Qosidah Burdah beliau susun adalah gubahan syair-syair madah (pujian) kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang menyejukkan hati, laksana mata air yang tak pernah berhenti bersumber akan eloknya nilai-nilai estetika sentuhan al-Bushiry dalam menggubah sajak akhiran mimiyatnya. Rasa mahabbah kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mampu mengesampingkan cintanya terhadap yang lain. Rindu yang selalu membuat orang berharap kehadiran sang kekasih.
Guru Spritual yang berperan penting bagi Imam al Bushiri semasa hidupnya ialah Wali Quthub Sayyidi Syekh Abu al-Abbas al-Mursi. Hal ini mempengaruhi diri al-Bushiri dan membentuknya sebagai seorang sastrawan sekaligus sufi. Al-Bushiri tidak hanya pandai menyusun kata-kata indah, tapi juga mengisi kata-kata tersebut dengan muatan-muatan rasa cinta kepada Allah dan rasulnya. ‘Ali Mubarak berkata: al-Bushiri dan Ibn Athaillah as-Sakandari adalah murid Abil Abbas al-Mursi.
Sang guru menganugrahkan pada al-Bushiri kepiawaian bersyair, dan pada Ibn Athaillah, pemilik kitab al-Hikam, kepiawaian bernarasi (tulisan yang bukan syair). Di antara murid-murid al-Bushiri yang terkenal adalah Imam Abu Hayyan, Imam al-Ya’muri Abul Fath ibn Sayyidin Nass, al-‘Izzu ibn Jama’ah dan lainnya. Sayang sekali, karya-karya bilbiografi jarang sekali yang menyebutkan riwayat beliau secara lengkap.
Beberapa rujukan tentang biografi al-Bushiri mengarah pada al-Minah al-Fikriyah karya Ibn Hajar al-Haitami. Al-Bushiriy wafat pada tahun 694 H/1294 M dalam umur 87 tahun dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abil Abbas al-Mursi di Iskandaria, Mesir. Beberapa karyanya: Al-Kawâkib ad-Duriyyah fi Madh Khair al-Bariyyah (lebih dikenal dengan nama “Burdah”). Tentang madah Nabi; Al-Hamziyyah, tentang madah Nabi; Al-Haiyyah, tentang madah Nabi; Al-Daliyyah, tentang madah Nabi; Tahdzibul Alfad al-A’miyah. Dicuplik dari buku “Menyelami Makna Maulid Burdah”, karya Mohammad Nasef.
Sanad keilmuannya Imam al Bushiri bersambung hingga Sayyidi Abu al-Hasan asy-Syadzili. Dari beliau Imam Bushiri mendapatkan ilmu dzahir dan batin. Ada cerita menarik dibalik sholawat burdah yang digubahnya. Diceritakan bahwa saat itu Imam Bushiri mengalami kelumpuhan yang melumpuhkan fungsi sebagian organ tubuhnya.
Gundah melihat kondisi yang dialaminya, beliau bertekad untuk menuliskan sebuah qasidah berisikan pujian kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, berharap agar Allah subhanahu wa ta'ala menyembuhkan dirinya berkat shalawat kepada sang kekasih.
Imam Bushiri mulai menulis dan mengarang Qosidah Burdah, sembari membayangkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di dekatnya dan mengawasi apa yang ia tulis saat mengarang burdah.
Meskipun dikenal sebagai sastrawan ulung Ia sempat mengalami kesusahan. Saat tulisannya sampai pada kalimat :
فَمَبْلَغُ الْعِلْمِ فِيْـــــــــــهِ أَنّهُ بَشَرٌ
“Puncak pengetahuan tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa sesungguhanya beliau adalah manusia ,”
Ia sama sekali tidak bisa melanjutkan penggalan kalimat syair yang beliau karang. Hingga akhirnya ia tertidur danbermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Dalam mimpinya itu, ia membacakan syair tersebut kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Sampai pada kalimat ‘Fa mablaghul ilmi fihi annahu basyarun’, ia terdiam dan tidak bisa melanjutkan.
Lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘bacalah'. Al-Busyiri pun mengaku tak bisa melanjutkan potongan syair tersebut.
Lalu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
وَأَنّهُ خَيْـــــــــــرُ خَلْقِ اللَّهِ كُلِّهِمِ
“Dan sesungguhnya beliau sebaik-baik semua makhluk Allah subhanahu wa ta'ala.”
Al-Busyiri lalu menambahkan syair tersebut dalam karangannya.
Setelah itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melepas jubahnya dan diselimutkan kepada tubuh Al-Busyiri.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga mengusap wajah Al-Busyiri. Saat itu pula ia terbangun dan melihat jubah pemberian nabi menyelimutinya.
Tak lama kemudian, Imam Bushiri kembali tersadar dan mendapati dirinya telah sehat dan pulih kembali sedia kala.
Penamaan Burdah dinisbatkan kepada kisah seorang sahabat yang bernama Ka'ab bin Zuhair Radiyallahu 'Anhu, salah seorang penyair Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memasangkan burdah (selimut berbulu hitam) mulia kepada Ka'ab. Hal ini tidak beliau lakukan melainkan sebagai tanda dan bentuk rasa cinta beliau kepadanya. Oleh karenanya, nama burdah lalu dipakai untuk para penyair Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari generasi ke generasi.
Dalam Muqaddimah Syarhul Burdah karya Imam al-Baijuri diceritakan, penulisan Qasidah Burdah bermula ketika Imam al-Bushiri menderita sakit lumpuh. Ia tidak dapat melakukan apa pun, hanya berdiam tanpa dapat melakukan apa-apa. Akhirnya Imam al-Bushiri mengisi kekosongan waktunya dengan menulis pujian-pujian indah tentang Nabi Muhammmad saw dengan harapan agar mendapatkan syafaat darinya, sebagaimana dijelaskan:
رُوِيَ أَنَّهُ أَنْشَأَ هَذِهِ الْقَصِيْدَةَ حِيْنَ أَصَابَهُ فَالِجٌ، فَاسْتَشْفَعَ بِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى. وَلَمَّا نَامَ رَأَى النَّبِي فِي مَنَامِهِ، فَمَسَحَ بِيَدِهِ الْمُبَارَكَةِ بَدَنَهُ فَعُوْفِيَ
Artinya, “Diriwayatkan sesungguhnya Imam al-Bushiri menggubah Qasidah Burdah ini ketika sedang menderita sakit lumpuh, kemudian ia memohon syafaat kepada Allah swt dengannya. Lalu ketika tidur, beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengusap badan al-Bushiri dengan tangan yang penuh berkah, dan setelah itu al-Bushiri pun sembuh.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, [Mesir, Maktabah ash-Shafa: 2001], halaman 3).
Setelah bangun dari tidurnya dalam kondisi sehat, banyak orang mendatangi rumahnya, dan kemudian berkata:
“Wahai Tuanku, saya berharap Engkau bisa memberikan qasidah yang di dalamnya ada pujian kepada Rasulullah.”
“Qasidah mana yang Engkau kehendaki?”, jawab Imam al-Bushiri.
“Qasidah yang diawali dengan syair ‘amin tadzakkuri jirânin”, kata mereka.
Kemudian Imam al-Bushiri memberikannya. Setelah itu, banyak orang mengambil berkah darinya sekaligus menjadikannya sebagai wasilah untuk kesembuhan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Imam al-Baijuri, bukan berarti memohon keselamatan dan kesehatan dengan lafal-lafal yang ada dalam Qasidah Burdah dan menganggapnya memiliki otoritas untuk menyembuhkan penyakit, namun murni bertawassul kepada Rasulullah saw dengan perantara Qasidah Burdah. Lebih lanjut Imam al-Baijuri menegaskan :
أَصْبَحَ النَّاسُ يَتَبَرَّكُوْنَ بِهَا وَيَسْتَشْفِعُوْنَ بِهَا، عَلَى أَنَّ الْاِسْتِشْفَاءَ بِهَا لَيْسَ اسْتِشْفَاءً بِأَلْفَاظِهَا، وَاِنَّمَا هُوَ اِسْتِشْفَاءً بِرَسُوْلِ اللهِ
Artinya, “Banyak orang mengambil berkah Qasidah Burdah dan memohon syafaat dengannya, berdasarkan prinsip bahwa permohonan syafaat dengannya bukan dengan lafal-lafalnya, akan tetapi pada hakikatnya adalah memohon syafaat dengan Rasulullah shollalahu 'alaihi wasallam.” (Al-Baijuri, Syarhul Burdah, halaman 4).
Keutamaan Qasidah Burdah Diceritakan dalam kitab az-Zubdah fî Syarhil Burdah, bahwa suatu saat ada orang sakit mata sangat parah, kemudian ia bermimpi seakan mendengar ucapan:
خُذْ مِنَ الْبُرْدَةِ وَاجْعَلْهَا عَلَى عَيْنَيْكَ
Artinya, “Ambillah Qasidah Burdah, kemudian letakkan di depan matamu.”
Setelah terbangun, ia mengadukan mimpinya kepada Syekh al-Wazir. Kemudian Syekh al-Wazir berkata kepadanya: “Qasidah Burdah adalah pujian-pujian kepada Rasulullah, ia bisa menjadi media untuk berobat.” Setelah itu Syekh al-Wazir mengambil Qasidah Burdah dan menyuruh orang itu untuk duduk. Kemudian beliau meletakkan Burdah di depan matanya. Atas izin Allah, penyakit orang tersebut sembuh saat itu juga. Tidak hanya itu, Qasidah Burdah juga bisa dijadikan media untuk memohon kepada Allah agar dipenuhi segala kebutuhan, sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Ali al-Qari:
وَهِيَ مُجَرَّبَةٌ عِنْدَ طَلَبِ الْحَاجَاتِ وَنُزُوْلِ الْمُهِمَّاتِ
Artinya, “Qasidah Burdah sangat mujarab (dijadikan media) untuk memohon pemenuhan berbagai hajat dan suksesnya berbagai kepentingan.” (‘Ali al-Qari, az-Zubdah, halaman 13).
Biografi Imam al-Bushiri bernama lengkap Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Ia lahir di desa Dalas, salah satu desa Bani Yusuf di dataran tinggi Mesir pada 609 H. Al-Bushiri kecil kemudian tumbuh di Bushir, desa asal ayahnya. Nisbat atau sebutan al-Bushiri menunjuk pada desa tersebut. Al-Bushiri wafat pada tahun 696 H, ketika berumur 87 tahun dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abil ‘Abbas al-Mursi di kota Iskandaria, Mesir.
Sejak kecil al-Bushiri dididik ilmu Al-Qur’an oleh ayahnya secara langsung. Ia besar dari keluarga yang sangat mencinta ilmu. Tidak heran jika ia kemudian menjadi sosok ulama yang sangat alim. Selain dari ayahnya, al-Bushiri juga mengembara untuk mencari ilmu kepada para guru. Di antara gurunya adalah Syekh Abul ‘Abbas al-Mursi, ulama yang dikenal sebagai wali qutb dan murid kesayangan Imam Abu Hasan as-Syadzili, pendiri tarekat Syadziliyah. (‘Ali al-Qari, az-Zibdah fî Syarhil Burdah, [Turki, Hidâyatul ‘Ârifîn: 1991], halaman 13; dan Muhammad Yahya, al-Burdah Syarhan wa I'râban, [Damskus, Dârul Bairuti: 1999], halaman 6).
Semangatnya dalam mencari ilmu menjadikan al-Bushiri sebagai ulama yang sangat alim sekaligus menjadi sufi dan sastrawan. Bukti dari keluasan ilmunya bisa dilihat dari berbagai karyanya, yaitu al-Hamziyyah, al-Haiyyah, al-Daliyyah, Qasîdahtul Mudhriyyah dan Tahdzîbul Fâdil A’miyyah. Namun yang paling terkenal adalah al-Kawâkibud Duriyyah fî Madhi Khairil Bariyyah yang lebih populer disebut dengan nama Qasidah Burdah.
Kemasyhuran Qasidah Burdah tidak lepas dari peran penulisnya yang sangat ikhlas dan penuh kecintaan disertai harapan syafaat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sehingga menjadikan tulisannya sangat dikenal dan selalu menggema di belahan dunia. Bahkan Qasidah Burdah tidak hanya menjadi bahan bacaan, namun juga menjadi salah satu kitab yang banyak disyarahi oleh ulama. Di antara ulama yang mensyarahinya adalah, Syekh Ali al-Qari, Imam al-Baijuri, Syekh Badruddin Muhammad al-Ghazi dan ulama lainnya.
عَلىٰ حـَبِيْبِكَ خـَيْرِ الْخَلْقِ كًلِّهِمِ
هـُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِىْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ
لِكُلِّ هـَوْلٍ مِنَ اْلأَهـْوَالِ مُقْتَحِمِ
يَا رَبِّ بالْمُصْطَفٰى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا
وَاغْفِرْ لَنَا مامضی يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ
Semoga Allah senantiasa berikan limpahan ampunan dan merahmati serta memberkahi kepada shohibul qosidah burdah-Imam Al Bushiri-di alam sana (surga) bersama junjungan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Aamiin Ya Rabb. Wallahu a'lam bi as-shawab.
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin".
(@hyan elbanis)
