Berdo'a sesuai dengan bahasa apa saja yang penting hatinya penuh khusyuk keikhlasan dan kerendahan hati kepada Allah subhanahu wata'ala, maka tidak akan mengurangi subtansi dari do'a itu sendiri. Daripada berdo'a dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti oleh mereka yang berdo'a kepada-Nya.
Menukil Wikipedia disebutkan Syaikh Nawawi Al Bantani ulama yang mendunia, karena kemasyhuran kedalaman ilmunya. Beliau adalah ulama besar Nusantara abad ke-19 dari Banten, dikenal sebagai "Mahaguru Ulama Hijaz & Nusantara" karena keilmuannya yang luas, mengajar di Mekkah, dan memiliki banyak karya serta murid yang jadi tokoh perlawanan Islam di Indonesia.
Beliau lahir di Tanara, Serang, Banten, mendalami ilmu di Tanah Suci, lalu mengajar, menulis kitab, dan berperan penting dalam pengembangan pendidikan Islam, menjadikannya salah satu tokoh paling disegani di masanya.
Menjadi guru besar di Mekkah, dikenal dengan berbagai gelar seperti Sayyidul Hijaz (Pemimpin Hijaz) dan Nawawi at-Tsani (Nawawi Kedua), Imam Ulama al-Haramain, (Imam 'Ulama Dua Kota Suci).
Beliau menulis sekitar 100 kitab dalam berbagai bidang (fiqih, tafsir, hadits, akhlak, dll.), banyak yang menjadi rujukan di pesantren (contoh: Nihaayatul Zayn, Sulam al-Munajah, Mirqat al-'Ubudiyyah).
Semasa Indonesia dalam perjuangan melawan penjajah, beliau mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda melalui dakwahnya, yang akhirnya membuatnya harus kembali ke Mekkah karena tekanan penjajah.
Murid-muridnya terlibat dalam pemberontakan petani Banten 1888 (melawan penjajah) menunjukkan dampak intelektual dan spiritualnya terhadap perjuangan kemerdekaan.
Beliau wafat di Mekkah pada tahun 1314 H / 1897 M dimakamkan di jannatul mu'alla Makkah (Komplek makam Sayyidah Khadijah radhiyallahu 'anha istri tercinta Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam).
Dikisahkan Syaikh Nawawi Al Bantani berdo'a dengan bahasa Jawa yang menggemparkan negeri Hijaz (Arab).
Dahulu kala di Wilayah Arab dilanda kekeringan yang teramat panjang.untuk Mengatasi masalah ini, Raja Hijaz mengumpulkan dan membawa para ulama Makkah dan Madinah, mereka meminta berdoa di depan Ka'bah agar segera diturunkan hujan.
Setelah semua sarjana dan para ulama berdoa, hujan tidak turun juga, malah menjadi lebih panas selama beberapa bulan. Membuat penduduk di negeri itu semakin susah.
Dalam kekalutanya Raja Hijaz tiba-tiba teringat akan seorang sarjana yang tidak diundang untuk berdoa.
Kemudian Sang Raja memerintahkan bawahanya untuk memanggil Sarjana tersebut.
Sang sarjana diberitahu, setelah bertemu, penampilan cendekiawan itu pendek, kecil dan kulitnya hitam.
Sarjana itu adalah Syekh Nawawi bin Umar Tanara al-Bantani al-Jawi. ia adalah seorang ahli bahasa Arab dan memiliki karya lebih dari 40 judul, semuanya berbahasa Arab.
Kemudian, ulama asal dusun Tanara, Tirtayasa, Banten tersebut berangkat berdoa meminta hujan kepada Allah SWT di depan Ka’bah.
Anehnya, meski Syaikh Nawawi Banten mampu berbahasa Arab dengan fasih, di depan Ka’bah beliau berdoa meminta hujan dengan memakai bahasa Jawa.
Para ulama Makkah dan Madinah yang berdiri di belakangnya menyadongkan tangan sambil berkata “aamiin”.
Mbah Nawawi berdoa:
“Ya Allah, sampun dangu mboten jawah, kawulo nyuwun jawah.”
(Ya Allah, sudah lama tdk turun hujan, hamba minta hujan)
Seketika itu juga mendung datang dan kemudian hujan turun dengan lebat. semua yang menyaksikan kejadian itu pun heran. ada beberapa orang bertanya, bahasa apa yang telah digunakan syaikh Nawawi berdoa, karena mereka tidak pernah mendengar bahasa itu sedangkan sebelumnya para ulama dan sarjana Negeri itu telah berdoa dengan menggunakan bahasa Arab yang fasih namun tidak mujarab, sedangkan dengan bahasa Jawa malah justru ampuh.
Dalam hal ini bisa diambil pelajaran
Yang menentukan Mujarabnya doa adalah kualitas individu seseorang, bukan bahasa yang digunakan.
Karena Allah Maha Mengetahui walau hanya sekedar bahasa Daerah. tak perlu susah payah mencari yang samar keberadaannya..
Mengenai doa dengan bahasa daerah,
KH. IDRIS MARZUQI LIRBOYO disebutkan pernah menyampaikan :
“Kowe ki nek nompo dungo-dungo Jowo seko kiai sing mantep. Kae kiai-kiai ora ngarang dewe. Kiai-kiai kae nompo dungo-dungo Jowo seko wali-wali jaman mbiyen. Wali ora ngarang dewe kok. Wali nompo ijazah dungo Jowo seko Nabi Khidlir. Nabi Khidlir yen ketemu wali Jowo ngijazahi dungo nganggo boso Jowo. Ketemu wali Meduro nganggo boso Meduro.”
Artinya: (Kamu jika mendapat doa-doa Jawa dari kiai yang mantap, jangan ragu. Kiai-kiai itu tidak mengarang sendiri. Mereka mendapat doa Jawa dari wali-wali jaman dahulu. Wali itu mendapat ijazah doa dari Nabi Khidlir. Nabi Khidlir jika bertemu wali Jawa memberi ijazah doa memakai bahasa Jawa. Jika bertemu wali Madura menggunakan bahasa Madura. Wallahu 'a'lam bisshowab.
"Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin" .
(@hyan elbanis)
