Kajian Tafsir Tematik: Bijaklah Dalam Bermedia Sosial, Tidak Mengalirkan Dosa Jariyah

Yasayyidiyarasulallah | Bijaklah di sosial media dengan tidak berbuat dosa jariyah. Karena tidak sedikit orang sadar menjadikan medsos sebagai sarana kebaikan, tapi dipakai untuk kejahatan bebas mengumbar aurat keburukan orang lain baik melaui status atau narasi-narasi kebencian ataupun vidio/gambar syur pornografi.

Jangan bangga jika share keburukan orang lain menyebarkan hoax, tidak menjaga lisan berkata baik alias berkomentar dengan ghibah memfitnah dan merugikan orang lain sepihak tanpa tabayyun dengan sesukanya tidak memikirkan akibatnya.

Apabila menyebar luaskan keburukan orang lain, dishare berantai di medsos akan mendapatkan dosa jariyah mengalir terus yang justru nantinya akan menghabiskan amal kebaikan. Naudzubillahi mindzalik!.

Tahukah seperti apakah orang yang dikatakan Al-Muflis atau bangkrut di akhirat?. Ada baiknya muhasabah merenungkan sabda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam berikut ini:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang Bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang bangkrut) itu adalah orang yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Nabi ﷺ bersabda, orang yang bangkrut dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, TETAPI (ketika di dunia) dia telah mencaci dan *salah menuduh orang lain, makan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka mereka yang dizhalimi itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya (Pelaku dosa itu). Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka yang dizhalimi akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim).

Perkembangan pesat era digital saat ini telah merubah cara pandang, mereka leluasa menyampaikan pendapat--berbicara--melalui pencat pencet dengan jempol di telepon genggamnya tanpa berfikir panjang dengan dosa jariyah.

Hendaknya berhati-hati menjaga lisan baik di dunia nyata dan menjaga tulisan serta komentar maupun di dunia maya. *Karena tulisan itu kedudukannya sama dengan ucapan lisan.*

Ada kaidah yang penting untuk dipahami, bahwa :

الكتابة تنزل  منزلة القول

"Tulisan itu (hukum/kedudukannya) seperti lisan”

Ketika lisan suka mencaci, mencela, melaknat, ghibah dan berkata-kata kotor kepada orang lain, _ini sama saja kita akan “bagi-bagi pahala gratis” kepada mereka kemudian kita akan bangkrut. Karena dengan lisan dan tulisan kita, mereka yang kita cela dan caci-maki adalah pihak yang kita dzalimi. Jika kita tidak meminta ma'af di dunia, maka urusan akan berlanjut di akhirat.

Di akhirat kita tidak bisa lagi meminta maaf begitu saja, akan tetapi ada kompensasinya. Kompenasi tersebut bukan uang ataupun harta. Karena ini sudah tidak bermanfaat di hari kiamat.

Di zaman ini, adanya sosial media dan internet, menjadikan manusia mudah/leluasa untuk berbicara/ menyampaikan pendapatnya.

Di sosial-media, seseorang lebih mudah menyampaikan aspirasi dan pendapatnya. Akan tetapi, *ada sisi negatif sosial-media,* yaitu setiap orang *bebas berbicara negatif, mencaci, mencela, dan mengungkapkan segala hal negatif yang ada di pikiran dan hatinya.* BAHKAN lebih bebas daripada di dunia nyata, karena ia bisa sembunyi di balik akun sosial-media miliknya, bisa lebih berani karena tersembunyi dan merasa lebih mudah lari dari tanggung jawab.

Sebagai seorang mukmin, tentu sangat tidak layak berbicara kasar, mencela dan melaknat, kapanpun dam di mana pun, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Nabi ﷺ bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻟَﻴْﺲَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻌَّﺎﻥِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟﻄَّﻌَّﺎﻥِ، ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﻔَﺎﺣِﺶِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟْﺒَﺬِﻱﺀِ

"Sesungguhnya orang mukmin* itu adalah orang yang *tidak suka melaknat, mencela, berkata keji/jorok, dan kotor”. (HR. Ahmad 1/416; shahih).

Jagalah lisan dengan bijak menggunakan medsos sebelum terlambat, kematian senantiasa mengintai datang tanpa diundang pergi tanpa pamit.

Di dunia ini, sungguh sangat sulit mencari keadilan!. Bagi orang yang pemahaman agamanya sangat dalam, Ini adalah bukti akan adanya hari perhitungan amal-amal kita yang teliti setelah kematian, dan pada saat itulah ALLAH ﷻ yang akan memberikan keadilan yang seadil-adilnya.

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita menjaga lisan kita, karena memang lidah itu tidak bertulang, sangat mudah kita dengan lisan dan tulisan kita menyakiti orang lain. Terlebih kalau yang disakiti itu sesama muslim yang sejatinya adalah saudara kita.

*Allah ﷻ berfirman,*

*ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺆْﺫُﻭﻥَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻣَﺎ ﺍﻛْﺘَﺴَﺒُﻮﺍ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺣْﺘَﻤَﻠُﻮﺍ ﺑُﻬْﺘَﺎﻧًﺎ ﻭَﺇِﺛْﻤًﺎ ﻣُّﺒِﻴﻨًﺎ*

"Dan orang-orang yang *menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. (QS. Al-Ahzab : 58).

Karenanya Nabi ﷺ menjamin surga bagi mereka yang bisa menjaga lisannya. Beliau ﷺ bersabda,

*ﻣَﻦْ ﻳَﻀْﻤَﻦَّ ﻟِﻲ ﻣَﺎﺑَﻴْﻦَ ﻟِﺤْﻴَﻴْﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺃَﺿْﻤَﻦْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ*

Aku berikan jaminan sorga, bagi sesiapa yang bisa/mampu menjaga apa yang ada di antara dua janggutnya (yaitu mulutnya) dan dua kakinya (kemaluannya)”. (HR. Bukhari).

Semoga ini menjadi musahasabah kita semua dan menjadi insan yang selalu berbuat kebaikan, saling mengingatkan dalam kebajikan dan kesabaran sebagaimana terkandungan dalam surat Al Ashr:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالۡعَصۡرِۙ . اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ  . اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ  وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡر .

Artinya: "Dengan nama Allah yang mana pengasih lagi maha penyayang".
"Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran
". (Qur'an surat Al Ashr).

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin" 

(@hyan elbanis) 

  • Tentang Penulis
  • youtube