Kisah Senjata Pena Kolomunyeng Sunan Giri

 

Yasayyidiyarasulallah (Tulisan Lepas @hiyan_elbanis) | Tahukah Sunan Giri panutan walisongo, ternyata piawai di bidang jurnalistik?. Bahkan dengan keahlian dalam tulis menulis itu beliau yang  bergelar Prabu Satmoto ini sampai mahsyur dengan senjatanya konon berupa kerisnya 'Kolomunyeng' atau 'Kalamunyeng' sangat ditakuti penguasa pembesar Majapahit. 

Dari senjatanya Sunan Giri itu ternyata bukan panah atau senapan bukan pula benda tajam seperti pedang atau keris, melainkan pena 'Kalamunyeng', diambil dari al Qolam berarti pena dan munyeng yaitu pening atau pusing tujuh keliling.

Dengan kata lain, karena beliau melalui tulisan surat suratnya yang dikirimkan ke pejabat, petinggi besar Majapahit selalu sesuai dengan realitas keadaan sosial politik agama saat itu. Istilahnya beliau reformis, pro perubahan dengan birokrasi jalannya pemerintahan Majapahit, terutama terkait menyangkut kepentingan publik, rakyat tidak dibebani punguti upeti pajak tinggi atau mencekik kawulo alit rakyat jelata.

Tulisan-tulisan beliau mengguncang kerajaan Majapahit, sehingga tak pelak mereka dibuat pening kepala gusar bermuram durja kepada Sunan Giri.

Beliau selain menyebarkan Islam secara damai juga lihai berpolitik, lewat tulisan tulisan yang juga disebar ke khalayak ramai, mengenai kebijakan kebijakan Majapahit yang tidak pro rakyat dan merugikan kawulo alit.

Tulisan2nya beliau membuat 'Munyeng' sang Raja Majapahit,,,karena kemampuannya itu beliau dikenal bersenjata 'Qolam','Pena',,,,lidah orang Jawa menyebutnya Kalam (baca: Kolom),,,karena setiap tulisan2 beliau saat itu mengkritik pemerintahan Kerajaan Majapahit, membuat geger pejabat-pejabat teras Majapahit sehingga Raja Majapahit (Brawijaya) murka menganggap Sunan Giri mbangkang tidak patuh kebijakan Majapahit, sehingga kemudian perintahkan pasukannya untuk serbu kerajaan Sunan Giri, yaitu Giri Kedaton yang sekarang dikenal dengan Gresik.

Namun upaya Majapahit tak berhasil menaklukkan Giri Kedaton karena kalah dalam peperangan, maka disebutlah khalayak Sunan Giri punya senjata KALAMUNYENG (baca Kolomunyeng),  memang pena di tangan orang tepat bisa digunakan untuk menulis sesuatu karya pengetahuan ilmu (oto kritik).

Budaya tulis menulis yang beliau wariskan jarang dipublish, harusnya itu menjadi tradisi kita umat Islam terutama ulama kiai santri,  seperti halnya kebiasaan Hujjatul Islam Imam Al Ghazali yang tak pernah kering tintanya, membuat khazanah intelektual keilmuan Islam dengan buku buku karyanya, salah satunya paling fenomenal adalah kitab (Ihya' Ulumuddin) yang sampai sekarang banyak dijadikan referensi para ulama kelas dunia termasuk dari ulama Indonesia (NU).

Pondok pesantren lebih banyak ilmu-ilmu hafalan dan jarang menerapkan membudayakan tulis menulis membuat  buku ke-Islam-an, sungguh bila dunia pesantren menerapkan intelektual Sunan Giri dan Imam Al Ghazali, maka akan banyak kiai ulama dari jebolan pesantren-pesantren yang bisa melahirkan banyak buku2 ke-Islam-an,,,,

Pesantren-pesantren perlu mencetak santri tidak hanya lihai berpidato dalam berdakwah,tetapi mereka juga perlu berkemampuan menuangkan gagasan pemikiran melalui karya tulisan menyampaikan visi dan misi Islam dengan rahmatan lil 'alamin. Dengan begitu dakwah tidak hanya melalui lisan atau perbuatan tapi juga dengan tulisan pena kolomunyeng.

Semoga bermanfaat,
Al Fatihah dateng Sunan Giri

Allahumma sholli'ala Sayyidina Muhammad.

****
Silsilah Sunan Giri

Sunan Giri atau yang mempunyai nama lain Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko Samudra adalah nama salah seorang Wali Songo yang berkedudukan di desa Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur.

Ia lahir di Blambangan (Banyuwangi) pada tahun Saka Candra Sengkala “Jalmo orek werdaning ratu” (1365 Saka). dan wafat pada tahun Saka Candra Sengkala “Sayu Sirno Sucining Sukmo” (1428 Saka) di desa Giri, Kebomas, Gresik.

Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah Shalallahu'alaihi wasallam; yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-Shadiq, Ali Al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad Al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq, dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).
  • Tentang Penulis
  • youtube