul Bayan).

Berikut kisah pengobatan penyakit fisik/jasmani dengan menggunakan Al-Fatihah. Kisah ini berasal dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri yang sedang mengobati dengan membacakan bacaan ruqyah kepada orang yang hampir lumpuh karena terkena sengatan kalajengking. Beliau menggunakan Al-Fatihah sebagai bacaan ruqyah dan ternyata atas izin Allah hal tersebut berhasil menyembuhkannya.

Berikut kisahnya dalam hadits,

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻰ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﺍﻟْﺨُﺪْﺭِﻯِّ ﺃَﻥَّ ﻧَﺎﺳًﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻓﻰ ﺳَﻔَﺮٍ ﻓَﻤَﺮُّﻭﺍ ﺑِﺤَﻰٍّ ﻣِﻦْ ﺃَﺣْﻴَﺎﺀِ ﺍﻟْﻌَﺮَﺏِ ﻓَﺎﺳْﺘَﻀَﺎﻓُﻮﻫُﻢْ ﻓَﻠَﻢْ ﻳُﻀِﻴﻔُﻮﻫُﻢْ . ﻓَﻘَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻫَﻞْ ﻓِﻴﻜُﻢْ ﺭَﺍﻕٍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺳَﻴِّﺪَ ﺍﻟْﺤَﻰِّ ﻟَﺪِﻳﻎٌ ﺃَﻭْ ﻣُﺼَﺎﺏٌ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻧَﻌَﻢْ ﻓَﺄَﺗَﺎﻩُ ﻓَﺮَﻗَﺎﻩُ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻓَﺒَﺮَﺃَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻓَﺄُﻋْﻄِﻰَ ﻗَﻄِﻴﻌًﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻨَﻢٍ ﻓَﺄَﺑَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻘْﺒَﻠَﻬَﺎ . ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺫْﻛُﺮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻰِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .- ﻓَﺄَﺗَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻪُ . ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﺭَﻗَﻴْﺖُ ﺇِﻻَّ ﺑِﻔَﺎﺗِﺤَﺔِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ . ﻓَﺘَﺒَﺴَّﻢَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ‏« ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺩْﺭَﺍﻙَ ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺭُﻗْﻴَﺔٌ ‏» . ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺧُﺬُﻭﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﺿْﺮِﺑُﻮﺍ ﻟِﻰ ﺑِﺴَﻬْﻢٍ ﻣَﻌَﻜُﻢْ »

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, ‘Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah karena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.’ Di antara para sahabat lantas berkata, ‘Iya ada.’ Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al-Fatihah. Pembesar tersebut pun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan, ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al-Fatihah.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, ‘Bagaimana engkau bisa tahu Al-Fatihah adalah ruqyah?’ Beliau pun bersabda, ‘Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sendiri juga pernah mengalami sakit karena disihir orang Yahudi, maka Allah kemudian menurunkan dua surat Al-Qur'an yang dapat menyembuhkan sakit yaitu Surah Al-Falaq dan An-Nas  atau disebut Surat Al-Muawwidzatain. Dinamakan Al-Muawwidzatain karena dapat menuntun pembacanya mendapatkan perlindungan dari Allah Ta'ala.

Dalam buku "Asbabun Nuzul: Sebab Sebab Turunnya Al-Qur'an" karya Imam As-Suyuti diceritakan, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengalami sakit parah. Kemudian datanglah dua Malaikat kepada beliau. Salah satu di antaranya duduk di sisi kepala beliau dan yang satunya lagi duduk di dekat kedua kaki beliau.

Malaikat yang ada di kaki berkata pada Malaikat yang berada di kepala, "Bagaimana menurutmu?" Malaikat di kepala menjawab "Guna-guna". Malaikat di kaki bertanya kembali "Apa itu guna-guna?" Malaikat di kepala menjawab: "Sihir".

Malaikat di kaki berkata: "Siapa yang menyihir beliau?" Malaikat di kepala menjawab: "Labid bin Al-A'sham, orang Yahudi yang sihirnya berupa gulungan." Malaikat di kaki bertanya "Dimana ia sekarang ?" Malaikat di kepala menjawab: "Di sumur milik keluarga Fulan yang ada di bawah batu besar di dalam gulungan. Carilah gulungan tersebut. Kuraslah air sumurnya dan angkatlah batu besar itu kemudian ambil gulungan tersebut lalu bakarlah."

Esok paginya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Amar bin Yasir bersama sekelompok orang. Mereka lalu mencari gulungan itu. Ternyata airnya seperti air hena (berwarna merah). Mereka lalu menguras air sumur itu kemudian mengangkat batu besar dan mengeluarkan gulungan itu. Gulungan (seperti ijuk) tersebut pun dibakar. Ternyata di sana terdapat sembilan belas simpul.

Maka turunlah dua surat perlindungan, yaitu Surat Al-Falaq dan An-Naas. Kisah ini diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam "Dala'il An-Nubuwwah" dari jalur Al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas. Riwayat di atas dikuatkan dalam kitab sahih dari Abu Nu'aim dari jalur Abu Ja'far Ar-Razi dari Ar-Rabi' bin Anas dari Anas bin Malik. 

Kedua surat ini diturunkan berkaitan dengan sakit yang dialami Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena disihir orang Yahudi. Ali bin Ibrahim al-Qummi dalam "Tafsir al-Qummi" dan Sayid Hasyim al-Bahrani dalam "Tafsir Al-Burhan" menceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami sakit demam yang tinggi, lalu Malaikat Jibril dan Mikail membawa surah Al-Falaq dan An-Nas untuk menyembuhkan beliau. Malaikat Jibril 'alaihi as-salam membaca Surat Al-Falaq dan Malaikat Mikail membaca Surat An-Nas hingga beliau sembuh. Keutamaan Surat Muawwidzatain juga dapat digunakan sebagai wasilah perlindungan dari segala keburukan seperti sihir, penyakit 'ain (pandangan mata yang membinasakan), gangguan setan dan penyakit buruk lainnya.

Dikutip dari Ath-Tibbu An-Nabawi oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, surah Al Muawwidzatain mengandung permohonan perlindungan dari setiap jenis kejahatan dan bahaya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kepada Ibnu Abbas. Beliau bersabda:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ يَا ابْنَ عَابِسٍ أَلَا أَدُلُّكَ أَوْ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا يَتَعَوَّذُ بِهِ الْمُتَعَوِّذُونَ قَالَ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ هَاتَيْنِ السُّورَتَيْنِ

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Ibnu Abbas: Wahai Ibnu Abbas, maukah kamu aku tunjukkan (atau maukah kamu mengetahui) sesuatu yang paling baik digunakan untuk berlindung?' Ibnu Abbas menjawab, 'Iya wahai Rasulullah.' Beliau pun bersabda: 'Qul a’udzu birabbil falaq dan Qul a’udzu birabbin nas, dua surah ini. "(HR. An Nasa’i)

Dengan demikian dari penjelasan tersebut diatas dapat diketahui bahwa Al Qur'an bisa dijadikan sebagai ikhtiar dalam penyembuhan (obat) penyakit baik itu sakit jasmani/fisik ataupun penyakit ruhani/jiwa, namun perlu diingat bahwa sejatinya hanya Allah subhanahu wata'ala yang mampu menyehatkan dari berbagai rasa sakit. Sehingga tetap perlu memurnikan niat untuk memohon kesembuhan hanya kepada-Nya, sebagaimana halnya dilakukan Nabi Ibrahim dan Nabi Ayub 'alaihima as-salam dalam berdo'a kesembuhan penyakitnya:

وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِۙ 

"Wa idza maridltu fa huwa yasyfin"

"Apabila aku (Ibrahim) sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkanku". (Asy-Syu'ara' : 80) 

رَبِّ إِنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

"Robbi inni massaniyadh-dhurru wa anta arhamur-rahimin".

Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Al-Anbiya' 83-84).****

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي مَحْيَايَ وَمَمَاتِي ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي يَوْمِ أَمُوتُ وَيَوْمِ أُبْعَثُ حَيًّا ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ  مِنْ يَوْمِ خَلَقْتَ الدُّنْيَا إِلَى يَوْمِ ٱلْحِسَابِ ، وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً كَثِيراً ، وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ**

"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi mahyaya wa mamati, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi amutu wa yaumi ub'atsu hayya, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi kholaqtaddunya ila yaumil hisab, wa 'ala alihi washohbihi wasallam tasliman katsiro, walhamdulillahi rabbil 'alamin"

"Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dalam hidupku dan matiku, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad sejak hari Engkau menciptakan dunia sampai Hari Pembalasan (kiamat) dan atas keluarganya dan para sahabatnya, semoga kesejahteraan senantiasa Engkau limpahkan kepada mereka. Dan segala puji bagiMu Allah, Tuhan semesta alam".

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

(@hyan elbanis)

  • Tentang Penulis
  • youtube