Maka kalau sholat berjama'ah ketika sang Imam sholat selesai membaca Al-Fatihah, tepatnya sesudah membaca: "Shirootol ladziina an-'amta 'alaihim ghoiril maghdhuubi 'alaihim wa ladh-dhoolliin.", maka hendaknya makmum bersama-sama membaca Aamiin, karena keutamaan membacanya sangat besar yaitu terampuni dosa-dosanya apabila bersamaan ucapan Aamiin itu bersamaan dengan ucapan Aamiin para malaikat.
Berikut mengenai keutamaan membaca Aamiin disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil riwayat dari sahabat Anas radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:
«أُعْطِيتُ آمِينَ فِي الصَّلَاةِ وَعِنْدَ الدُّعَاءِ لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ قَبْلِي إِلَّا أَنْ يَكُونَ مُوسَى، كَانَ مُوسَى يَدْعُو وَهَارُونُ يُؤَمِّنُ فَاخْتِمُوا الدُّعَاءَ بِآمِينَ فَإِنَّ اللَّهَ يَسْتَجِيبُهُ لَكُمْ»
"Aku dianugerahi aamiin dalam salat dan ketika melakukan doa, tiada seorang pun sebelumku (yang diberi aamiin) selain Musa. Dahulu Musa berdoa, sedangkan Harun mengamininya. Maka pungkasilah doa kalian dengan bacaan amin, karena sesungguhnya Allah pasti akan memperkenankan bagi kalian".
Sebagian ulama menyebutkan berkaitan dengan hadis tersebut yaitu firman Allah subhanahu wata'ala:
وَقالَ مُوسى رَبَّنا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوالًا فِي الْحَياةِ الدُّنْيا رَبَّنا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلى أَمْوالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلى قُلُوبِهِمْ فَلا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذابَ الْأَلِيمَ. قالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُما فَاسْتَقِيما وَلا تَتَّبِعانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Musa berkata, "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Wahai Tuhan kami. akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Wahai Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih." Allah berfirman, "Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui’. (Yunus: 88-89).
Menurut riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam telah bersabda:
«إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ آمِينَ وَالْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
"Apabila seseorang di antara kalian mengucapkan aamiin dalam salatnya, maka para malaikat yang di langit membaca amin pula dan ternyata bacaan masing-masing bersamaan dengan yang lainnya, niscaya dia mendapat ampunan terhadap dosa-dosanya yang terdahulu".
Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah "barang siapa bacaan aamiin-nya. bersamaan waktunya dengan bacaan aamiin para malaikat". Menurut pendapat lain, bersamaan dalam menjawabnya; sedangkan menurut pendapat yang lainnya lagi, dalam hal keikhlasannya.
Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Abu Musa secara marfu:
"إِذَا قَالَ، يَعْنِي الْإِمَامَ: {وَلَا الضَّالِّينَ} ، فَقُولُوا: آمِينَ. يُجِبْكُمُ اللَّهُ"
"Apabila imam mengucapkan walad dallin, maka ucapkanlah amin oleh kalian, niscaya Allah memperkenankan (doa) kalian.”
Juwaibir meriwayatkan melalui Dahhak, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu yang menceritakan:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا مَعْنَى آمِينَ؟ قَالَ: "رَبِّ افْعَلْ"
"Aku pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah makna aamiin itu?" Beliau menjawab, "Wahai Tuhanku, kabulkanlah do'a kami".
Al-Jauhari mengatakan, memang demikianlah makna aamiin, maka sebaiknya dilakukan. Sedangkan menurut Imam Turmudzi. makna aamiin ialah "Janganlah Engkau mengecewakan harapan kami". Tetapi menurut kebanyakan ulama, makna amin ialah "Ya Allah, perkenankanlah bagi kami".
قَالَ ابْنُ مَرْدُويه: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلَّامٍ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنْ كَعْبٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا قَالَ الْإِمَامُ: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} فَقَالَ: آمِينَ، فَتُوَافِقُ آمِينَ أَهْلِ الْأَرْضِ آمِينَ أَهْلِ السَّمَاءِ، غَفَرَ اللَّهُ لِلْعَبْدِ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَثَلُ مَنْ لَا يَقُولُ: آمِينَ، كَمَثَلِ رَجُلٍ غَزَا مَعَ قَوْمٍ، فَاقْتَرَعُوا، فَخَرَجَتْ سِهَامُهُمْ، وَلَمْ يَخْرُجْ سَهْمُهُ، فَقَالَ: لِمَ لَمْ يَخْرُجْ سَهْمِي؟ فَقِيلَ: إِنَّكَ لم تقل: آمين"
"Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibranim, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Lais, dari Ibnu Abu Salim, dari Ka'b, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Apabila seorang imam mengucapkan gairil magdubi 'alaihim waladdhollin, lalu ia mengucapkan aamiin. ternyata bacaan aamiin penduduk bumi bersamaan dengan bacaan aamiin penduduk langit (para malaikat), niscaya Allah mengampuni hamba yang bersangkutan dari dosa-dosanya yang terdahulu. Perumpamaan orang-orang yang tidak membaca aamiin (dalam salatnya) sama dengan seorang lelaki berangkat berperang bersama suatu kaum. Kemudian mereka melakukan undian (untuk menentukan yang maju) dan ternyata bagian mereka keluar, sedangkan bagian dia tidak keluar. Kemudian dia memprotes.”Mengapa bagianku tidak keluar?"Maka dijawab, "Karena kamu tidak membaca aamiin.”
Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya telah meriwayatkan melalui Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa pernah dikisahkan perihal orang-orang Yahudi di hadapan Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam. Maka beliau bersabda:
«إِنَّهُمْ لَنْ يَحْسُدُونَا عَلَى شَيْءٍ كَمَا يَحْسُدُونَا عَلَى الْجُمُعَةِ التي هدانا الله لها وضلوا عنها وعلى القبلة التي هدانا الله لها وضلوا عنها وَعَلَى قَوْلِنَا خَلْفَ الْإِمَامِ آمِينَ»
"Sesungguhnya mereka tidak dengki terhadap kita atas sesuatu hal sebagaimana kedengkian mereka terhadap kita karena salat Jumat yang telah Allah tunjukkan kepada kita, tetapi mereka sesat darinya; dan karena kiblat yang telah Allah tunjukkan kepada kita, sedangkan mereka sesat darinya. dan karena ucapan aamiin kita di belakang imam".
Ibnu Majah meriwayatkannya pula dengan lafaz seperti berikut:
«مَا حَسَدَتْكُمُ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ مَا حَسَدَتْكُمْ عَلَى السَّلَامِ وَالتَّأْمِينِ»
"Tiada sekali-kali orang-orang Yahudi dengki kepada kalian sebagaimana kedengkian mereka kepada kalian karena ucapan salam dan aamiin."
Ibnu Majah meriwayatkan pula melalui Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
«مَا حَسَدَتْكُمُ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ مَا حَسَدَتْكُمْ عَلَى قَوْلِ آمِينَ فَأَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ آمِينَ»
"Tidak sekali-kali orang-orang Yahudi dengki kepada kalian sebagaimana kedengkian mereka kepada kalian karena ucapan aamiin. Maka perbanyaklah bacaan aamiin".
Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
"آمِينَ: خَاتَمُ رَبِّ الْعَالَمِينَ عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ"
"Ucapan aamiin adalah pungkasan doa semua orang bagi hamba-hamba-Nya yang beriman."
Perbedaan Kata Amin, Aamin, Amiin dan Aamiin
Banyak orang yang belum paham betul bagaimana perbedaan kata tersebut dalam penggunaannya.
Baik secara lisan maupun tulisan. Semua kata di atas adalah benar, tergantung bagaiamana maksudnya. Kata di atas merupakan serapan dari Bahasa Arab yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Arab ada huruf yang dibaca panjang atau madd dan ada juga yang dibaca pendek. Huruf yang panjang harus dibaca panjang, demikian juga huruf yang pendek harus dibaca pendek. Jika salah membaca maupun menulis maka bisa merubah maknanya.
Berikut perbedaan makna dari empat kata tersebut:
Kata “amin” (أَمِنْ), yaitu huruf a dan mim pendek, maka artinya adalah “amankanlah”
Kata “aamin” (أٰمِنْ), yaitu huruf a panjang dan huruf mim pendek, maka artinya adalah “percayalah”
Kata “amiin” (أَمِيْنَ), yaitu huruf a pendek dan huruf mim panjang, maka artinya adalah “jujur”
Kata “aamiin” (أٰمِيْنَ), yaitu huruf a panjang dan huruf mim panjang karena ada ya’ sesudahnya, maka artinya adalah “Ya Allah kabulkanlah permintaan kami”.
Karena itu tulisannya harus benar dan bacaannya juga harus benar. Dan keempat kata di atas semuanya benar tergantung kita menggunakannya. Jadi sesuaikanlah dengan kebutuhanmu dan berhati-hatilah ketika menggunkannya agar tidak merubah artinya. Sehingga dengan demikian apabila kita selesai berdo'a maka penggunaan kata yang tepat adalah mengucapkan Aamiin. Wallahu 'a'lam bisshowab.
_________________
"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi mahyaya wa mamati, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi amutu wa yaumi ub'atsu hayya, wa sholli 'ala sayyidina Muhammadin fi yaumi kholaqtaddunya ila yaumil hisab, wa 'ala alihi washohbihi wasallam tasliman katsiro, walhamdulillahi rabbil 'alamin"
"Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad dalam hidupku dan matiku, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepada junjungan kami Nabi Muhammad sejak hari Engkau menciptakan dunia sampai Hari Pembalasan (kiamat) dan atas keluarganya dan para sahabatnya, semoga kesejahteraan senantiasa Engkau limpahkan kepada mereka. Dan segala puji bagiMu Allah, Tuhan semesta alam".
(@hyan elbanis)
