Jaga Keseimbangan, Hiduplah Seperti Mengayuh Sepeda

 

Yasayyidiyarasulallah | "Hidup ini seperti mengendarai sepeda, untuk menjaga keseimbangan, kamu harus tetap mengayuh". Begitu Albert Einstein, tokoh paling berpengaruh dalam sejarah berpesan bijak kepada anaknya, Edward Einstein. 

Dalam hidup jatuh bangun sudah terbiasa bagi mereka yang berprinsip tak selamanya menderita, juga tak abadi kebahagian selama ada di dunia maka dalam perjalanan hidup yang penuh dinamika, orang seringkali dihadapkan pada tantangan, kegagalan, dan perubahan yang tak terduga, sehingga perlunya menjaga keseimbangan dalam hidup membutuhkan ikhtiar dan kehati-hatian, lebih-lebih dengan urusan ukhrawi. 

Orang hidup jangan sampai terlalu duniawi juga tak melulu urusan ukhrawi. Dunia ini hanya persinggahan sementara, tidak abadi tapi akhirat kekal untuk selamanya. Maka seimbangkan urusan duniawi dan akhirat membutuhkan ilmu sebagai bekal selamat dunianya dan akhiratnya. 

Memang orang punya pilihan mau dunia saja atau akhirat mawon, ya bebas dengan pilihan masing-masing individu. Namun tentu ada konsekwensinya dari sebuah penentuan pilihan hidup itu bisa ke surga atau neraka maka bebas silahkan menentukan jalannya.

Dus ketahuilah dari tubuh kita didapati Ruhani dan jasmani. Artinya jasmani itu kebutuhannya sandang pangan papan tentu orang ingin hidup enak hidup serba ada semuanya terpenuhi, maka jika orang hidup hanya orientasinya dunia mereka akan menghalalkan cara atau Machiavelisme tak peduli rambu larangan agama. 

Demikian juga dengan Ruhani kebutuhannya adalah spiritualitas yang berhubungan dengan sang pencipta yaitu Allah. Ruhani dengan ruh di dalamnya jiwa butuh ketenangan tentu ketenangan jiwa hanya bisa dicapai dengan spiritualitas berkaitan dengan nutrisi ibadah kepada-Nya, maka jiwa yang tenang akan bisa kembali kepada-Nya dengan damai dan tenang.

Dunia ini adalah jasmani dan akhirat ialah Ruhani, maka dunia hanyalah materi sifatnya tidak abadi dan akan rusak pada tempo yang telah digariskan sang pencipta. Jadi orang kalau hanya kedunyan melupakan bagian akhiratnya so pasti jiwanya bila sudah menjadi jasad akan seperti kehilangan kendali, tidak tenang karena selama hidup tidak terpenuhi kebutuhan Ruhaninya. "Jasad terkubur jiwanya lunglai".

Namun orang bila semasa hidupnya memenuhi kebutuhan Ruhaninya jiwanya akan tenang, karena sudah punya bekal sewaktu hidup mengisinya dengan amal ibadah, sehingga jiwanya tidak kehilangan kendali dan akan banyak kenikmatan rizqi yang akan didapatkan seperti tidurnya pengantin di dalam kuburnya.

Sedangkan orang yang hanya mengisi jasmani Ruhaninya dengan duniawi berkesedihan, mereka ingin kembali lagi ke dunia untuk hanya ibadah-amal-sedekah-berbuat kebaikan hanya karena Allah semata. 

Sungguh beruntung mereka hidup terjaga dari keseimbangan duniawi dan akhiratnya ; bahagia dunia akhiratnya sebagaimana dalam kandungan doa sapujagat yang selalu dipanjatkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam yaitu: "Allahumma athina fi ad-dunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar". (Tulisan lepas @hiyan_elbanis). 

Semoga kita semuanya husnul khatimah. 
Aamiin...
Allahumma sholli'ala Sayyidina Muhammad.

Kampung Wali, 21/4/2020
Hiyan Elbanis
  • Tentang Penulis
  • youtube