Petuah Bijak Sang Mujtahid Imam Syafi'i Tentang Ciri Orang Hebat

Yasayyidiyarasulallah | Orang hebat bukan karena status, juga bukan sebab harta atau kedudukannya. Tetapi orang hebat adalah mereka yang mampu mengatasi kesulitannya tanpa meminta belas kasihan orang lain, apalagi sampai meminta-minta alias ngemis-ngemis pada orang lain untuk bisa memenuhi hajatnya. 

Berikut pandangan Imam Syafi'i Rahimahullah  (Lahir 150 H/767 dan Wafat 204 H/820 M) yang pemikiran madhabnya banyak diikuti umat Islam di seluruh dunia, termasuk di negeri Indonesia ini (Nahdlatul Ulama). 

Suatu ketika Imam Syafi’i Rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang, “Mana yang lebih hebat bagi seseorang, antara dikokohkan (dimenangkan) atau diberi ujian.” Lalu Imam Syafi’i menjawab, “Ia tidak dikokohkan sebelum diberi ujian” (لَا يُمَكَّنَ حَتَّى يُبْتَلَى) (Ibnu Al-Qayyim,Al-Fawa-id:  283).

Dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Baihaqi 2/188, beliau mengkategorikan tiga ciri orang disebut hebat yaitu, ada tiga ciri orang hebat menurut beliau yang ketiganya menunjukkan kemuliaan seseorang. 

Pertama, orang yang mampu menyembunyikan kemiskinannya, sehingga orang lain menyangkanya berkecukupan karena ia tidak pernah meminta.

كتمان الفقر حتى يظن الناس من عفتك أنك غني

Ketika seseorang dihimpit kesulitan ekonomi, didera kemelaratan sehingga berada di titik terendah dalam kehidupannya, mereka lebih banyak yang mengeluh dan mengais rezeki dengan mengabaikan kehormatan dirinya.

Mereka lebih senang meminta-minta untuk mendapat belas kasihan orang lain. Mereka malas berubah dan keluar dari kemiskinannya dengan bekerja keras serta tak berharap belas kasihan.

Tak banyak orang yang bisa keluar dari situasi ini dengan tetap mempertahankan martabatnya. Jika ada yang bisa melakukannya, inilah ciri pertama dari orang hebat menurut Imam Syafii.

Kedua, orang yang mampu menyembunyikan amarah, sehingga orang mengiranya merasa ridha.

وكتمان الغضب حتى يظن الناس أنك راض

Amarah berasal dari setan yang menyusup ke dalam jiwa manusia. Setan akan terus berupaya membuat manusia untuk ikut dalam permainan dan jebakan-jebakannya.

Untuk menghindarinya tentu bukanlah usaha yang ringan karena membutuhkan ilmu dan kesabaran yang ditanamkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada dirinya. Oleh karenanya kemampuan ini tidak banyak dimiliki orang.

Ketika seseorang mampu mengatur bahkan menghilangkan amarahnya, inilah ciri kehebatan yang membawanya kepada kemuliaan. Dalam QS. Ali Imran ayat 134, Allah menyebut kelompok ini sebagai orang-orang yang berbuat ihsan (kebajikan):

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Ketiga, orang yang mampu menyembunyikan kesusahan, sehingga orang lain mengiranya selalu senang.

وكتمان الشدة حتى يظن الناس أنك متنع

Tak banyak orang yang memiliki kemampuan ini. Hanya mereka yang memiliki keimanan kokoh, kesabaran, dan ketenangan yang berusaha untuk tampil bahagia di tengah kesusahannya.

Orang seperti ini akan berusaha menampilkan kehidupannya tampak bahagia di depan orang lain, karena setiap kesusahan akan dijalaninya dengan kesabaran. Jeritan tangisnya hanya ditampakkan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala dalam dzikir dan doa. *****

Lebih dekat mengenal beliau Imam Syafi’i yang pandangan bijaknya tersebut diatas merupakan salah seorang ulama besar, mujtahid mutlak, pembaharu agama setiap 100 tahun sekali, dan juga pendiri mazhab fiqih yang masyhur diikuti, tentu menjadi nama yang tak asing lagi bagi masyarakat muslim Tanah Air.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Sa’ib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay. (Lihat: Yusuf bin Taghri, an-Nujum az-Zahirah fi Muluki Mishr, Kairo: Wizaratus-Tsaqafah], jilid II, halaman 176).

Dengan demikian, nama Syafi’i dinisbahkan kepada salah satu nama kakeknya yang bernama Syafi’. Selain nisbah masyhur Syafi’i, namanya juga dinisbahkan kepada al-Qurasyi, al-Muthalibi, dan al-Maki.

Ia lahir di Askelon (Askolan) Gaza, Palestina pada tahun 15 Hijriah. Pada usia 2 tahun, setelah ayahnya wafat, Syafi’i kecil dibawa oleh ibunya ke Mekah. Setelah dewasa, ia dua kali berkunjung ke Baghdad. Di sana ia menyusun qaul-qaul qadim atau mazhab lamanya. Setelah itu, ia menuju Mesir dan tinggal di sana pada tahun 199 Hijriah. Di sana ia menyusun qaul-qaul jadid atau mazhab barunya.

Manaqib atau kisah perjalanan hidup Imam asy-Syafi’i terlalu banyak dan keutamaan-keutamaannya terlalu masyhur untuk diceritakan. Kecerdasan dan kejeniausannya sudah tampak sejak kecil. Tak heran setelah dewasanya, ia berhasil menjadi mujtahid yang brilian.

Bagaimana tidak pada usia 7 tahun, ia sudah hapal Al-Quran. Hapal kitab al-Muwatha karya Imam Malik pada usia 10 tahun. Pada usia 15 tahun, ia sudah mampu berfatwa memenuhi permintaan para ulama lain dan siapa saja yang membutuhkan. Namun, tidaklah ia berfatwa kecuali setelah menghapal 10.000 hadis. (Lihat: Jamaluddin Abul-Farah al-Jauzi, al-Muntazhim fi Tarikh al-Umam, Beirut: Darul Kutub, 1992, Jilid X, halaman 135).

Satu riwayat menyebutkan, pada awal usianya, Imam Syafi’i tidak begitu banyak membaca Al-Quran karena sibuk menuntut ilmu. Baru di penghujung usianya, ia memperbanyak kembali tilawah Al-Qurannya.

Ar-Rabi mengatakan, “Imam Syafi’i setiap hari satu kali mengkhatamkan Al-Quran. Bahkan, di bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya hingga 60 kali di luar bacaan Al-Quran pada saat shalat. Suaranya sangat merdu. Tak heran, saat suaranya terdengar orang banyak, mereka sampai menangis keras.”

Sama halnya dalam ibadah malamnya. Setiap malam, Imam Syafi’i selalu bangun di sepertiganya. Bahkan, di akhir-akhir hayatnya, ia selalu menghidupkannya semalaman.

Husain al-Karabisi pernah menceritakan pengalamannya, “Aku bermalam di tempat Imam asy-Syafi’i tidak hanya satu malam. Di sepertiga malam, ia selalu bangun. Ia tidak kurang membaca ayat 50, bahkan sampai 100 ayat. Tidaklah melewati ayat tentang rahmat kecuali memohon kepada Allah. Dan tidaklah melewati ayat tentang azab kecuali berlindung kepada-Nya.” (Lihat: Yusuf bin Taghri, an-Nujum az-Zahirah fi Muluki Mishr, Kairo: Wizaratus-Tsaqafah, jilid II, halaman 176).

Imam Syafi’i sendiri tutup usia di Fustath (Kairo), pada hari Kamis, akhir bulan Rajab 204 Hijriah dalam usia 54 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Qarrafah ash-Shughra yang sekarang dikenal sebagai komplek pemakaman para wali yang ada di Kairo, Mesir. Di tempat pemakamannya terdapat pelataran atau halaman yang pernah dimakmurkan oleh Sultan Shalahuddin Yusuf dan dibangun kubah di atas pusaranya oleh Raja Kamil Muhammad. Dan kubah itu pun masih ada hingga sekarang.

Di sekitar makam Imam Syafi’i terdapat Makam Syaikh Jalaludin Al-Suyuthi, salah satu penulis Tafsir Jalalain bersama Jalaludin Al-Mahalli, Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam Laits, Rabiah Al-Adawiyah dan Sahabat Uqbah bin Umar. "Allahummaghfirlahum warhamhum wa 'afihim wa'fuanhum". Al Fatihah. 

Wallahu a'lam bi as-shawab. 

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin".

(@hyan elbanis)

  • Tentang Penulis
  • youtube