Kalimat dzikir hasbunallah wa ni'mal wakil ni dari petikan surat Al Imran ayat 173 yang berbunyi:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “hasbunallah wa ni’mal wakiil [cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung]“. ” (QS. Ali ‘Imron: 173)
Menurut sahabat Ibnu ‘Abbas radiyallahu 'anhu yang secara khusus dido'akan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar diberikan Alla azza wa jalla kemampuan dalam memahami Al Qur'an (Tafsir)" seperti disebutkan Imam Bukhari (dalam hadisnya Bukhari no. 3756) : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memelukku (Ibnu Abbas) ke dada beliau, dan beliau berdo'a,
اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الحِكْمَةَ
“Ya Allah, ajarkanlah hikmah kepadanya (Ibnu Abbas).”
Dalam riwayat lainnya dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah Maimunah radhiyallahu ‘anha (bibi Ibnu ‘Abbas). Beliau menyiapkan air wudhu untuk Rasulullah di waktu malam. Maimunah berkata, “Wahai Rasulullah, yang menyiapkan air wudhu untukmu adalah Ibnu ‘Abbas.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, pahamkanlah dia terhadap agama dan ajarkanlah (ilmu) tafsir kepadanya.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad, 1: 328 dengan sanad yang hasan).
Sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengajak Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma untuk mengikuti majelis musyawarah beliau yang diisi oleh para sahabat yang berusia lebih tua (senior), karena memiliki pemahaman yang mengagumkan terhadap makna ayat al-Qur'an.
Terkait kalimat dzikir tersebut kata Ibnu Abbas disebutkan dalam hadis Imam Bukhari:
عن ابْنِ عَبَّاس رضي اللَّه عنهما قال : «حسْبُنَا اللَّهُ ونِعْمَ الْوكِيلُ قَالَهَا إبْراهِيمُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حينَ أُلْقِى في النَّارِ ، وَقاالهَا مُحمَّدٌ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حيِنَ قَالُوا: «إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إيماناً وقَالُوا : حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوكِيلُ »
وفي رواية له عن ابْنِ عَبَّاسٍ رضي اللَّه عنهما قال : « كَانَ آخِرَ قَوْل إبْراهِيمَ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حِينَ ألْقِي في النَّارِ « حسْبي اللَّهُ و وَنِعمَ الْوَكِيلُ » .
"Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, ia berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau dilemparkan ke dalam api. Sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kalimat tersebut dalam ayat," ;
إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (HR. Bukhari no. 4563).
Asbabun nuzul atau turunnya ayat ini mengenai Kalimat ‘Hasbunallah wa ni'mal wakil’ merupakan kalimat yang digunakan oleh para sahabat ketika mereka sedang terdesak dan tersebar sebuah berita propaganda dihembuskan kaum kafir untuk menakuti umat Islam dengan mereka mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah wafat dalam perang Uhud. Maka kemudian Allah membalik perasaan khawatir mereka dengan sebuah ketenangan serta kemenangan. Hal ini tertulis dalam surah Ali Imran ayat 173 tersebut.
Kalimat hasbunallah wa ni'mal wakil ini juga digunakan pada saat pasukan muslim ditakut-takuti oleh orang-orang Quraisy dalam perang Hamra’ul Asad. Pada saat itu orang-orang Quraisy mengatakan akan menyerang pasukan muslim dengan 290 (ribu) sekian pasukan, sehingga pasukan Muslim akan mengalami luka-luka. Tetapi pasukan Muslim pada saat itu mengatakan ‘Hasbunallah Wanikmal Wakil’ dengan penuh keyakinan.
Dalam Tafsirnya Ibnu Katsir menukil dari Abu Bakar ibnu Mardawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ma'mar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa Ats-Tsauri, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahim ibnu Muhammad ibnu Ziyad As-Sukari, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Iyasy, dari Humaid At-Tawil, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi ﷺ. Pernah dikatakan kepadanya seusai Perang Uhud, "Pasukan kaum musyrik telah menghimpun kekuatannya untuk menyerang kalian lagi, maka takutlah kalian kepada mereka." Lalu Allah ﷻ menurunkan ayat ini.
Ibnu Mardawaih meriwayatkan pula berikut sanadnya melalui Muhammad ibnu Abdullah Ar-Rafi'i, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Abu Rafi'), bahwa Nabi ﷺ mengirimkan sahabat Ali bersama sejumlah pasukan untuk mengejar Abu Sufyan. Lalu di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang Badui dari Khuza'ah, dan lelaki Badui itu berkata, "Sesungguhnya kaum musyrik telah menghimpun kekuatannya untuk menyerang kalian." Maka sahabat Ali dan teman-temannya mengatakan: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” Lalu turunlah ayat ini sehubungan dengan mereka.
Menurut Imam Ahmad telah menceritakan kepada kami Asbat, telah menceritakan kepada kami Mutarrif, dari Atiyyah, dari ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Mana mungkin aku merasa enak, sedangkan malaikat pemegang sangkakala telah bersiap-siap meniup sangkakalanya dan mengerutkan dahinya menunggu perintah (dari Allah), lalu ia akan meniup(nya)." Maka sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ bertanya, "Lalu apakah yang harus kami ucapkan?" Nabi ﷺ bersabda: “Ucapkanlah oleh kalian, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, hanya kepada Allah-lah kami bertawakal'."
Hadits ini diriwayatkan pula melalui berbagai jalur. Hadits ini berpredikat jayyid (bagus). Telah diriwayatkan kepada kami melalui Ummul Mukminin Zainab dan Siti Aisyah, bahwa keduanya saling membanggakan dirinya. Siti Zainab berkata, "Allah telah menikahkan diriku, sedangkan kalian dinikahkan oleh orang-orang tua kalian." Siti Aisyah berkata, "Pembebasanku (dari tuduhan berbuat serong) diturunkan dari langit di dalam Al-Qur'an." Pada akhirnya Siti Zainab menyerah kepada Siti Aisyah, kemudian ia bertanya, "Apakah yang engkau ucapkan ketika engkau mengendarai unta Safwan ibnul Mu'attal?" Siti Aisyah menjawab, "Aku mengucapkan, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung'." Siti Zainab berkata, "Engkau telah mengucapkan kalimat yang biasa diucapkan oleh orang-orang mukmin."
Disebutkan pula surat Ali Imran ayat 173 ini atas berhubungan dengan pasukan Nabi Muhammad yang mendapatkan keuntungan besar dari perdagangan mereka, padahal tujuan semula keberangkatan mereka adalah untuk berperang, hal ini diceritakan dalam Tafsir Shawi dan al-Lubab, ketika Abu Sufyan dan pasukannya akan kembali ke Makkah dari perang Uhud, dia mengadakan kesepakatan dengan Nabi untuk kembali berperang setahun kemudian, tepatnya pada musim Badar Sughra, yaitu musim raya yang diadakan setahun sekali, dimana antar kabilah Arab saling bertemu untuk mengadakan transaksi dagang.
Setelah waktu yang dijanjikan datang, tepatnya tahun ke empat hijriyah pada bulan Sya’ban, Abu Sufyan bersama pasukannya keluar dari Makkah dan sampai ke Marr adz-Dzahran. Tiba-tiba hati Abu Sufyan merasa gentar, takut melanjutkan peperangan, dan kebetulan bertemu dengan Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’i.
Abu Sufyan berkata kepada Nu’aim, “Wahai Nu’aim! Aku telah sepakat dengan Muhammad untuk bertemu pada musim Badar, dan tahun ini adalah tahun paceklik. Aku ingin kesepakatan ini dibatalkan, tetapi yang membatalkan Muhammad, bukan aku. Datanglah ke Madinah, lalu lemahkan semangat pasukan Muhammad agar mereka tidak jadi berangkat. Dan engkau akan mendapatkan hadiah sepuluh unta dariku.”
Nu’aim kemudian pergi ke Madinah, dan mendapati Nabi beserta para sahabat sedang bersiap-siap untuk berangkat perang. Nu’aim berkata pada mereka, “Apa yang sedang kalian lakukan?”. Mereka menjawab, “Kami akan pergi menuju tempat perjanjian kami dengan Abu Sufyan.”
“Kalian tidak akan mampu melawan mereka, mereka telah berkumpul untuk melawan kalian, kalian seharusnya takut pada mereka ”, kata Nu’aim. Provokasi Nu’ain itu membuat nyali sebagian pasukan merasa ciut. Melihat gelagat itu, Nabi mengatakan, “Sungguh aku akan pergi menemui mereka, walaupun sendiri”.
Sementara para sahabat yang memiliki keteguhan iman, yakin dengan pertolongan Allah, mereka mengatakan, “hasbunallah wa ni’mal wakiil”. Nabi kemudian berangkat bersama seribu lima ratus pasukan, dan sampailah mereka di Badar. Yaitu sebuah pasar tahunan, tempat berkumpulnya para pedagang Arab selama delapan hari.
Pasukan Nabi kebetulan bertemu dengan musim Badar tersebut, sehingga mereka ikut mengadakan transaksi, memperjualbelikan harta yang mereka miliki. Mereka mendapatkan keuntungan berlimpah, dari uang satu dirham bisa mendapatkan dua dirham. Sedangkan tidak ada satu pun musyrik Makkah yang datang ke tempat itu. Akhirnya mereka pulang ke Madinah dengan membawa keuntungan dan pahala yang besar.
Hizib Hasbunallah wa Ni'mal Wakil amalan Syaikh Abu Hasyan As-Syadzili
Imam Abu Hasan asy-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyyah adalah seorang wali agung yang namanya selalu dikaitkan dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, karenakan keduanya memiliki derajat kewalian yang sama. Beliau populer dengan amalan - amalan yang menjadi rujukan ulama seperti pendiri NU Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari dalam hizibnya (Hizib Al Falah) juga merujuk hizibnya Imam Abu Hasan asy-Syadzili.
Menurut Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Lathaif al-Minan, leluhur Imam Abu Hasan asy-Syadzili adalah Isa bin Muhammad bin Sayyidina Hasan. Sedangkan menurut Ibnu ‘Iyadh dalam kitab al-Mafakhir al-‘Ulya fi al-Ma’atsir asy-Syadziliyyah, leluhur Imam Abu Hasan asy-Syadzili adalah Isa bin Idris bin Umar bin Idris bin Abdullah bin al-Hasan al-Mutsanna bin Sayyidina Hasan cucu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Dalam kitabnya yang berjudul as-Sir al-Jalil (Rahasia Agung), pada bab kelima beliau menyampaikan sebuah amalan agar terhindar dari kejahatan makhluk, dimudahkan rezeki, agar disukai makhluk, dan semua kesempitan hidup dimudahkan oleh Allah azza wa jallah.
Kata Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili ra berkata: “Hendaknya engkau senantiasa mengucapkan kalimat Hasbunallahu wani’mal wakiil sebanyak empat ratus lima puluh kali, agar engkau menjadi salah seorang yang beruntung yang tidak akan merasa takut atau susah sedikitpun untuk menghadapi segala kesulitan.”
Berikut keterangan dari Syekh Abu Hasan mengenai amalan hasbunallah wa ni'mal wakil dalam surat Al Imran ayat 173-174;
فَالْيَقْرَأْ فِي كُلِّ يَوْمٍ: “حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ” عَدَدَ حُرُوْفِهَا، وَهِيَ أَرْبَعُمِائَةٍ وَخَمْسُوْنَ مَرَّةً، ثُمَّ يَقْرَأُ بَعْدَ ذَلِكَ قَوْلَهُ تَعَالَى: “الَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْمَانًا وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ” (آل عمران : 173) سَبْعَ مَرَّاتٍ،
وَفِي الْمَرَّةِ السَّابِعَةِ يَقُوْلُ: “فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللهِ وَاللهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ” (آل عمران : 174). وَمَنْ دَاوَمَ عَلَى ذَلِكَ كَانَ لَهُ سِرٌّ عَجِيْبٌ فِي تَسْهِيْلِ الْعَسِيْرِ
Dari keterangan diatas dapat dijelaskan, amalan tersebut adalah dengan pertama membaca:
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
"Hasbunallaahu wa ni’mal wakil" dibaca sebanyak 450x, kemudian kedua dilanjut membaca ayat berikut ini:
الَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيْمَانًا وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
"Alladziina qaala lahumun naasu innan naasa qad jama’uu lakum fakhsyauhum fazaadahum iimaanaa, wa qaaluu hasbunallahu wani’mal wakiil" dibaca 7x dan yang ketiga dilanjutkan membaca ayat berikut ini:
فَانْقَلَبُوْا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوْءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللهِ وَاللهُ ذُوْ فَضْلٍ عَظِيْمٍ
"Fanqalabuu bini’matim minallaahi wa fadllil lam yamsashum suu-uw wat-taba’uu ridlwaanalllahi, wallaahu dzuu fadllin ‘adziim" dibaca 1x
Menurut Syekh Abu Hasan, siapa saja yang mengamalkan wirid di atas secara istiqamah, akan mendapatkan sirr (rahasia) yang mengagumkan untuk memudahkan segala sesuatu yang sulit. Kalimat “hasbunallah wa ni’ma al-wakil” di baca sebanyak 450 x sesuai dengan jumlah bilangan kalimat tersebut.
Kalimat dzikir “Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil” termasuk dzikir sederhana, namun mengandung makna yang luar biasa. Dzikir ini menandakan tentang keutamaan dan kemuliaan bertawakal dan pentingnya hal ini bagi setiap hamba, yaitu ia hanya bertawakal pada Allah Ta’ala, pasrah pada-Nya, dan menjadikan-Nya sebagai tempat bersandar dalam segala urusan. Wallahu 'a'lam bi as-shiwab.
"Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin"
(@hyan_elbanis)
