Kajian Tafsir Tematik : Surat Hawamim Dipakai Rangkaian Do'a Dalam Hizib Ulama Tasawuf Abu Hasan Asy-Sadzili Hingga Ibnu Arabi Saat Hadapi Situasi Genting

Yasayyidiyarasulallah | Al Qur'an mengandung pengetahuan tidak hanya berkaitan duniawi, tapi juga mengenai kehidupan sesudah mati (akhirat). 

Selain itu ayat-ayat Al Qur'an kemukzizatannya sangat ampuh dijadikan sebagai perantara do'a, karena Al Qur'an adalah kalam Allah atau wahyu-Nya kepada kekasih-Nya yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Di dalam Al Qur'an didapati Surat Mu’awidzatain, istilah ini untuk menyebut tiga surat (Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas). Sama seperti Al-Mu’awidzatain, Al-Qur’an juga memiliki sekumpulan surat yang dikenal Surat Hawamim. 

Surat Hawamin adalah nama bagi tujuh surat di dalam Al-Qur’an yang dibuka dengan huruf muqata’ah (yang berdiri sendiri) seperti ha (ح) dan mim (م). Tujuh surat tersebut adalah Surat Al-Mu’min/Ghafir, Surat Fusshilat, Surat As-Syura, Surat Al-Zukhruf, Surat Ad-Dukhan, Surat Al-Jatsiyah, dan Surat Al-Ahqaf.

Beberapa ulama besar tasawuf seperti Abu Hasan Al-Syadzili hingga Ibn Arabi, ayat muqata’ah dalam surat Hawamim digunakan sebagai rangkaian doa perlindungan kepada Allah pada keadaan genting seperti peperangan.

Ibnu Arabi misalnya, merangkai Hizib Wiqayah dalam masa Perang Salib. Sementara itu Imam Syadzili sebagaimana penjelasan Cyiril Glasse dalam edisi revisi The New Encylocpedia of Islam (2002) menulis Hizib Bahr ketika Kota Damaskus mendapatkan serangan dari kelompok non-muslim (Tar-Tar) Mongolia.

Sampai saat ini Hizibnya itu banyak diamalkan umat Islam, terutama di Indonesia khususnya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang diajarkan Ulama dan Kyai NU. 

Surat Hawamim termasuk kategori ayat mutasyabihat, yaitu hanya Allah yang mengetahui maknanya. Para mufassirin dalam kitab -kitab tafsirnya menyebutkan setiap surat dalam Al Qur'an diawali Mutasyabihat seperti NUN, Alif Lam Mim, Ha Mim, Qof menjadi rahasia Allah dalam urusan beriman kepada ke-Rasul-an Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Menurut Thomas Hughes dalam Dictionary Islam (1885) surat Hawamim bermula dari lafal ‘Haa-Miim’ di awal surat.

Dari catatan Hughes atas Kitab Mishkat, penamaan Haa Miim juga berkaitan dengan satu hadis Nabi dalam Kitab Misykat yang mengisahkan bahwa seorang tua datang kepada nabi dan mengeluh kesulitan menghafal Al-Qur’an dikarenakan ingatannya yang lemah.

Maka Nabi pun menjawabnya perintah, “Jika demikian, ulangilah tiga surat yang berawalan dengan Ha Mim.”

Selain penjelasan itu, penyebutan istilah Hawamim sebagai nama surat juga disebut oleh Rasulullah sebagaimana dicatat dalam Shahih Bukhari no. 4612, Sunan Ibnu Majah no. 1046, Musnad Ibnu Hanbal no. 401, Sunan Darimi no. 12 dan 22, dan Sunan Tirmidzi.

Mengenai Hawamim ulama tafsir, semuanya Surat Makkiyah (turun di Makkah). Ciri tujuh surat yang dimulai oleh hawamim pertama adalah menunjukkan kedudukan Al-Qur’an pada ayat kedua atau ketiganya.

Surat Makkiyah sendiri selain lebih pendek dari surat Madaniyah, isinya adalah banyak menyinggung soal keimanan pada hari akhir, penguatan akidah Tauhid, dan mengupas kepalsuan mitos dan tuhan-tuhan palsu yang pada masa Jahiliyah Arab menjadikan mereka tersesat.

Maka dengan datangnya Islam melalui Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam mereka diajak ke jalan yang benar dalam berketuhanan, yaitu adanya tidak ada Tuhan selain Allah (La ilaha illa Allah Muhammadarrasulullah). Waallahu A’lamu Bisshowab. 

Semoga bermanfaat, 

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallim ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin. 

(@hiyan_elbanis) 

  • Tentang Penulis
  • youtube