Syaikh Jampes Sang Ulama Kediri Mendunia Karena Kitabnya Tentang Manfaat Kopi dan Rokok

Yasayyidiyarasulallah | Syekh Ihsan Jampes dikenal sebagai ulama yang produktif dan menghasilkan karya atau kitab sejak umurnya 33 tahun. Beliau  hingga akhir hayatnya merupakan perokok dan peminum kopi, hal inilah yang mendorong sang ulama asal Kediri itu menuliskan Kitab Irsyadu Al-Ikhawan li Bayani Syurbi Al-Qahwati Wa Ad-Dukhoni sebuah kitab yang memberikan ulasan pandangan Islam tentang Kopi dan Rokok.

Kitab ini membahas khusus dinamika perbedaan para ulama tentang rokok dan kopi. Tentang faedah kopi, Syaikh Ihsan menadzomkan :

عليك بأكل البُنِّ فى كلّ ساعة * ففى البنِّ للأكل خمس فوائد

نشاط و تهضيم و تخليل بلغَم * تطَيُّب اَنْفاس و عون لقاصدلقاصد

"..'Alaika bi aklil bunni fa kulli sa'atin fa falbunni lil akli khomsun fawaida nasyathun wa tahdhimun wa takhlilun bi laghomin tathoyyubunfasin wa 'aunun lil qhoshidin".

Terjemahan bebasnya : "Anda sebaiknya minum kopi setiap saat, karena kopi memiliki lima manfaat jika dikonsumsi: merangsang aktivitas, membantu pencernaan, membersihkan dahak, menyegarkan napas, dan membantu mereka yang membutuhkannya"

Kitab tersebut berisi 180 dalam bentuk nadhoman dengan disertai syarah atasnya. Syaikh Ihsan mengarang syair untuk kemudian disyarahi sendiri. Sedikit cerita, bahwa Mbah Ihsan mengarang kitab ini berawal dari beliau menghadiri suatu acara dimana banyak Kiai yang menghadirinya, salah satu kiai protes kepada Syaikh Ihsan karena beliau merokok, beliau hanya menanggapinya dengan mesem. Sepulang dari acara, Mbah Ihsan mengarang kitab Irsyadul Ikhwan.

Ini menarik, Mbah Ihsan sudah jauh memakai dialektika ala intelektual sebelum banyak ada mahasiswa di Indonesia. Syaikh Ihsan tak menanggapinya di tempat, namun beliau menanggapinya dengan cara mengarang buku.

Selain itu karya monumental Syaikh Ihsan ialah Kitab Sirajuth Thalibin, sebuah kitab mensyarahi kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghozali. Kitab tersebut dikenal dan dikaji di Timur Tengah. Mbah KH Maimun Zubair Sarang, menjuluki Syaikh Ihsan sebagai Imam Ghazali shogir.

Dalam kitab Irsyadu Al-Ikhawan li Bayani Syurbi Al-Qahwati Wa Ad-Dukhoni karyanya ini, Syekh Ihsan ingin memberikan argumen teologis bahwa minum kopi dan merokok bukan merupakan larangan dalam agama Islam. Bahkan itu merupakan anjuran bagi orang yang jika dengan meminum kopi dan rokok dia akan menemukan banyak inspirasi. 

Dalam kitab ini dijelaskan mengenai hukum kopi dan rokok secara objektif, yakni pendapat ulama mengenai rokok. Ada yang haram (melarang), makruh (larangan yang tidak pasti), dan mubah (apabila dikerjakan tidak berpahala dan tidak berdosa, jika ditinggalkan pun tidak berdosa dan tidak berpahala).

Menurut kitab ini, hukum merokok itu diperbolehkan, bahkan rokok ini bisa menjadi penolong agar lisan kita menjadi fasih dalam berkata dan orasi serta terbiasa untuk mengajar. Dengan merokok menjadi semangat dan berhati-hati dalam bertindak.

Selain rokok, ada kopi yang bisa menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang kering, bisa menghilangkan bahaya-bahaya di dalam tubuh, bahkan bisa menjadi penambah amal saleh bagi peminum kopi. Konon dari pemahaman para sufi, kopi merupakan minuman para malaikat, sehingga orang-orang yang meminum kopi ini didampingi oleh para malaikat.

Dalam kitabnya tersebut juga dijelaskan tentang sejarah kopi. Diceritakan seorang petani di Ethiopia sedang menggembala kambing, kemudian kambingnya memakan biji-bijian yang aneh, namun dilain sisi membuat kambingnya semakin sehat.

Petani Ethiopia ini sampai akhirnya mengumpulkan biji dan akhirnya ia seduh. Petani ini mengalami efek yang menurutnya aneh yang membuatnya semakin kuat dan fresh, baik dalam hal belajar ataupun berdzikir. Inilah hal yang membuat kopi dinamai ‘Qahwah’ yang dalam Bahasa Arab artinya sesuatu yang menghipnotis akal.

Selain itu, ada fakta yang menyebut bahwa kopi dari Ethiopia itu diimpor di sebuah kota pelabuhan Laut Merah di Pantai Yaman bernama Mukha, Mocha, atau Mokha. Dari kota Mocha inilah kemudian kita kenal istilah ‘Mochachino’ perpaduan antara Yaman dan Italia.

Syekh Ihsan berpesan pada penikmat kopi dan rokok, agar mengonsumsi kopi dan rokok tidak berlebihan. Terlalu banyak rokok itu merupakan hal yang tidak baik karena membuat ngos-ngosan (terengah-engah). Sementara tidak ngopi menyebabkan rasa kantuk, akan tetapi bila terlalu banyak dikonsumsi akan menjadi susah tidur dan lemas.

Harapannya dengan banyaknya kafe (warung kopi) yang didirikan, lahir inspirasi-inspirasi dan ide kreatif yang bisa membangun bangsa Indonesia serta meningkatkan persatuan dan kesatuan dalam menjaga NKRI (Negar Kesatuan Republik Indonesia). 

Biografi Syaikh Ihsan Jampes

Syekh Ihsan Jampes lahir pada 1901 dan wafat pada 16 September 1952 pada usia 51 tahun. Selain kitab kontroversi kopi dan rokok, karya yang cukup terkenal lainnya adalah Siraj al-Thalibin dan Manahij Al-Amdad yang ditulis pada 1944.

Banyak ulama nusantara yang karyanya dikaji di Timur Tengah, salah satunya Al-'Aalim Al-'Allaamah Ash-Shufi Asy-Syaikh Muhammad Ihsan bin Muhammad Dahlan al-Jampasi al-Kadiri al-Jawi asy-Syafi'i atau dikenal Syeikh Ihsan Jampes.

Syeikh Ihsan Jampes lahir pada 1901 M dengan nama asli Bakri dari pasangan KH Dahlan dan Nyai Artimah. Ayah Syeikh Ihsan Jampes adalah ulama terkemuka pada zamannya yang merintis Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1886 M. Dan merupakan putra KH Saleh seorang kiai dari Jawa Barat yang leluhurnya masih memiliki nasab ke Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Sedangkan Ibu Syeikh Ihsan Jampes Nyai Artimah adalah putri KH Sholeh Banjarmelati Kediri.

Pada masa revolusi 1445, Syeikh Ihsan Jampes memiliki peran yang krusial. Pesantren Syeikh Ihsan Jampes menjadi tempat transit para pejuang sekaligus meminta doa. Bahkan Syeikh Ihsan Jampes turut mengirim santrinya untuk ikut berperang melawan penjajah.

Senin 25 Dzul-Hijjah 1371 H atau September 1952 Syeikh Ihsan Jampes wafat pada usia 51 tahun. Beberapa karya Syeikh Ihsan Jampes anatara lain Tashrih al-Ibarat (syarah dari kitab Natijat al-Miqat karya KH Ahmad Dahlan Semarang) dan Siraj ath Thalibin (syarah dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam Ghazali).

Syeikh Ihsan adalah ulama yang terkenal suka membaca dan menulis (mengarang). Ia selalu mengisi waktu senggangnya dengan membaca dan menulis. Naskah yang ia tulis adalah naskah-naskah yang berisi ilmu-ilmu agama atau yang bersangkutan dengan kedudukannya sebagai pengasuh pondok pesantren. Di antara kitab-kitab yang telah ia tulis ialah:

Tashrih al-Ibarat. Kitab ini ditulis pada tahun 1930, yang merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Natijat al-Miqat karangan K.H. Ahmad Dahlan, Semarang. Kitab ini mengulas tentang ilmu falak (astronomi).

Siraj al-Thalibin. Kitab ini ditulis pada tahun 1932, yang merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Minhaj al-Abdidin karangan Imam al-Ghazali. Kitab ini mengulas tentang ilmu tasawuf.

Manahij al-Amdad. Kitab ini ditulis pada tahun 1944, yang merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Irsyad al-Ibad Ilaa Sabili al-Rasyad karangan Syekh Zainuddin Al-Malibari. Kitab ini mengulas tentang ilmu tasawuf.

Irsyad al-Ikhwan Fi Syurbati Al-Qahwati wa al-Dukhan, merupakan kitab yang khusus membicarakan minum kopi dan merokok dari segi hukum Islam.

Syeikh Ihsan memiliki nama kecil Bakri. Ayahnya, Kiai Muhammad Dahlan, merupakan pendiri Pondok Pesantren Jampes yang kini berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Ihsan.[1] Ibunya bernama Nyai Artimah, putri Kiai Ahmad Shaleh, Banjar Melati, Kediri, yang juga mertua dari Kiai Ma'ruf pendiri Pondok Pesantren Kedunglo dan K.H. Abdul Karim (Kiai Manaf) adalah pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Ketika kecil, Syeikh Ihsan terkenal anak yang nakal, namun memiliki kecerdasan yang lebih dibanding teman-teman sebayanya

Namun, namanya lebih dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Jampes (kini Al Ihsan Jampes) di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namanya semakin terkenal setelah kitab karangannya Siraj Al-Thalibin menjadi bidang ilmu yang dipelajari hingga perguruan tinggi, seperti Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Dan, dari karyanya ini pula, ia dikenal sebagai seorang ulama sufi yang sangat hebat.

Semasa hidupnya, Kiai dari Dusun Jampes ini tidak hanya dikenal sebagai ulama sufi. Tetapi, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu falak, fikih, hadis, dan beberapa bidang ilmu agama lainnya.

Dilahirkan sekitar tahun 1901, Syekh Ihsan al-Jampesi adalah putra dari seorang ulama yang sejak kecil tinggal di lingkungan pesantren. Ayahnya KH Dahlan bin Saleh dan ibunya Istianah adalah pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Jampes.

Kakeknya adalah Kiai Saleh, seorang ulama asal Bogor, Jawa Barat, yang masa muda hingga akhir hayatnya dihabiskan untuk menimba ilmu dan memimpin pesantren di Jatim.

Kiai Saleh sendiri, dalam catatan sejarahnya, masih keturunan dari seorang sultan di daerah Kuningan (Jabar) yang berjalur keturunan dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon, salah seorang dari sembilan wali penyebar agama Islam di Tanah Air.

Sedangkan, ibunya adalah anak dari seorang kiai Mesir, tokoh ulama di Pacitan yang masih keturunan Panembahan Senapati yang berjuluk Sultan Agung, pendiri Kerajaan Mataram pada akhir abad ke-16.

Keturunan Syekh Ihsan al-Jampesi mengenal sosok ulama yang suka menggeluti dunia tasawuf itu sebagai orang pendiam. Meski memiliki karya kitab yang berbobot, namun ia tak suka publikasi. Hal tersebut  pernah diungkap KH Abdul Latief, pengasuh Ponpes Jampes sekaligus cucu dari Syekh Ihsan al-Jampesi.

Di antara kitab-kitab karyanya, yang paling populer dan mampu mengangkat nama hingga ke mancanegara adalah Siraj Al-Thalibin .

Bahkan, Raja Faruk yang sedang berkuasa di Mesir pada 1934 silam pernah mengirim utusan ke Dusun Jampes hanya untuk menyampaikan keinginannya agar Syekh Ihsan al-Jampesi bersedia diperbantukan mengajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Namun, beliau menolak dengan halus permintaan Raja Faruk lewat utusannya tadi dengan alasan ingin mengabdikan hidupnya kepada warga pedesaan di Tanah Air melalui pendidikan Islam.

Dan, keinginan Syekh Ihsan al-Jampesi tersebut terwujud dengan berdirinya sebuah madrasah dalam lingkungan Ponpes Jampes di tahun 1942. Madrasah yang didirikan pada zaman pendudukan Jepang itu diberi nama Mufatihul Huda yang lebih dikenal dengan sebutan ‘MMH’ (Madrasah Mufatihul Huda).

Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Jampes terus didatangi para santri dari berbagai penjuru Tanah Air untuk menimba ilmu.

Kemudian, dalam perkembangannya, pesantren ini pun berkembang dengan didirikannya bangunan-bangunan sekolah setingkat tsanawiyah dan aliyah.

Dedikasinya terhadap pendidikan Islam di Tanah Air terus ia lakukan hingga akhir hayatnya pada 15 September 1952. "Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fuanhu". Lahu al Fatihah. 

Wallahu 'a'lam bisshowab. (@hyan_elbanis). 


  • Tentang Penulis
  • youtube