Berorganisasi di NU Bukan (NU) Nunut Urip Tapi (NU) Nurut Ulama

Yasayyidiyarasulallah | Berorganisasi di NU dibutuhkan keikhlasan, tidak menjadikan NU sebagai kepentingan pragmatis, apalagi dengan tujuan politik tertentu. Karena NU bukan Nunut Urip/Norok Odik (mencari hidup di NU), tapi NU (Nunut/Nurut Ulama) gandolan sarunge ulama menghidup-hidupi apa yang sudah diperjuangkan para pendiri NU dengan Khittah NU 1926.

Melalui catatan singkat ini Al Faqir yang aktif di NU tingkat paling bawah yaitu ranting, ingin berbagi dari pengejawantahan dari do'anya Pendiri NU Hadratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari. 

Beliau mendo'akan tidak hanya kepada generasi awal NU tapi generasi berikutnya hingga akhir zaman. 

"Sopo kang gelem ngurusi NU, tak anggep santriku. Sopo kang dadi santriku, tak dongakno khusnul khotimah sak dzurriyahe"

Kalimah do'a beliau mungkin sudah tidak asing bagi warga Nahdliyin, ini sekaligus semacam wasiat beliau yang perlu terus disampaikan dari generasi ke generasi pengurus NU dan warga Nahdliyin. 

Sangat simpel do'anya beliau ini sehingga tidak jarang disampaikan para ulama kyai dalam momen acara pelantikan pengurus NU di berbagai level, baik dalam acara pelatihan seperti PKPNU, MKNU, PKD Ansor atau Lakmud IPNU. Selain itu pada postingan akun – akun media sosial yang berafiliasi dengan NU juga tak luput menyebar luaskan. 

Akan tetapi mungkin ada pula anggapan sesuatu yang luar biasa apabila disampaikan atau dilakukan secara berulang terus menerus, akan menjadi sesuatu ah biasa saja. Namun bagi Al Faqir pribadi dengan do'a tersebut sangat terasa memompa semangat dalam berjuang menghidupi kegiatan NU sambung barokah doanya beliau di NU tingkatan ranting. 

Memang sangat jarang ditemui pembahasan khusus, mengenai makna dan maksud dari wasiat Hadratussyaikh ini. Seolah kita semua menerimanya sebagai suatu hal yang taken for granted, menerima begitu saja tanpa perlu melakukan konseptualisasi dan interpretasi lebih lanjut.

“Sopo kang gelem ngurusi NU”, sepenggal kalimat ini jika ditanyakan kepada warga NU pasti akan memunculkan beragam penafsiran. “Ngurusi NU”, adalah sebuah kata kerja yang maksud dan maknanya tidak bisa kita tanyakan kepada penutur asalnya yaitu Hadratussyaikh.

Karena banyak yang mengaku merasa ngurusi NU tapi kenyataan hanya Nguresi NU untuk kepentingan tertentu, padahal ini sangat bisa menjadi parasit dan penyakit bagi NU kalau dibiarkan. 

Artinya kalau ngurusi NU sesuai khittah NU--jangan dibuat mainan apalagi menjadikan tameng dalam mencapai tujuan tertentu---lebih lebih untuk kepentingan politik---jangan sampai terjadi.

Pesan dhawuh K.H. Sahal Mahfudz “Neng NU iku urip-urip NU, ojo pisan-pisan golek urip neng NU”. 

Dalam mengurusi NU perlu kita mencontoh KH Wahab Chasbullah inisiator berdirinya NU, beliau rela berkorban tidak hanya jiwa dan raganya, tetapi untuk membesarkan NU beliau bahkan rela menjual sebidang tanah-tanahnya juga apa saja yang dimilikinya untuk kepentingan besarkan organisasi NU.

Pengorbanan untuk NU yang beliau lakukan, tentu mengajarkan mengurusi NU butuh figur punya hati ikhlas dan rela berkorban, untuk besarkan NU bukan mengorbankan NU demi sesuatu kepentingan tertentu yang sifatnya materialistik dan pragmatis. Naudzubillahi mindzalik!. 

Wallahu 'A'lam bi as-Showab. 

"Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin".

(@hyan_elbanis) 

  • Tentang Penulis
  • youtube