Kajian Tafsir Tematik: Keutamaan Membaca Surat Ar-Rahman Pengantinnya Al Qur'an

Bersama Ketua MUI Gresik KH. Ainur Rofiq Thoyyib (tengah) saat buka bersama Polres Gresik dan Rekan Media se-Kabupaten Gresik. (Rabu, 25/02/2026/doc.yasayyidiyarasulallah).
Yasassidiyarasulallah | Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam, bersifat abadi, rasional, dan berlaku sepanjang zaman. 

Al Qur'an melampaui keindahan sastra Arab, kebenaran ilmiah yang terbukti, dan terjaga keasliannya sebagai petunjuk universal dan merupakan kalamullah diturunkan melalui malaikat Jibril 'alaihi as-salam kepada Nabi Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasallam.

Di dalamnya banyak kandungan atau keutamaan apabila mau membaca dan mengamalkannya. Salah satunya kalau surat Yasin disebut Qolbu atau hatinya Al Qur'an, maka surat Ar-Rahman pengantinnya Al-Quran. 

Surat Ar-Rahman Pengantinnya Al Qur'an 

Setiap sesuatu punya hati. Pun setiap sesuatu punya pengantin. Dan pengantin Al-Quran adalah Surat Ar-Rahman, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman juga disebutkan Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marah Labib li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid, Jilid II, halaman 475, surah Ar-Rahman dijuluki sebagai pengantin Al-Qur’an.

لكل شيء عروس وعروس القرآن الرحمن

"Segala sesuatu punya pengantin. Dan pengantin Al-Quran adalah Surat Ar-Rahman". (HR. Baihaqi).

Disebutkan dalam kitab Tafsir Marah Labib li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid karya Syekh Nawawi Banten, Jilid II, halaman 475, surah Ar-Rahman dijuluki sebagai pengantin Al-Qur’an, hal ini karena keindahan dan keistimewaannya. Surah ini membahas tentang berbagai topik, termasuk kebesaran Allah, balasan akhirat, dan pentingnya bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang dianugerahkan. Surat Ar-Rahman ini tergolong surah Makkiyah, terdiri dari sebanyak 77 ayat, kemudian 351 kata, dan huruf 1.636 huruf.

وتسمى عروس القرآن مكية، سبع وسبعون آية، ثلاثمائة وإحدى وخمسون كلمة، ألف وستمائة وستة وثلاثون حرفا

Artinya; “(Surah Ar-Rahman) dinamakan pengantin Al-Qur’an, tergolong Makkiyah (diturunkan di Mekah), dengan jumlah ayat sebanyak 77 ayat, dengan jumlah 351 kata, dan total 1.636 huruf. (Syekh Nawawi Banten, Tafsir Marah Labib li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid, Jilid II, halaman 475).

Menukil dari  Syekh Wahbah Zuhaili dalam kitab Tafsir Munir, Jilid XXVII, halaman 193, beliau menjelaskan bahwa surah Ar Rahman, bagaikan mutiara di antara surah-surah Al-Qur’an, tergolong dalam surah Makkiyah yang tersohor dengan ayat-ayatnya yang singkat, penuh makna, dan membekas di hati pembacanya. Surah ini membangkitkan rasa kagum dan ketakutan akan kebesaran Allah SWT, serta mengantarkan kita pada tema-tema fundamental aqidah Islam.

سورة الرحمن كسائر السور المكية المتميزة بقصر آياتها، وشدة تأثيرها ووقعها، ومزيد رهبتها، والمتعلقة بأصول الاعتقاد وهي التوحيد وأدلة القدرة الإلهية، والنبوة والوحي، والقيامة وما فيها من جنة ونار، وآلاء ونعم، وشدائد وأهوال.

Artinya; Surah Ar-Rahman, seperti halnya surah-surah Makkah lainnya, terkenal dengan ayat-ayatnya yang pendek, penuh pengaruh dan berkesan, serta penuh keagungan. Surah ini membahas tentang dasar-dasar keimanan, yaitu tauhid, bukti-bukti kekuasaan Allah, kenabian dan wahyu, hari kiamat dan apa yang ada di dalamnya, surga dan neraka, nikmat dan karunia, serta kesulitan dan kesengsaraan.” [Syekh Dr. Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Munir, Jilid XXVII, [Beirut: Darul Fikri, 1991], halaman 193].

Surat Ar Rahman penamaan itu karena indahnya surah ini dan karena didalamnya terdapat sekian kali pengulangan ayat: "Fabi ayyi aalaa’i Rabbikuma tukadziban" yang diibaratkan dengan aneka hiasan yang dipakai oleh pengantin.

Dirindukan Surga Firdaus

Imam Suyuthi dalam kitab Durrul Mantsur Fi Tafsir al Ma’tsur, Jilid XIV, halaman 100 menjelaskan Surah ar Rahman merupakan surat yang istimewa bagi umat muslim. Keutamaan membacanya adalah dijanjikan masuk ke dalam surga Firdaus, yang merupakan level tertinggi dari surga. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

عن فاطمة قالت : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : «قارئ الحديد و(إذا وقعت) و(الرحمن) يدعى في ملكوت السماوات والأرض ساكن الفردوس» .

Artinya; “Fatimah berkata: Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Pembaca surat Al-Hasyr, Al-Waqi’ah, dan Ar-Rahman akan dipanggil di kerajaan langit dan bumi sebagai penghuni surga Firdaus.”(H.R Baihaqi).

Ketiga surat ini memiliki keutamaan tersendiri, namun Surah ar Rahman secara khusus memiliki keindahan bahasa yang memukau dan menggambarkan nikmat-nikmat yang ada di surga. Membaca Surah ar Rahman secara rutin dapat menjadi pengingat bagi kita tentang kenikmatan yang kekal di akhirat. Pun  keindahan surat ini dapat membuat hati kita semakin bersyukur atas limpahan rahmat Allah Azzam wa Jalla di dunia.

Keistimewaan Surah Ar Rahman ini menjadikannya surah yang sangat dianjurkan untuk dibaca, dipelajari, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan merenungkan makna dan kandungan surah ini, diharapkan kita dapat semakin meningkatkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'ala dan selalu berusaha untuk menjadi hamba yang bersyukur dan taat kepada semua perintahnya. 

Menjadikan Hamba Bersyukur 

Hadits keutamaan Surat Ar Rahman juga disebutkan yakni orang yang membaca Surat Ar rahman akan mendapatkan rahmat dari Allah Subhanahu Wata'ala, sebagaimana dalam hadis yang bersumber dari sahabat Ubay bin Ka’ab , Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

من قرأ سورة الرَّحْمن رحم الله ضعفه ، وأدّى شكر ما أنعم اللّه عليه

Artinya: Barangsiapa yang membaca Surat Ar-Rahman, maka Allah akan merahmati ketidakberdayaannya dan ia telah menunaikan syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. (HR. Baihaqi).

Digolongkan Mati Sahid

Dalam kitab Tsawabul A’mal, dijelaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Barang siapa membaca Ar Rahman, dan ketika membaca kalimat fabiayyi aala’i Robbikuma tukadzibaan kemudian jika dia mengucapkan: tidak ada satupun nikmatMu dari Tuhanku yang aku dustakan, maka jika membacanya di malam hari kemudian mati, maka matinya seperti mati syahid, jika membacanya di siang hari kemudian ia mati, maka matinya seperti mati syahid.” (diriwayatkan oleh Imam Ja’far).

Mendapat Syafaat di hari kiamat

Selain itu disebutkan “Jangan tinggalkan membaca surat Ar Rahman, bangunlah malam bersamanya, surat ini tidak menentramkan hati orang-orang munafik, kamu akan menjumpai Tuhan bersamanya(Ar Rahman) pada hari kiamat, wujudnya seperti wujud manusia  yang paling indah dan baunya paling harum, pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang berdiri dihadapan Allah yang paling dekat denganNya selainnya. Pada saat itu Allah berfirman: soapakah orang di dunia yang sering bangun malam dan tekun membacamu? Dia menjawab: Ya Robbi, Fulan bin Fulan, lalu wajah mereka menjdi putih. Dan ia berkata kepada mereka: berilah syafaat bagi orang-orang yang mencintai kalian. Kemudian ia memberi syafaat sampai yang terakhir dan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari orang-orang yang berhak menerima syafaat mereka. Lalau ia berkata kepada mereka: masuklah kalian ke surga, dan tinggallah didalamnya sebagaimana yang kalian inginkan.”

Dzikir Ismul Agung 

Di dalam surat Al Rahman didapati Asmaul Husna yang agung yaitu: "Dzil Jalali wal Ikram", hal ini berkaitan dengan kandungan hadits keutamaan Surat Ar Rahman berikutnya mengenai anjuran untuk membaca dzikir Ya Dzal Jalali Wal Ikram. Kalimat dzikir ini dari petikan ayat terakhir 78 surat Ar-Rahmat :

تَبَٰرَكَ ٱسْمُ رَبِّكَ ذِى ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ

"Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia".

Mengenai Dzikir Ya Dzal Jalali Wal Ikram disebutkan dalam beberapa hadis. Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ، عَنْ أَبِي الْعَذْرَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أجِدّوا اللَّهَ يَغْفِرْ لَكُمْ"

"Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Sabit ibnu Sauban, dari Umair ibnu Hani, dari Abul Azra, dari Abu Darda yang mengatakan bahwa Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda: Agungkanlah Allah, niscaya kalian akan diberi ampunan".

Dalam riwayat lain disebutkan:

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا أَبُو يُوسُفَ الْجِيزِيُّ، حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ، عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم قَالَ: "أَلِظُّوا بِيَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ"

"Al-Hafiz Abu Yala mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami Muammal ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil, dari Anas, bahwa Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallamtelah bersabda: Kobarkanlah (dirimu dengan banyak membaca) Ya Zal Jalali Wal Ikram (Ya Tuhan Yang mempunyai keagungan dan karunia)."

Di dalam kitab Sahih Muslim dan kitab keempat sunan telah disebutkan melalui hadis Abdullah Ibnul Haris, dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam apabila telah bersalam dari shalatnya tidak segera duduk melainkan sesudah membaca doa berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَلَّمَ لَمْ يَقْعُدْ إِلاَّ مِقْدَارَ مَا يَقُولُ‏ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ نُمَيْرٍ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ‏

"Dari Sayyidah ‘A’isyah Radhiyallahu 'Anha katanya, “Biasanya apabila Nabi s.a.w. telah memberi salam (selepas solat), baginda tidak duduk melainkan pada kadar bacaan, ‘Ya Allah ya Tuhan kami, Engkaulah Tuhan Yang Maha Sejahtera dan daripada Engkaulah datangnya kesejahteraan. Maha Suci Engkau Pemilik Keagungan dan Kemuliaan,’ atau di dalam riwayat Ibn Numair, ‘Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan." (Sahih; H.R. Muslim, no. 592).

Mengutip dari Majmu' Syarif Ponpes Langitan (KH Abdullah Faqih) dan buku Ziarah: Sebuah Catatan Perjalanan ke Barat karya Hani Utami dan Nitha Ayesha (2016:67), juga didapati redaksinya sebagai berikut:

 اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَالْجَلاَلِ وَالْأِ كْرَامِ

"Allahumma antassalam, wa minkassalam, wa ilaika ya'uudussalam, fahayyina robbana bissalam, wa adkhilnal jannata daarossalam, tabarokta robbana wa ta'aalayta, yaa dzal jalaali wal ikram.

Artinya, "Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang mempunyai kesejahteraan, dari-Mu kesejahteraan itu, kepada-Mu akan kembali lagi segala kesejahteraan itu, Ya Tuhan kami, hidupkanlah kami dengan sejahtera. Masukanlah kami ke dalam surga kampung kesejahteraan. Engkaulah yang berkuasa memberi berkah yang banyak dan Engkaulah Yang Maha Tinggi, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan."

Ar Rahman sendiri adalah Nama Allah yang berarti “Maha Pemberi nikmat dunia dan akhirat.”. Begitu Rahmannya Allah sampai Allah mengkhususkan Ar Rahman dalam satu surat yang indah. Pengingat untuk manusia akan banyaknya nikmat Allah yang terlupa. Tema dalam surat ini adalah uraian tentang nikmat Allah yang bermula dari Nikmat terbesar yaitu Al Quran.

Thabathaba’i dalam tafsirnya berpendapat bahwa surah ini mengandung isyarat tentang ciptaan Allah dengan sekian banyak bagian-bagiannya di langit dan di Bumi, darat dan laut, manusia dan jin, di mana Allah mengatur semua itu dalam satu pengaturan yang bermanfaat bagi manusia dan jin. Bermanfaat pula untuk hidup mereka di dunia dan akhirat.

Di antara sebab turunnya ayat yang disebutkan dalam buku-buku tafsir adalah sebagai berikut:

1. Surat ini adalah jawaban Allâh Azza wa Jalla terhadap pertanyaan orang-orang musyrik yang berkata, “Siapakah ar-Rahmân itu?” sebagaimana terdapat pada ayat:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Sujudlah kalian sekalian kepada yang Maha Penyayang (ar-Rahmân)!”, Mereka menjawab, “Siapakah yang Maha Penyayang (ar-Rahmân) itu? Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?” Dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).” (Al-Furqân /25: 60). Kemudian dijawab oleh Allâh Azza wa Jalla dengan surat ar-Rahmân.

2. Surat ini adalah sebagai jawaban dari perkataan penduduk Mekah ketika mereka mengatakan, “Sesungguhnya al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia.” sebagaimana terdapat pada ayat:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

"Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: ‘Sesungguhnya Al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).’ Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad) belajar kepadanya bahasa ‘Ajam (selain Arab), sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (An-Nahl /16: 103).

Surat ini sebagai bantahan kepada mereka dan penegasan bahwa yang mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Allâh Azza wa Jalla , bukan karangan manusia.

Ketika Allâh Azza wa Jalla mengatakan hal tersebut, kita dianjurkan untuk menjawab seperti jawaban jin yang disampaikan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana dalam hadits yang telah disampaikan di awal pembahasan, yaitu:

لاَ بِشَىْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ.

"Tidak ada sesuatu apapun dari nikmatmu wahai Rabb kami yang kami dustakan, untuk-Mu segala pujian."

Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma ketika dibacakan ayat ini, beliau Radhiyallahu anhuma berkata:

لَا بِأيِّهَا يَا رَبّ

"(Saya tidak mendustakan) sedikit pun dari kenikmatan-kenikmatan tersebut wahai Rabb-ku". (Lihat Tafsir Ath-Thabari XXII/22 dan Tafsiir Ibnu Katsir 7/491).

Simak penjelasan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Jilid VII, halaman 488 berikut;

وقال أبو جعفر بن جرير : حدثنا محمد بن عباد بن موسى ، وعمرو بن مالك البصري قالا : حدثنا يحيى بن سليم ، عن إسماعيل بن أمية ، عن نافع ، عن ابن عمر ; أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قرأ سورة “ الرحمن “ - أو : قرئت عنده - فقال : “ ما لي أسمع الجن أحسن جوابا لربها منكم ؟ “ قالوا : وما ذاك يا رسول الله ؟ قال : “ ما أتيت على قول الله : ( فبأي آلاء ربكما تكذبان ) إلا قالت الجن : لا بشيء من نعمة ربنا نكذب “

"Abu Ja’far bin Jarir berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad bin Musa dan Amr bin Malik al-Basri, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Salim, dari Ismail bin A’miyah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam membaca Surat Ar-Rahman - atau dibaca di hadapan beliau - kemudian beliau berkata: “Mengapa aku mendengar jin menjawab Tuhannya dengan lebih baik daripada kalian?”.

Para sahabat bertanya: “Apa maksudnya itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Setiap kali aku membaca firman Allah: ‘Fabi ayyi alaai rabbikuma tukadziban?’ (Maka nikmat Rabbmu yang manakah yang kamu dustakan?)’, jin-jin itu selalu menjawab: ‘Tidak ada satu pun nikmat dari Rabb kami yang kami dustakan’.” (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Adzhim, Jilid VII, halaman 488).

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu , dia berkata:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  عَلَى أَصْحَابِهِ فَقَرَأَ عَلَيْهِمْ سُورَةَ الرَّحْمَنِ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى آخِرِهَا فَسَكَتُوا فَقَالَ: (( لَقَدْ قَرَأْتُهَا عَلَى الْجِنِّ لَيْلَةَ الْجِنِّ فَكَانُوا أَحْسَنَ مَرْدُودًا مِنْكُمْ كُنْتُ كُلَّمَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِهِ { فَبِأَىِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ } قَالُوا: لاَ بِشَىْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ.

"Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk menemui para Sahabat Beliau, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan surat Ar-Rahmân kepada mereka dari awal hingga akhir surat, kemudian mereka pun diam. Kemudian Beliau berkata, “Saya telah membaca surat ini kepada para jin di malam pertemuan dengan jin, kemudian mereka lebih baik responnya daripada kalian. Ketika saya membaca ayat, (yang artinya, “Maka nikmat-nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan?” Mereka menjawab, “Tidak ada sesuatu apapun dari nikmatmu wahai Rabb kami yang kami dustakan, untuk-Mu segala pujian.” (HR At-Tirmidzi no. 3291 dan Al-Hâkim II/215/3766). Wallahu 'a'lam bisshowab.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي مَحْيَايَ وَمَمَاتِي ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي يَوْمِ أَمُوتُ وَيَوْمِ أُبْعَثُ حَيًّا ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ  مِنْ يَوْمِ خَلَقْتَ الدُّنْيَا إِلَى يَوْمِ ٱلْحِسَابِ ، وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً كَثِيراً ، وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ**

"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi mahyaya wa mamati, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi amutu wa yaumi ub'atsu hayya, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi kholaqtaddunya ila yaumil hisab, wa 'ala alihi washohbihi wasallam tasliman katsiro, walhamdulillahi rabbil 'alamin"

"Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dalam hidupku dan matiku, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad sejak hari Engkau menciptakan dunia sampai Hari Pembalasan (kiamat) dan atas keluarganya dan para sahabatnya, semoga kesejahteraan senantiasa Engkau limpahkan kepada mereka. Dan segala puji bagiMu Allah, Tuhan semesta alam".

  • Tentang Penulis
  • youtube