Yasayyidiyarasulullah | Jika tak ada demosntrasi tidak akan ada proses demokrasi, meski demo kadang disalahkan tujuan kepentingan tertentu. Namun demo bagian dari anasir demokrasi itu sendiri. Semakin banyak demo semakin menunjukkan demokrasi suatu negara itu akan lebih hidup, sebab banyak orang menyampaikan pendapat atau tuntutan secara transparan dan terbuka.
Maka hidup-hidupilah demo itu agar menggeliat demokrasi tapi jangan mencari hidup di demo, artinya demonstrasi merupakan kepentingan bersama dalam sebuah komunitas untuk menyampaikan tuntutan jangan dijadikan mata pencaharian, atau dengan tujuan 'golek duit' cari keuntungan pribadi dengan memanfaatkan demo mengorbankan banyak orang yang menggantungkan harapan terpenuhinya tuntutan yang diperjuangkan.
Demo dan politik ada korelasinya idiom demo sendiri dinisbatkan dari kata--Demokrasi--asalnya dari bahasa Yunani---Demos berarti Rakyat dan Kratos yaitu kekuasaan/Pemerintahan.
Demo adalah menyampaikan aspirasi tuntutan kepada yang berkuasa--bisa pemimpin agar dipenuhi tuntutannya----juga bisa lainnya seperti karyawan buruh pada menejemen perusahaan atau elemen lainnya, dengan melalui saluran menyampaikan pendapat di muka umum sesuai perundangan yang berlaku.
Maka segala macam berkaitan dengan rakyat dan kekuasaan dalam hal ini pemimpin--sudah barang tentu itu menyangkut politik, sedangkan politik sendiri adalah bagaimana cara atau siasat juga metode untuk mencapai jalan arah tujuan.
Demo yang berkualitas yaitu kalau sekelompok golongan atau pun perorangan menyampaikan pendapat di muka umum----langsung direaksi direspon---oleh yang memegang tampuk pimpinan yang berwenang terkait asbab menjadikan mereka melakukan demontrasi----
Di lapangan, pendemo cerdik tidak akan mau disiasati bujukan rayuan, misalnya mereka diminta yang jadi perwakilan (korlap aksi) untuk menemui diajak berunding dalam tuntutannya,
Dus pemimpin yang didemo itulah justru akan mendatangi mereka, pada saat yang lain aksi2nya berlangsung di lapangan sehingga tidak menuntut kemungkinan terjadinya deal dibalik perundingan meja bunder mereka, kemudian ujung2nya tidak ada kelanjutan aksi mereka bahkan seolah tidak terjadi apa2 dibiarkan berlalu begitu saja, sedangkan orang orang lain yang ikut demo lambat laut buyar dengan sendirinya dengan penuh kecewa karena yang menjadi aspirasinya tidak tersalurkan secara tepat.
Jadi kalau ada pendemo diminta menemui atau diundang untuk mendatangi yang didemo, dengan dalih perundingan itu (hati2) bisa jadi trik dari proses pengondisian agar mereka tak melanjutkan demonya atau berkaitan hal hal lain dengan tujuan2, misalnya (komisi) dibalik meja bunder perundingan.
Sebetulnya, no problem kalau mereka dengan kesepakatan berunding di meja bundar, sambil boleh ngopi cekak'kak'an cekikikan, makan minum bareng jamuan--tapi harus diingat jangan melupakan---fokus--- dari target yang menjadi tujuan dari perjuangan mereka menggelar demo itu sendiri!. @hiyan_elbanis.
#Demo adalah demokrasi
#Demo berkualitas
#Demo bukan sekeda demo
#Demo harus cerdik.
Maka hidup-hidupilah demo itu agar menggeliat demokrasi tapi jangan mencari hidup di demo, artinya demonstrasi merupakan kepentingan bersama dalam sebuah komunitas untuk menyampaikan tuntutan jangan dijadikan mata pencaharian, atau dengan tujuan 'golek duit' cari keuntungan pribadi dengan memanfaatkan demo mengorbankan banyak orang yang menggantungkan harapan terpenuhinya tuntutan yang diperjuangkan.
Demo dan politik ada korelasinya idiom demo sendiri dinisbatkan dari kata--Demokrasi--asalnya dari bahasa Yunani---Demos berarti Rakyat dan Kratos yaitu kekuasaan/Pemerintahan.
Demo adalah menyampaikan aspirasi tuntutan kepada yang berkuasa--bisa pemimpin agar dipenuhi tuntutannya----juga bisa lainnya seperti karyawan buruh pada menejemen perusahaan atau elemen lainnya, dengan melalui saluran menyampaikan pendapat di muka umum sesuai perundangan yang berlaku.
Maka segala macam berkaitan dengan rakyat dan kekuasaan dalam hal ini pemimpin--sudah barang tentu itu menyangkut politik, sedangkan politik sendiri adalah bagaimana cara atau siasat juga metode untuk mencapai jalan arah tujuan.
Demo yang berkualitas yaitu kalau sekelompok golongan atau pun perorangan menyampaikan pendapat di muka umum----langsung direaksi direspon---oleh yang memegang tampuk pimpinan yang berwenang terkait asbab menjadikan mereka melakukan demontrasi----
Di lapangan, pendemo cerdik tidak akan mau disiasati bujukan rayuan, misalnya mereka diminta yang jadi perwakilan (korlap aksi) untuk menemui diajak berunding dalam tuntutannya,
Dus pemimpin yang didemo itulah justru akan mendatangi mereka, pada saat yang lain aksi2nya berlangsung di lapangan sehingga tidak menuntut kemungkinan terjadinya deal dibalik perundingan meja bunder mereka, kemudian ujung2nya tidak ada kelanjutan aksi mereka bahkan seolah tidak terjadi apa2 dibiarkan berlalu begitu saja, sedangkan orang orang lain yang ikut demo lambat laut buyar dengan sendirinya dengan penuh kecewa karena yang menjadi aspirasinya tidak tersalurkan secara tepat.
Jadi kalau ada pendemo diminta menemui atau diundang untuk mendatangi yang didemo, dengan dalih perundingan itu (hati2) bisa jadi trik dari proses pengondisian agar mereka tak melanjutkan demonya atau berkaitan hal hal lain dengan tujuan2, misalnya (komisi) dibalik meja bunder perundingan.
Sebetulnya, no problem kalau mereka dengan kesepakatan berunding di meja bundar, sambil boleh ngopi cekak'kak'an cekikikan, makan minum bareng jamuan--tapi harus diingat jangan melupakan---fokus--- dari target yang menjadi tujuan dari perjuangan mereka menggelar demo itu sendiri!. @hiyan_elbanis.
#Demo adalah demokrasi
#Demo berkualitas
#Demo bukan sekeda demo
#Demo harus cerdik.
