Tantangan Satu Abad NU Lahirkan Pemimpin Baru Sesuai Khittah, Cukup Sudahi Polemik di PBNU

Yasayyidiyarasulallah | Masa khidmat pengurus PBNU saat ini tinggal hitungan bulan, muktamar NU ke-35 di Surabaya tepat 1 Abad NU pada 2026. Namun sudah terkuak kencang angin berhembus polemik internal PBNU, terkait kepemimpinan Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) diminta mundur dari jabatannya.

Hal ini mengingatkan pernah terjadi permintaan mundur dari jabatan Ketum PBNU pada zamannya KH Idham Chalid tahun 80-an, era KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan masanya KH Hasyim Muzadi, namun beliau-beliau ini tetap bisa bertahan sampai dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dan menuntaskan tugas kepemimpinannya hingga berakhir periode jabatannya. 

Bedanya kalau saat ini Gus Yahya diminta mundur oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Desakan agar Gus Yahya turun dari jabatannya itu juga pernah disuarakan lantang Aliansi Santri Gus Dur melalui demo mereka di depan gedung PBNU tahun 2024 seperti diberitakan situs tempo.co.

Menilik NU dari masa ke masa tetap bertahan. Tradisi musyawarah, konsensus, dan budaya pesantren menjadi penyangga utama. NU tidak pernah benar-benar pecah, meski perbedaan pandangan sering kali tajam. Justru, konflik itu membentuk karakter NU sebagai organisasi yang dinamis, terbuka terhadap kritik, dan mampu beradaptasi dengan zaman. Maka sepelik apapun masalah yang dihadapi disolusikan sesuai aturan organisasi.

Dinamika kancah perkembangan organisasi NU mengalami pasang surut dari pernah menjadi partai politik era Presiden Bung Karno, kemudian kembali ke khittah pada Muktamar NU ke 27 di Situbondo, Jawa Timur, pada 12 Desember 1984, bahwa NU tidak berpolitik pragmatis juga tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun, khittah NU 1926 dikembangkan dengan 9 pedoman warga NU dalam politik kebangsaan oleh alm KH. Ahmad Bagja sebagaimana penulis pernah jelaskan secara khusus di link berikut : 

"Menjaga Khittah NU dengan Menjalankan Sembilan Pedoman Politik Warga NU". https://yasayyidiyarasulallah.blogspot.com/2020/02/menjaga-khittah-nu-dengan-menjalankan.html?m=1

Latar permintaan mundur terhadap Ketum PBNU Gus Yahya tersebut hasil rapat harian Syuriah PBNU, diteken Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar digelar pada Kamis (20/11/2025) dihadiri 37 dari 53 orang pengurus Harian Syuriah menyebutkan Gus Yahya harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam waktu 3 (tiga) hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriah PBNU.

Akar masalah yang menjadikan keputusan rapat harian Syuriah PBNU ini, diantaranya rapat memandang bahwa diundangnya narasumber yang terkait dengan jaringan Zionisme Internasional dalam Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) sebagai narasumber kaderisasi tingkat tertinggi NU telah melanggar nilai dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah serta bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi NU. 

Dalam risalah rapat Syuriah PBNU juga memandang bahwa tata kelola keuangan di lingkungan PBNU mengindikasikan pelanggaran terhadap hukum syara', ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, Pasal 97-99 Anggaran Rumah Tangga NU, dan Peraturan Perkumpulan NU yang berlaku, serta berimplikasi yang membahayakan pada eksistensi Badan Hukum Perkumpulan NU.

Seharusnya baik jajaran Tanfidziyah dan Syuriah PBNU itu diperlukan adanya tabayyun tentu ini ada mekanismenya dalam aturan organisasi NU, kedua struktur dalam organisasi NU ini saling bersabar sampai tiba pelaksanaan muktamar NU ke-35 di Surabaya tepat 1 Abad NU pada 2026 mendatang. Sehingga dengan begitu diharapkan proses dialog kedua belah pihak membuka ruang bermusyawarah, sesuai adatnya NU untuk penyelesaian internal PBNU.

Bukankah untuk meminta pertanggungjawaban Ketum PBNU bisa melalui muktamar yang merupakan forum tertinggi dalam keorganisasian NU?. Meskipun dibenarkan dengan bypass MLB  (Muktamar Luar Biasa), namun lebih melihat kedepan masa depan NU kebersamaan ukhuwah nahdliyah itu sangat jauh penting daripada mereka rame berpolemik menjadi konsumsi publik yang pada akhirnya mencederai marwah organisasi NU. 

Sebagai warga Nahdliyin kita menaruh harapan besar akan lahirnya kepemimpinan baru yang mampu membawa Nahdlatul Ulama memasuki fase sejarah berikutnya. Setelah melewati sejumlah dinamika, masa-masa sulit, banyak ujian, bahkan fitnah dalam beberapa tahun terakhir, maka muncul kebutuhan untuk tidak hanya memilih figur, tetapi juga mampu menentukan arah masa depan organisasi Muslim terbesar di Indonesia ini.

Proses ini bukan sekadar ajang kontestasi internal, melainkan momentum penting untuk merumuskan kembali karakter kepemimpinan NU di medan sosial, politik, kultural, kancah nasional dan global yang semakin kompleks.

Terkadang harus diakui kita miris melihat capaian PBNU sampai saat ini, masih jauh api dari panggang. Sedangkan organisasi tetangga sebelah bersemangat banyak membeli gereja untuk masjid  di Eropa dalam kemajuan dakwah Islamisasi go international.

Organisasi tetangga sebelah juga diberi dukungan penuh oleh Pemerintah Australia mendirikan sekolah dan Perguruan Tinggi di sana. Maka jika tetangga kita komit menghidupi organisasi, kayaknya di tempat  kita terbalik, dapat dilihat bagaimana sepak terjang oknum kader kita setelah menjabat. Maka jika kita refleksikan, apa yang kurang dari pengkaderan kita?. Kayaknya para masyayikh perlu berpikir ulang, bagaimana berpikir, bersikap, bernegara, dan seterusnya?.

Mencermati konflik internal PBNU tersebut sangat memprihatinkan dan memalukan sekarang ini, maka semua pihak tidak berlarut memperkeruh keadaan, maka diperlukan bersikap kearifan lokal dan bijaksana dengan organisasi NU ini tidak mengedepankan egonya masing-masing untuk kepentingan masa depan satu abad NU mendatang. Baik jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PBNU semuanya kembali pada asas perjuangan para pendiri NU yang rela berkorban harta dan jiwanya untuk membesarkan NU sebagai organisasi keislaman yang memperjuangkan Aswaja dalam kerangka Islam Rahmatan Lil 'Alamin.

Menyesakkan dada memang elit-elit PBNU mempertontonkan berpolemik membingungkan umat, maka sebaiknya mereka muhasabah yang berlanjut dengan kesediaan mereka untuk menyiapkan pemimpin masa depan NU melalui Muktamar NU ke 35 di Surabaya mendatang yang tepat sudah satu abad NU. 

Dibutuhkan pemimpin baru di NU di masa mendatang satu abad NU yang bisa mengejawentahkan spirit khittah NU, yaitu tidak terjebak hingar bingar kepentingan politik pragmatis, tidak menjadi kaki tangan kapitalis yang hanya berorientasi pada kepentingan bisnis dengan halalkan segala cara, serta tidak tergoda dengan manis kekuasaan atau jabatan menggadaikan organisasi maka biarkan eksistensi NU dengan khittahnya agar tidak tercemar ternodai semangat gagasan besar atau cita-cita luhur nan suci para pendiri NU. 

Banyak yang berharap tokoh-tokoh berpengalaman yang berintegritas, para ulama kyai sepuh NU juga seperti Prof.Dr.KH. Ma'ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Musthofa Bisri, KH. Nurul Huda Jazuli, Prof.Dr.KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, Dr. KH. Zulfa Mustofa, MA, KH. Abdul Hakim, KH Chalwani Nawawi, KH Mahfudz, Prof. Dr. Ali Maskur Moesa, SH. M. Si, KH. Marzuki Mustamar, Prof M. Nuh, beliau-beliau ini semoga tidak tinggal diam untuk masa depan NU supaya tidak larut dalam pertikaian dan perpecahan, karena sejatinya NU itu jati dirinya adalah guyub rukun seduluran sak lawase ber-amar ma'ruf nahi munkar serta menebarkan nilai-nilai aswaja NU dengan penuh santun dan damai tanpa kekerasan. 

Sebagai penutup catatan al Faqir yang pengurus di level Ranting NU ini mari bersama dengan hati yang tulus merenungkan, tafakkur dan tadabbur ayat berikut ini, cukup sudah polemik di internal PBNU, semoga semuanya bisa mengambil hikmah dan bisa instrospeksi. 

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ

"Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti". (Al Hasyr : 14).

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ 

Artinya: "Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk". (Surah Al-Imran: 103).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي مَحْيَايَ وَمَمَاتِي ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي يَوْمِ أَمُوتُ وَيَوْمِ أُبْعَثُ حَيًّا ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ  مِنْ يَوْمِ خَلَقْتَ الدُّنْيَا إِلَى يَوْمِ ٱلْحِسَابِ ، وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً كَثِيراً ، وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ**

"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi mahyaya wa mamati, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi amutu wa yaumi ub'atsu hayya, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi kholaqtaddunya ila yaumil hisab, wa 'ala alihi washohbihi wasallam tasliman katsiro, walhamdulillahi rabbil 'alamin"

"Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dalam hidupku dan matiku, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad sejak hari Engkau menciptakan dunia sampai Hari Pembalasan (kiamat) dan atas keluarganya dan para sahabatnya, semoga kesejahteraan senantiasa Engkau limpahkan kepada mereka. Dan segala puji bagiMu Allah, Tuhan semesta alam".

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

(@hyan elbanis)

  • Tentang Penulis
  • youtube