Yasayyidiyarasulallah | Pancasila memang bukan kitab suci, tapi tidak akan tergantikan sebagai ideologi negara Indonesia. Maka setiap warga negara ini harus bisa secara konsekwen dalam mengamalkan Pancasila menjadi sendi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, karena Pancasila sudah final tidak akan pernah bisa diganggu gugat eksistensinya, sehingga kalau ada pihak-pihak yang merongrong Pancasila itu saja sama artinya mereka mau menghancurkan bangunan pondasi NKRI harga paten!.
Para ulama dan kyai santri, umat Islam sepenuhnya menjaga Pancasila agar tidak dirongrong dari pihak mana pun, misalnya itu terekam jejak sikap mereka dengan tegas dalam peneguhan Asas Tunggal Pancasila, melalui Munas dan Muktamar NU (1983-1984), dengan tuan rumah KH As’ad Syamsul Arifin di Situbondo.
Mereka memahami Pancasila mengandung nilai-nilai ajaran Islam, yakni mengajarkan kebaikan kedamaian dan kesejukan, untuk menjalankan kehidupan sisi kemanusiaan manusia merdeka berbeda-beda, tapi satu tujuan dalam NKRI.
Dengan demikian, orang beragama tidak ada paksaan, itu sudah jelas dalam Islam tak ada paksaan, orang harus masuk memeluk agama Islam, karena dakwah Islam itu santun tidak dengan radikalisme kekerasan atau pedang alias peperangan.
Akan tetapi negara harus bersikap tegas supaya ber-Pancasila itu-- warga negara perlu dipaksa--negara seyogyanya melakukan hegemoni kekuasaannya; 'terhadap warganya yang tidak mengakui Pancasila', agar mereka menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam peri kehidupan negara dan kebangsaan.
Artinya jika ada warga negara atau kelompok-kelompok tertentu dari ormas mana pun tidak mengakui Pancasila, maka negara perlu turun tangan menyadarkan mereka kembali pada Pancasila, sehingga siapapun yang tidak patuh menjalankan Pancasila, negara bisa menumpas menyatakan; 'perang untuk mereka yang merongrong keutuhan negara membahayakan Pancasila,' seperti yang pernah dilakukan Presiden RI pertama Bung Karno, beliau tidak segan mengikis numpas habis mereka yang memberontak dengan tujuan mengganti Pancasila dan mendirikan negara dalam negara.
Maka BPIP sebagai kepanjangan pemerintah yang diberi tugas khusus kepancasilaan, untuk terus menyadarkan masyarakat akan pentingnya Pancasila pemersatu bangsa, bisa juga melalui kegiatan-kegiatan positif seperti dialog seminar simposium dengan melibatkan berbagai elemen bangsa, bersama-sama buka gali sejarah Pancasila dalam melakukan penghayatan Pancasila sesuai yang dicita-citakan the founding father negara ini.
Selain itu BPIP juga bisa membuatkan semacam buku panduan saku Pancasila, yang setiap saat bisa dibawa dan menjadi persyaratan khusus ke-administrasi-an, apabila melakukan berbagai aktivitas macam kegiatan perlu untuk menjadikan tolak ukur; ' kesetiaan warga negara dengan ideologi Pancasila harga mati NKRI.
Allahumma sholli'ala Sayyidina Muhammad.
*1 Oktober 2020
Ahmad Yani Elbanis
Ketua DPW Satria Kita Pancasila (SKP) Jawa Timur*