Abuya Muhtadi ibn Dimyati menyambut Gus Yahya dengan mendendangkan syair tersebut. Seolah beliau mengingatkan dengan bahasa isyarat bahwa menjadi Ketum PBNU mengurusi rumah besar NU selalu ada ruang gelap yang harus diterangi dengan pengabdian tulus tanpa pamrih berjuang besarkan NU.
Gus Yahya didampingi Wakil Ketum PBNU Dr. KH Said Amin Husni ini tampak tersenyum, dengan wajah sumringah mendengar syairnya sang kyai ini sambil beliau kemudian salim mencium tangannya sang ulama kharismatik ini.
Pertemuannya tersebut kini menjadi viral di medsos lantaran syairnya itu seolah pertanda Gus Yahya diingatkan agar berhati-hati di rumah besar (PBNU).
Sebagaimana diketahui hasil rapat harian Syuriah PBNU, diteken Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar digelar pada Kamis (20/11/2025) dihadiri 37 dari 53 orang pengurus Harian Syuriah menyebutkan Gus Yahya diminta mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam waktu 3 (tiga) hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriah PBNU.
Menukil Kompas, Gus Yahya menanggapinya beliau sama tidak sekali memiliki keinginan untuk mundur dari Ketua PBNU. "Sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk mundur dari Ketua PBNU," katanya usai menggelar pertemuan dengan para Ketua PWNU tingkat provinsi di Surabaya, Minggu (23/11/2025) dini hari.
Gus Yahya melanjutkan sesuai amanat Muktamar untuk memimpin PBNU sebagai ketua tanfidziyah selama 5 tahun sejak Muktamar NU ke-34 pada 2021 lalu di Provinsi Lampung. "Saya mendapat mandat 5 tahun memimpin NU, karena itu akan saya jalani selama 5 tahun, insya Allah saya sanggup," ujarnya.
Dua tokoh besar Nahdlatul Ulama itu berjumpa dalam adab dan takzim, sebagaimana lumrahnya pertemuan para ulama. Namun sebagaimana dunia para kiai, apa yang terdalam justru sering bersembunyi: bukan pada suara, melainkan pada isyarat; bukan pada kalimat panjang, melainkan pada sebaris syair yang tampak ringan namun mengandung pesan berlapis.
Abuya melantunkan bait klasik itu:
نَحْنُ بَنُو دِمْيَاطَ، لَنَا سَعْرٌ ثَبَاتٌ، نَحْنُ أَهْلُ الرِّبَاطِ، فِينَا بَيْتُ الْوَطْوَاطِ
"Nahnu banu Dimyat, lana tsa‘run tsabat, nahnu ahlurribath, fīnā baitul watwat".
Artinya: “Kami adalah putra-putra Dimyat, kami punya harga diri yang teguh, kami adalah penjaga ribath, dan di antara kami ada rumah kelelawar.”
Sepintas terdengar seperti gurauan ringan. Tetapi siapa yang memahami bahasa batin para kiai akan tahu: ini bukan sekadar bait ini sindiran yang dibungkus kelembutan, teguran yang dipahat dengan adab.
Baitul watwat, rumah kelelawar, bukan rumah terang. Ia tempat makhluk malam yang bergelantungan di gelap, berisik ketika orang lain berzikir, dan kadang hinggap di mana ada aroma manis kekuasaan.
Dalam simbolik pesantren, “rumah kelelawar” adalah peringatan halus: bahwa di tubuh jam’iyyah sebesar NU, selalu ada ruang gelap yang harus terus diterangi ruang di mana orientasi bisa kabur antara khidmah dan pamrih, antara ibadah dan syahwat politik.
Abuya Muhtadi seakan berucap tanpa menyakiti:
“Ingat, di tubuh NU ada baitul watwat.”
Ada sebagian yang masih terbang di gelap, bukan untuk menjaga jamaah, melainkan mencari buah manis kekuasaan.
Syair itu adalah tasawuf dalam bentuk satire. Ia bukan makian, bukan sinisme tapi pengingat agar kemuliaan Dimyat, kemuliaan ribath, dan kemuliaan NU, tetap tegak. Sebab bila rumah kelelawar itu dibiarkan, ia bisa berubah menjadi sarang gelap yang memakan cahaya.
Dan di situlah keindahan akhlak ulama pesantren: menyampaikan kebenaran tanpa menelanjangi, menegur tanpa melukai, dan mengajari tanpa merasa lebih tinggi. Karena ulama santun dalam berahlaqul karimah menyampaikan pesan moral untuk kebaikan umat.
Abuya Ahmad Muhtadi bin Abuya Muhammad Dimyathi atau dikenal Abuya Muhtadi adalah sosok ulama kharismatik yang disegani masyarakat Indonesia khususnya di Banten.
Beliau lahir pada 28 Jumadil Awwal 1374 Hijriyah atau bertepatan pada 26 Desember 1953 Masehi di Kampung Cidahu, Desa Tanagara, Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Banten.
Abuya Muhtadi selain dikenal sebagai ulama yang wara’ zuhud, beliau sering disebut sebagai pakunya Banten dan dijuluki gurunya para kiyai. Banyak pengakuan dari para kiyai khususnya di Kabupaten Pandeglang mengatakan, apabila tidak ada beliau maka di tanah Banten ini akan sepi sekali. Dalam bahasa Sunda “Keeung” artinya sepi seperti di dalam hutan belantara.
Kapasitas keilmuan beliau memang tidak diragukan lagi. Banyak para Kiyai dan Santri berbodong-bondong untuk menimba ilmu agama kepada beliau, merujuk kitab-kitab klasik karangan para ulama salafus shalih.
Kediaman Abuya Muhtadi selalu tidak sepi dari pengunjung, bukan hanya dari kalangan masyarakat biasa, para pejabat, pengusaha, bahkan presiden dan wakil presiden pun pernah sowan ke kediamannya, tentu selain mereka bersilaturahim juga meminta wejangan dan do'a keberkahan dan keselamatan.
"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi mahyaya wa mamati, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi amutu wa yaumi ub'atsu hayya, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi kholaqtaddunya ila yaumil hisab, wa 'ala alihi washohbihi wasallam tasliman katsiro, walhamdulillahi rabbil 'alamin"
"Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dalam hidupku dan matiku, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad sejak hari Engkau menciptakan dunia sampai Hari Pembalasan (kiamat) dan atas keluarganya dan para sahabatnya, semoga kesejahteraan senantiasa Engkau limpahkan kepada mereka. Dan segala puji bagiMu Allah, Tuhan semesta alam".
Wallahu 'a'lam bi as-showab.
(@hyan elbanis)
