Menjaga persaudaraan ukhuwah nahdliyah itu ternyata lebih sulit daripada menjalin ukhuwah islamiyah atau wathoniyah dan basyariyah.
Sebagai bahagian warga NU dari level paling bawah (ranting) al Faqir ngelus dada kalau warga NU dipertontonkan oleh petinggi elit PBNU mereka saling meruncing polemiknya
Kenapa mereka tidak khawatir nantinya bila bersitegang terus dan membiarkan polemik itu menganga yaitu tidak adanya penyelesaian, maka justru tidak menuntut kemungkinan hanya akan mencederai marwah NU sebagai Ormas Islam terbesar di jagad yang menjunjung tinggi akhlaqul karimah saling tabayyun, islah dan musyawarah penuh kekeluargaan nahdliyah setiap ada permasalahan internal PBNU.
Entah ada apa dengan petinggi elit PBNU yang ada di benak pikiran mereka, apakah karena desas-desus tarik-menarik pragmatis 'investor' tambang dari era mantan Presiden Jokowi ke Presiden Prabowo ?.
Namun terlepas dari apapun namanya kepentingan itu bahwa NU sungguh tidak elok (kwalat) bila dipakai ajang pertikaian ring panggung tinju satu sama lain hanya untuk ambisi pribadi/kepentingan tertentu apalagi jika sudah menyangkut urusan politik dan kekuasaan, karena NU dengan khittahnya dan 9 pedoman politik warga NU yang digagas KH. Ahmad Bagja sudah jelas yaitu tidak berpolitik pragmatis yang hanya orientasi pada kekuasaan ansich.
Curahatan keprihatinan hati Al Faqir ini dengan harapan alangkah afdholnya bila Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar dan Ketum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) kembali pada khittah NU sebagai rujukan cukup sudahi polemik internal PBNU, demi memandang jauh kemajuan masa depan NU yang hitungan bulan mendatang, tepatnya Muktamar NU ke 35 di Surabaya tahun 2026 sudah memasuki berusia satu abad NU.
Bukankah para pendahulu NU sejarah mencatatnya, pernah terjadi konflik keras ketika KH Idham Chalid menjabat Ketua Umum PBNU. Kiai Asal Kalimantan Selatan itu paling lama menjabat ketua umum PBNU. Selama 28 tahun (1956-1984). Bahkan pernah menjadi Perdana Menteri dan Ketua MPR. Otomatis mengakar.
Semua Ketua PCNU dan PWNU patuh. Tapi beliau sami'na wa atho'na saat diminta mundur dari jabatannya oleh Rais Aam Syuriah PBNU KH Ali Maksum Lasem Rembang, KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo dan KH Mahrus Ali Lirboyo Kediri meminta mundur.
Beliau memang sempat mencabut surat pernyataan mundur karena ada bisikan dari sahabat sesama politisinya. Namun Kiai Idham kemudian tetap mundur. Hebatnya, Kiai Idham dengan besar hati tetap hadir pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo pada 1984.
Kepemimpinan beliau ini adalah contoh penyelesaian konflik elegan dan berbudaya. Penyelesaian ini sukses karena ada faktor kiai-kiai berwibawa, arif dan berintegritas. Sehingga memiliki pengaruh besar. Problem sekarang, kita krisis kiai bijak, berintegritas dan berwibawa. Yang bisa diterima semua pihak.
Al Faqir benar-benar berada dalam pusaran skeptis bila melihat prilaku para "elite" saat ini. Walaupun tidak semuanya, beberapa di antara mereka tampil dilayar kaca dan terlihat tidak ramah. Masing-masing bersitegang membela dirinya baik jajaran syuriah dan tanfidziyah keduanya sama-sama mengeluarkan terkuras energi egonya, melupakan marwah dan harga diri organisasi, terutama di mata ummat. Mereka tidak sadar bahwa hari ini mereka sedang memperlihatkan sikap yang tidak etis untuk disaksikan.
Secara tidak langsung, mereka dengan nyata mengajari yang di bawah tentang "permusuhan" yang dibungkus dengan dan atas nama regulasi. Mereka lupa bahwa hari ini orang-orang yang tulus di bawah, para nahdliyyin, sedang menunggu kebesaran hati mereka untuk saling "berpelukan", saling merangkul dalam ruang keutuhan, bukan dalil-dalil normatif yang sepi esensi.
Organisasi besar panutan sejagat nyaris diambang perpecahan jika tidak segera dicari solusinya. Jika dibiarkan terlalu lama, jika kedua yang berseteru tidak segera menuju "ishlah", bisa saja pengikut yang di bawah menjadi terbelah. Polarisasi seperti ini semakin menggembirakan orang-orang yang dari awal memang tidak suka NU memimpin, semakin membuka peluang selebar lebarnya buat mereka yang sejak lama ingin melihat NU rusak berkeping-keping.
Mengingat besarnya ombak hari ini menerjang NU, kehawatiran di atas bukanlah tidak beralasan. Riak-riak kecil di jauh sebelumnya dibiarkan membentuk dan menuju arah yang sama dan mengalami akumulasi bersama orang-orang yang sebelumnya memang mengincar dari belakang. Tidak perlu disebutkan satu-persatu, ternyata desas-desus di seputar masalah nasab (dzurriyah), zionisme, dan tambang, mencuat ke permukaan sebagai wujud nyata (adanya) disharmoni antar pengurus.
Kedewasaan mereka benar-benar mengalami distorsi. Kedewasaan dalam bersikap dan bertindak perlu dipertanyakan. Dengan kata lain, perpecahan itu mengemuka, murni disebabkan oleh rapuhnya soliditas individual yang kemudian diperparah oleh tidak adanya koherensi komunal.
Saat ini, yang tersisa hanyalah kehadiran mediator. Seluruh elemen masyarakat NU mendambakan ketulusan pasa sesepuh di tubuh PBNU untuk turun dan merelakan waktunya bersama yang lain. Di hati nurani kita yang paling dalam, mereka (para sesepuh) adalah pembimbing dan penyejuk.
Pribadi bersih, pembawa kasih-sayang Allah demi terciptanya kedamaian dan demi terpeliharanya keadaban. Ombak besar ini harus dihadapi oleh kebesaran jiwa orang-orang yang dipercaya sebagai "orang tua" (para Ulama yang dibekali oleh Allah dengan keteduhan dalam bertutur, ketenangan dalam bertindak, dan kebijaksanaan dalam memutus).
Semoga badai PBNU cepat berlalu dengan kesadaran mereka saling islah dan mema'afkanlah seraya bergandengan tangan dan merapatkan barisan sebagaimana pesan filosofis sholat berjama'ah kompak satu komando sang imam sholat, maka mempersiapkan satu abad NU mendatang pertegas kembali elit-elit PBNU secara konsekwen menjalankan komitmen Khittah NU itu harga paten jauh lebih berguna dan manfaat daripada mereka terkuras tenaga pikiran dan jiwanya, karena sibuk bertikai bertengkar hanya akan membuat pembenci-pembeci NU bertepuk sorak gembira.
Walakhir baiknya kita renungkan kisah Nabi Musa 'alaihi as-salam ketika hampir tersulut amarah kepada saudaranya Nabi Harun 'alaihi as-Salam :
قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya: “…Harun berkata: “Wahai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim.” (QS: al-A’raf: 150).
Nasihat yang sungguh bijak. Sebuah peringatan yang sangat strategis, krusial, kritis. La tusymit bi-yal a’daa’u! (Jangan biarkan musuh-musuh bergembira karena melihatku kau sakiti seperti ini!)
“Tusymit” (تشمت) berasal dari kata “syamaatah” (شماتة), artinya kegembiraan musuh karena mengetahui kecelakaan kita. Nabi Harun mengingatkan saudaranya, bahwa kita berdua adalah sama-sama utusan Allah kepada umat ini. Kita berdua mestinya bahu-membahu dan bekerjasama, bukannya bertengkar bahkan saling membantai.
Bukankah dulu Nabi Musa sendiri yang memohon kepada Allah agar dikokohkan dengan saudaranya, Harun? Sebab beliau berlidah gagu, sedang Harun lebih fasih. Maka, untuk apa sekarang bersitegang dan berkelahi? Seakan-akan, Nabi Harun berujar, “Jika tidak kita sudahi pertengkaran ini, misi kita pasti berantakan dan musuhlah yang bertepuk tangan!”
Nabi Harun juga mengingatkan saudaranya:
قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي ۖ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي
Artinya: “Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah-belah Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku!” (QS: Thaha: 94)
Hebat! Seketika nabi Musa tersadar dan berdoa:
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Artinya: “Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS al-A’raf: 151).
Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari memantapka hati beliau mendirikan NU mengambil hikmah kisah Nabi Musa 'alaihi as-Salam dengan tongkatnya. Dikisahkan dalam buku Syaikhona Kholil Bangkalan Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama', yaitu pada sebuah pagi di awal 1924, Syaikhona Kholil tiba-tiba memanggil KH. R. As'ad Syamsul Arifin. Dia diminta sang guru mengantarkan sebuah tongkat pada Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari di Tebuireng. Pada akhir tahun itu, As'ad dipanggil lagi, kali ini mengantarkan tasbih.
Menurut Kiai As'ad, ketika menerima dua benda itu, Kiai Hasyim memberi reaksi yang berbeda. Saat menerima tongkat disertai potongan ayat surat Thaha ayat 17-23 berikut ini:
وَمَا تِلۡكَ بِيَمِيۡنِكَ يٰمُوۡسٰى
"Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?"
قَالَ هِىَ عَصَاىَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيۡهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَـنَمِىۡ وَلِىَ فِيۡهَا مَاٰرِبُ اُخۡرٰى
Dia (Musa) berkata, "Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain."
Maka membaca pesan beliau dengan ayat itu kemudian Kiai Hasyim langsung berujar bahwa dengan tongkat itu hatinya makin mantap untuk mendirikan organisasi bernama Jam'iyatul Ulama dan tongkat itu disebut sebagai tongkatnya Nabi Musa.
Sementara menerima tasbih yang disertai bacaan Ya Jabbar, Ya Qohhar, dua dari 99 Asmaul Husna, Kiai Hasyim Asyari berujar bahwa yang melawan ulama akan hancur.
"Saat disuruh Kiai Kholil dua kali ketemu Kiai Hasyim, saya dikasih ongkos dan tidak saya belanjakan, sampai sekarang masih ada," ujar As'ad.
Setahun kemudian, Kiai Kholil Bangkalan meninggal dunia tahun 1925, pada hari ke 29 bulan Ramadan. Setahun berselang, tepatnya pada 31 Januari 1926, NU resmi didirikan di rumah KH Wahab Hasbullah di Kampung Kertopaten, Surabaya. "Allahummaghfirlahum warhamhum wa 'afihi wa'fuanhum". Al Fatihah.
"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi mahyaya wa mamati, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi amutu wa yaumi ub'atsu hayya, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi kholaqtaddunya ila yaumil hisab, wa 'ala alihi washohbihi wasallam tasliman katsiro, walhamdulillahi rabbil 'alamin"
"Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dalam hidupku dan matiku, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad sejak hari Engkau menciptakan dunia sampai Hari Pembalasan (kiamat) dan atas keluarganya dan para sahabatnya, semoga kesejahteraan senantiasa Engkau limpahkan kepada mereka. Dan segala puji bagiMu Allah, Tuhan semesta alam".
Wallahu 'a'lam bi as-showab.
(@hyan elbanis)
