Asal Usul dan Keutamaan Tahlil Makhsus: Lailahaillallah Fikulli Lamhatin, Amalan Sayyid Muhammad Al-Maliki dan Mbah Moen

Yasayyidiyarasulallah | Alangkah afdholnya bila seseorang berdzikir tahlil itu mengetahui ilmunya, karena akan bisa memudahkan dalam mencapai tujuan, yaitu dengan cepat kalau dibaratkan signal selular bisa langsung terhubung mengena laksana busur panah lepas tepat mengenai sasaran.

Dalam berdzikir atau berdoa terkadang orang dengan jumlah bilangan tertentu misalnya harus membaca wirid sekian ribu membuat mereka malas mengamalkan. 

Namun tidak bagi mereka yang mengetahui cara ilmunya, dus jumlah bilangan dzikir misalnya harus dibaca 1000x, 100.000x ternyata bisa dengan cara cukup sekali dibaca maka sudah setara nilainya bahkan bisa melebihinya. 

Hal ini tentu akan memudahkan orang mengamalkan toh walaupun sekali dibaca tidak kalah keutamaannya dengan tahlil, dzikir dan wirid yang dibaca beribu-ribu jumlah bilangannya, seperti halnya pernah dicontohkan diajarkan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.

Dikisahkan suatu pagi, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam menginap di rumah Sayyidah Juwairiyah Radhiyallahu 'anha. Beliau berpamitan untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Ketika itu, Siti Juwairiyah sudah dalam posisi berzikir dan qiyamullail dalam mihrab/mushala beliau. 

Saat Nabi kembali usai jamaah, Siti Juwairiyah masih dalam posisi berzikir. Tidak berubah, persis seperti saat Rasulullah berpamitan.  Lantas Rasulullah menanyakan, “Apakah engkau tetap seperti ini sejak tadi, saat aku berpamitan padamu?” Siti Juwairiyah mengiyakan. Lalu Rasulullah bersabda: “Aku ajarkan padamu empat kalimat, ucapkan sebanyak tiga kali. Bila kalimat ini dibandingkan dengan zikir yang kau baca sejak tadi, niscaya lebih unggul. (Yaitu):

  سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ  كَلِمَاتِهِ

Artinya: "Mahasuci Allah. Aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya).” (HR. Muslim, no. 2726) . 

Keutamaan Membaca Tahlil Makhsus :

Dijelaskan asal muasal tahlil dzikir al Makhsus seperti penjelasan KH Maemoen Zubair (Mbah Moen) Rahimahullah dalam vidio tersebut diatas dengan dua jalur sanad (detil silahkan menyimak vidionya). Berikut bacaan tahlil dzikir makhsus:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُ اللهِ

Dzikir ini amalan Sayyid Muhammad Al Maliki dan Mbah Moen (KH Maimoen Zubair) yang jasad keduanya ini masih utuh di Makam Al Ma'la Makkah.

Asal usulnya dzikir ini dari Sayyid Aḥmad bin Idrîs al-Ḥasanî al-Magribî adalah salah satu wali terkemuka pada abad ke-13 Hijriah, dan termasuk ahlul bait dari jalur Imam Ḥasan as. bin Imam ‘Ali as. dan Sayyidah Fatimah az-Zahrâ’ as.

Salah satu karomah Sayyid Aḥmad bin Idrîs yang sangat terkenal adalah mendapatkan Zikir al-Makhṣûṣ, Salawat al-‘Aẓîmiyyah, dan Istigfar al-Kabîr secara langsung dari Rasulullah Shollallahu 'alaihi Wasalam dalam keadaan terjaga dan sadar. 

Suatu hari, Sayyid Aḥmad bin Idrîs pernah bertemu dan berkumpul (duduk) bersama Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasalam dan Nabi Khidir 'alaihi wasalam secara nyata dalam keadaan terjaga dan sadar (Jâmi‘ Karâmât al-Awliyâ’, hlm. 572 dan Sayyid Ṣâliḥ al-Ja‘farî, Miftâḥ Mafâtiḥ Kunûz as-Samâwât wa al-Arḍ al-Maḥzûnah, 2001: 12-16).

Dalam pertemuan agung itu, Rasulullah Shollallahu 'alaihi Wasalam menyuruh Nabi Khidir 'alaihi wasalam mendikte zikir kepada Sayyid Aḥmad bin Idrîs di hadapan Baginda Nabi Shollallahu 'alaihi wasalam. Setelah melakukannya, Nabi Khidir 'alaihi wasalam diperintah lagi oleh Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasalam. untuk mendikte wirid (Zikir al-Makhṣûṣ, Salawat al-‘Aẓîmiyyah, dan Istigfar al-Kabîr) yang meliputi seluruh zikir, salawat, dan istighfar, dan memiliki pahala yang paling utama dan jumlah yang paling banyak.

Namun, Nabi Khidir 'alaihi wasalam tidak tahu wirid tersebut seraya berkata: “Wirid yang mana, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shollallahu 'alaihi Wasalam menjawab: “Katakanlah:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ فِى كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ عَدَدَ مَا وَسِعَهُ عِلْمُ اللهِ

Rasulullah Shollallahu 'alaihi Wasalam dan Nabi Khidir 'alaihi wasalam mengulangi Zikir al-Makhṣûṣ tersebut sampai tiga kali, yang kemudian diikuti oleh Sayyid Aḥmad bin Idrîs sebanyak tiga kali juga.

Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasalam berkata: “Wahai Aḥmad, sungguh aku telah memberimu kunci-kunci langit dan bumi, yaitu Zikir al-Makhṣûṣ, Salawat ‘Aẓîmiyyah, dan Istigfar al-Kabîr. Satu kali (membaca) Zikir al-Makhṣûṣ, Salawat ‘Aẓîmiyyah, atau Istigfar al-Kabîr setara dengan dunia dan akhirat dan seluruh isinya yang berlipat ganda”. 

Setelah itu, Rasulullah Shollallahu 'alaihi Wasalam. mendikte Zikir al-Makhṣûṣ, Salawat ‘Aẓîmiyyah, dan Istigfar al-Kabîr kepada Sayyid Aḥmad tanpa perantara. Oleh karena itu, Sayyid Aḥmad mendikte ketiga bacaan tersebut kepada para murid sebagaimana didiktekan oleh Rasulullah Shollallahu 'alaihi Wasalam. kepadanya.

Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasalam berkata kepada Sayyid Aḥmad: “Lâ ilâha illallâh muḥammadur rasûlullâh fî kulli lamḥatin wa nafasin ‘adada mâ wasi‘ahû ‘ilmullâh. Aku menyimpan kalimat ini hanya untukmu, wahai Aḥmad, dan tidak ada seorang pun yang menerima kalimat ini sebelum kamu. Ajarkanlah kalimat ini kepada sahabat-sahabatmu, sehingga berkat kalimat ini kedudukan mereka di sisi Allah bisa melampaui orang-orang terdahulu”.

Syekh Ahmad ibn Idris Radhiyallahu 'anhu. berkata : Andai kata ada orang yang mengucapkan, “La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah” dari masa Sayyidina Adam As hingga masa ditiupkan Sangka Kala, tapi ada seseorang yang membaca zikir Fii Kulli Lamhatin satu kali saja, niscaya pahalanya melebihi pembacaan yang sebelumnya itu.

Beliau dalam wiridnya setiap usai sholat lima waktu membaca 3x, sedangkan Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani dengan 4x dan Kyai Nawawi salah satu pendiri NU dengan 7x setiap ba'da sholat lima waktu. 

Bacaan dzikir ini juga diajarkan oleh Mbah Moen ketika mengajarkan para santri juga pada saat pengajian beliau menyampaikan asal usul tahlil dzikir Makhsus tersebut. Semoga bermanfaat, untuk istiqomah diamalkan. Aamiin. Lahum Al Fatihah. 

__________________________

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي مَحْيَايَ وَمَمَاتِي ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ فِي يَوْمِ أَمُوتُ وَيَوْمِ أُبْعَثُ حَيًّا ، وَ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ  مِنْ يَوْمِ خَلَقْتَ الدُّنْيَا إِلَى يَوْمِ ٱلْحِسَابِ ، وَعَلَى آلهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيماً كَثِيراً ، وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ**

"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi mahyaya wa mamati, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi amutu wa yaumi ub'atsu hayya, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi kholaqtaddunya ila yaumil hisab, wa 'ala alihi washohbihi wasallam tasliman katsiro, walhamdulillahi rabbil 'alamin"

"Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dalam hidupku dan matiku, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad sejak hari Engkau menciptakan dunia sampai Hari Pembalasan (kiamat) dan atas keluarganya dan para sahabatnya, semoga kesejahteraan senantiasa Engkau limpahkan kepada mereka. Dan segala puji bagiMu Allah, Tuhan semesta alam".

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

(@hyan elbanis) 

  • Tentang Penulis
  • youtube