Kajian Tafsir Tematik: Pemuda Ideal Dalam Al Qur'an, Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Yasayyidiyarasulallah | Pemuda menentukan masa depan bangsanya, apabila pemudanya baik maka negaranya juga akan baik, tapi jika pemudanya tidak baik akhlaknya rusak hancurlah bangsanya.

Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 menjadi sejarah tinta emas kebangkitan pemuda melawan penjajah. Keberanian mereka menginspirasi untuk bebaskan negeri ini dari penjajah bangsa asing saat itu --Indonesia dalam cengkraman penjajah Belanda--.

Discourse tentang pemuda memang menarik dalam pembahasan dari zaman ke zaman. Namun pemuda saat ini telah lalai serta terlena dengan arus globalisasi digitalisasi. Banyaknya para pemuda yang telah melupakan model remaja atau pemuda yang sesungguhnya. 

Yaitu teladan-teladan yang Allah azza wa jalla sebutkan dalam Al-Qur'an seperti nilai idealisme dan kejuangan masa muda Nabi Ibrahim 'alaihis salam pembela agama yang mengajarkan Tauhid (La ilaha Illa Allah) kepedulian dan tanggung jawab Nabi Musa alaihis salam untuk menolong orang yang lemah, kisah pemuda yang tertidur didalam gua yaitu Ashabul Kahfi demi menyelamatkan iman, kesabaran Nabi Yusuf alaihis salam dalam menghadapi ujian dan godaan di masa remaja. Dan keteguhan serta kesabaran Maryam alaihas salam  dalam menghadapi cobaan.

Dalam Al Qur'an disebutkan karakteristik pemuda yang ideal diidamkan, Allah azza wa jalla berfirman: 

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ

Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka. (Al-Kahf [18]:13).

Ini adalah ayat yang menggambarkan para pemuda Ashabul Kahfi yang dikatakan sebagai pemuda-pemuda beriman, lalu Allah tambahkan hidayah. Dari kisah Ashabul Kahfi, kita bisa tahu bahwa Allah mengidamkan pemuda yang memiliki keimanan yang Tangguh. Karena Ashabul Kahfi berhasil mempertahankan keimanannya karena Sang Raja kala itu memaksa mereka untuk menyembah berhala. 

Namun Ashabul Kahfi tidak mau menyerah begitu saja, mereka mencari jalan keluar dengan mencari gua sebagai tempat untuk berlindung. Dari sini kita tahu bahwa pemuda yang diidamkan Al-Qur’an adalah pemuda yang mencari penyelesaian masalah, bukan lari dari masalah. 

Al-Qur’an bukan hanya menggambarkan pemuda idaman. Al-Qur’an juga mengajarkan bagaimana proses yang harus dilewati oleh pemuda. Ini bisa kita simak dari nasihat-nasihat Luqman Hakim kepada putranya.

Ketika Luqman Hakim melarang putranya menyekutukan Allah. Ketika Luqman Hakim mengingatkan putranya untuk salat dan amar makruf nahi munkar. Ini adalah poin pertama untuk menumbuhkan keimanan pemuda.

Selain itu, Luqman Hakim juga memberikan nasihat yang berkaitan dengan akhlakul karimah. Misalnya, berakhlak yang baik kepada kedua orang tua, tidak sombong, sabar, dan tentu saja selalu merasa berada dalam pengawasan Allah sehingga lebih hati-hati dalam bersikap, berbicara, dan lebih hati-hati dalam melakukan aktivitas apapun, termasuk aktivitas bermedia sosial.

Kontekstualisasi pesan kisah-kisah pemuda dalam Al Qur'an dengan kehidupan para pemuda pada masa kini adalah perlunya para pemuda memiliki keimanan yang kuat dan menanamkan ke dalam hati mereka keimanan itu dengan sekuat-kuatnya. Perlunya para pemuda memiliki keteguhan hati dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah yang mereka imani adalah adalah yang memiliki kekuasaan atas langit dan bumi dan Maha Kuasa atas sesuatu yang ada di alam ini. 

Perlunya para pemuda untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan segala yang diperintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Perlunya pemuda senantiasa memohon kepada Allah rahmat, karunia, dan hidayahnya agar mereka senantiasa berada pada jalan-Nya yang benar.

Iman kepada Allah menjadi sumber dan fondasi kekuatan untuk beriman kepada unsur-unsur iman yang lain. Iman yang kuat yang ada di dalam hati memberi dorongan yang kuat untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Iman yang kuat akan mendorong kita dengan kuat pula untuk beramal saleh. 

Iman yang kuat mendorong kita untuk menjauhi semua yang dilarang oleh Allah. Kalau sudah beriman dan beramal saleh, pastilah kita beruntung dunia dan akhirat. Pemuda-pemuda yang memiliki keimanan yang kuat dengan amal saleh akan aman dan selamat dunia dan akhirat.

Kisah Nabi Ibrahim dikenal sebagai seorang pemuda yang menentang penyembahan berhala yang dilakukan kaumnya. Dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 60, disebutkan bahwa ia dihina dan dianggap sebagai perusak oleh kaumnya karena menghancurkan berhala-berhala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ ۗ

Mereka (para penyembah berhala yang lain) berkata, “Kami mendengar seorang pemuda yang mencela mereka (berhala-berhala). Dia dipanggil dengan nama Ibrahim.” (Al-Anbiyā’ [21]:60)

قَالَ بَلْ فَعَلَهٗ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا فَسْـَٔلُوْهُمْ اِنْ كَانُوْا يَنْطِقُوْنَ

Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar ini yang melakukannya. Tanyakanlah kepada mereka (patung-patung lainnya) jika mereka dapat bek.” (Al-Anbiyā’ [21]:63)

Ibrahim menjawab dengan jawaban yang mengejutkan untuk memberi pelajaran kepada mereka. Beliau berpura-pura tidak mengaku dirinya yang merusak patung-patung itu. Dia menjawab, “Sebenarnya patung besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.” Melalui jawaban ini pemuda Ibrahim menyadarkan mereka bahwa patung itu tidak patut disembah.

Nabi Ibrahim menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa sejak muda, bahkan saat harus berhadapan dengan orang tuanya sendiri. Tidak hanya itu, jawaban Ibrahim di atas menggambarkan kebijaksanaan dan kekuatan logikanya dalam menghadapi penyembah berhala. Jawaban ini membuat mereka terdiam sejenak, karena secara logis mereka tahu patung tersebut tidak bisa berbicara, bergerak, atau melakukan apapun.

Ibrahim kemudian melanjutkan dengan argumen bahwa benda-benda yang mereka sembah itu sebenarnya tidak memiliki kekuatan, tidak bisa berbicara, apalagi memberikan manfaat atau mudarat. Melalui logika dan kata-katanya yang tajam, Ibrahim ingin menyadarkan kaumnya bahwa menyembah benda mati adalah tindakan yang keliru.

Kisah Ibrahim membawa banyak pelajaran yang relevan untuk pemuda masa kini, terutama tentang keteguhan prinsip, keberanian menghadapi tekanan sosial, dan penggunaan akal sehat dalam membedakan yang benar dan salah.

Di era modern ini, dengan berbagai pengaruh global yang masuk melalui teknologi, informasi, dan budaya, pemuda dapat belajar dari Ashabul Kahfi dan Ibrahim tentang keteguhan iman, ketahanan mental, perlindungan diru, keberanian menghadapi tekanan sosial, dan penggunaan logika dan berfikir kritis dalam menghadapi fakta-fakta dan problematika sosial kemasyarakatan. Waallahu A’lamu Bisshowab. 

Semoga bermanfaat, 

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallim ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin. 

(@hiyan_elbanis) 

  • Tentang Penulis
  • youtube