Namun sebelumnya ada baiknya mengingat kembali masalah telinga berdenging yang pernah dibahas gayeng dalam Muktamar Nahdlatul Ulama ke-11 di Banjarmasin, pada 19 Rabiul Awwal 1355 H/9 Juni 1936.
Dalam muktamar itu dikatakan bahwa telinga berdenging menunjukkan; bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang menyebut seseorang itu dalam perkumpulan yang tertinggi (al-mala` al-a'la). Supaya orang tersebut senantiasa ingat dan bersholawat kepada beliau.
Penjelasan itu didasarkan dalam kitab as-Siraj al-Munir, dari pendapat Abdurrauf al-Munawi yang dikemukakan oleh 'Ali al-'Azizi:
قَالَ الْمُنَاوِيُّ فَإِنَّ اْلأُذُنَ إِنَّمَا تَطُنُّ لَمَّا وَرَدَ عَلَى الرُّوْحِ مِنَ الْخَبَرِ الْخَيْرِ وَهُوَ أَنَّ الْمُصْطَفَى قَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ اْلإِنْسَانَ بِخَيْرٍ فِي الْمَلاَءِ اْلأَعْلَى فِيْ عَالَمِ اْلأَرْوَاحِ
"Imam al-Munawi berkata, 'sesungguhnya telinga berdengung hanya saat datang berita baik ke ruh, bahwa Rasasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menyebutkan (orang yang telinganya berdengung) itu dengan kebaikan di al-Mala' al-A'la di alam ruh."
Pernyataan ini bisa dilihat pada Akamul Fuqaha, yakni buku kumpulan dari hasil-hasil bahtsul masa'il diniyyah (pembahasan masalah keagamaan pada Muktamar dan Munas Nahdatul Ulama) NU tersebut.
Dengan demikian penjelasan mengenai arti telinga berdenging menurut Islam, yakni agar kita mengingat dan bersholawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Pada dasarnya suara "nging" di telinga tidak ada kaitannya soal pertanda buruk. Namun jika dikaitkan menurut Islam, arti telinga berdenging bisa menjadi peringatan agar orang tersebut untuk lebih meningkatkan mengingat (bersholawat) kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam suatu hadis bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
إِذَا طَنَّتْ أُذُنُ أَحَدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي وَلْيُصَلِّي عَلَيَّ وَلْيَقُلْ ذَكَرَ اللَّهُ مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ - رواه الحكيم وابن السني، الطبراني وابن عدي وابن عساكر
Artinya: "Jika telinga salah seorang di antara kalian berdengung, maka hendaknya dia mengingatku (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam), membaca selawat (sholawat) kepadaku, dan mengucapakan: dzakarallahu man dzakarani bi khairin." (H.R. al-Hakim, Ibn as-Sinni, at-Thabarani).
Mengenai sabda tadi, az-Zaila'i menyatakan bahwa kandungan dalam hadis tersebut tidak hanya sekedar mengingat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, melainkan juga untuk senantiasa bersholawat kepada beliau.
Dengan demikian, ketika telinga berdenging, Rasullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kita untuk mengucapkan dzakarallahu man dzakarani bi khairin (Semoga Allah subhanahu wa ta'ala mengingat orang yang mengingatku dengan kebaikan).
Wallahu 'a'lam bi as-showab.
"Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin" .
(@hyan elbanis)
