Kajian Tafsir Tematik: Nabi Penuh Teka Teki Sepanjang Zaman, Do'anya Banyak Diamalkan Umat Islam

Allahumma yassirlana wa balligh 'alaina ziyarota haromika wa haromihi shollalahu 'alaihi wasallam
Yasayyidiyarasulallah | Kisah Nabi Khidir 'alahi as-salam sampai saat ini penuh misteri, hal ini memang namanya tidak disebut dalam Al Qur'an seperti para Nabi dan Rasul lainnya. Namun keberadaanya diperbincangkan umat Islam sepanjang zaman. Jumlah nabi sangat banyak ada yang menyebutkan total 124.000 Nabi, terdapat 25 yang wajib diimani dan nama-namanya tercatat dalam Al-Quran.

Sebanyak 18 nama disebutkan dalam QS. Al-An’am ayat 83-86, termasuk  Ibrahim, Ishak, Yakub, Nuh, Dawud, Sulaiman, hingga Luth. Kemudian tiga Nabi lainnya yakni Hud, Shaleh, dan Syu’aib terdapat dalam QS. Hud ayat 50, 61, dan 84. Nabi Adam dijelaskan dalam QS. Ali Imran ayat 33, sementara Idris dan Zulkifli terdapat dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 85. Nabi Muhammad Saw disebut dalam QS. Al-Fath ayat 29 sebagai penutup para Nabi dan sekaligus menjadi teladan terbaik, sebagaimana disinggung dalam QS. Al-Ahzab ayat 21.

Keistimewaan utama para Nabi dan Rasul adalah pilihan Allah yang bijak atas manusia-manusia terbaik untuk menerima dan menyampaikan wahyu-Nya, seperti yang disampaikan dalam QS. Fathir ayat 24 dan Al-Kahfi ayat 110. Mereka adalah individu luar biasa yang menjalankan peran ilahi dengan sepenuh hati, melangkah sebagai pembimbing umat dan teladan yang tak lekang dimakan zaman.

Salah satu kisah Nabi Khidir alaihi as-salam yang terkenal adalah saat bertemu dengan Nabi Musa 'alaihi as-salam disebutkan, bahwa Nabi Musa alaihi as-salam bertemu dengan seseorang yang memiliki ilmu luar biasa dari Allah subhanahu wa ta'ala seperti kisahnya dalam Al Qur'an surat Al Kahfi. Banyak ulama yang meyakini sosok tersebut adalah Nabi Khidir alaihi as-salam meskipun tidak ada keterangan eksplisit dalam Al-Quran yang menyebutkan namanya secara langsung.

Namun, keberadaan Nabi Khidir alaihi as-salam hingga kini masih menjadi tanda tanya. Hal ini lantas memunculkan pendapat bahwa Nabi Khidir alaihi as-salam masih hidup hingga saat ini. Pada Kitab Al-Asror Rabbaniyyah wal Fuyudhatur Rahmaniyyah karya Syekh Ahmad Shawi Al-Maliki diterangkan. "Telah berkata guru dari guru-guru kami, Sayyid Mushtofa Al-Bakri: Telah berkata Al-'Ala’i di dalam kitab tafsirnya bahwa sesungguhnya Nabi Khidir dan Nabi Ilyas hidup kekal sampai hari Kiamat.” Nabi Khidir berkeliling di sekitar lautan sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di lautan. Sedangkan, Nabi Ilyas berkeliling di sekitar gunung-gunung sambil memberi petunjuk kepada orang-orang yang tersesat di gunung-gunung. Aktivitas itu merupakan kebiasaan mereka di waktu siang hari. Sedangkan di waktu malam hari, mereka berkumpul di bukit Ya'juj wa Ma'juj sambil mereka menjaganya.

Selain itu ada juga yang berpendapat Nabi Idris dan Nabi Isa 'alaihuma as-salam juga masih hidup sampai sekarang. Terkait Nabi Isa 'alaihi as-salam akan datang kelak bersamaan dengan Imam Mahdi untuk menumpas Dajjal la'natullah di akhir zaman.

Disebutkan pula dalam kitab Asrarur Rabbaniyah, Syaikh Ahmad Al-Shawi menjelaskan Nabi Khidir 'Alaihi as-Salam dan Nabi Ilyas 'Alaihi as-Salam masih hidup sampai sekarang. Nabi Khidir hidup di laut sementara Nabi Ilyas hidup di daratan dan gunung. Mereka berdua setiap tahun bertemu di Mina dan ketika hendak berpisah, mereka membaca doa berikut;

بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إلَّا اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

'Bismillahi ma sya-allah la yasuqul khoiro illallah bismillahi ma sya-allah la yashrifus su-a illallah bismillah ma sya-allah ma kana min ni’matin fa minallah bismillah ma sya-allah la hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim."

Artinya: "Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang menyingkirkan keburukan kecuali Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada kenikmatan melainkan dari Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tiada daya untuk berbuat kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah dan tiada kekuatan untuk menghindar dari perbuatan maksiat kecuali dengan perlindungan Allah yang maha tinggi dan maha agung."

Disebutkan pula dalam kitab Al-Bidayah wa Al-Nihayah dan Kitab Tanwirul Qulub (hal: 484), bahwa Ibnu Abbas Rhodiyallahu 'Anhu berkata;

قال ابن عباس : من قالهن حين يصبح وحين يمسى ثلاث مرات امنه الله من الغرق والحرق والسرق ومن الشيطان والسلطان ومن الحية والعقرب (تنوير القلوب ٤٨٤)

Artinya: "Barangsiapa membaca doa di atas ketika pagi dan sore sebanyak tiga kali, maka Allah menyelamatkannya dari tenggelam, kebakaran dan pencurian".

Mengutip dari kitab Al-Manhajul Hanif Min Fawaidi Ismihil Latif karya Syaikh Abu Bakar bin Soleh Al-Kattami Asy-Syafi'i (W. 1051 H), beliau mengisahkan seorang soleh bercerita: Suatu hari aku terkena kesulitan dan rasa takut. Kemudian aku keluar rumah menuju Makkah dalam keadaan bingung. Aku berjalan tanpa bekal dan kendaraan selama tiga hari. Pada hari keempat, aku merasa sangat lapar dan dahaga.

Aku juga dihinggapi rasa takut bila sampai mati kelaparan. Selama perjalanan aku tidak mendapati satu pohon pun untuk sekadar berteduh dari teriknya matahari. Kemudian aku duduk menghadap kiblat, hingga tertidur dalam keadaan duduk.

Dalam tidur, aku bermimpi bertemu dengan seseorang. Kemudian ia menghulurkan tangannya dan berjabat tangan denganku.

Ia berkata, “Bergembiralah karena akan selamat. Engkau akan sampai ke Baitullah dan juga berziarah ke Maqam Rasulullah Sollallahu ‘alaihi was sallam.”

Aku bertanya, “Siapakah anda ini?”

Orang itu menjawab, “Aku Khidir.”

Aku berkata, “Doakanlah aku!”

Orang itu kemudian berdoa dengan doa berikut tiga kali:

يَا لَطِيْفًا بِخَلْقِهِ، يَا عَلِيْمًا بِخَلْقِهِ، يَا خَبِيْرًا بِخَلْقِهِ، اُلْطُفْ بِنا  يَا لَطِيْفُ، يَا عَلِيْمُ، يَا خَبِيْرُ

"Ya latifan bi khalqihi, ya aliman bi khalqihi, ya khabiran bi kholqihi ultuf bina ya latif ya alim ya khabir".

Artinya; "Wahai Zat yang Maha lemah lembut terhadap makhluk-Nya, Wahai Zat Yang maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya Wahai Zat Yang Maha memahami segala rahasia makhluk-Nya. Kumohon berlemah lembutlah kepada kami wahai Zat yang Maha lemah lembut, Yang maha mengetahui lagi maha memahami". 

Aku kemudian mengikuti bacaan doa tersebut tiga kali. Orang itu kemudian berkata:

هذه تحفة بها غنى، فإذا لحقك ضائقة، أو نزل بك نازلة، فقلها تكفى وتشفى

"Ini adalah hadiah yang sangat berharga, di dalamnya terdapat kekayaan. Apabila engkau terkena kesempitan atau musibah, maka bacalah doa itu, engkau akan diselamatkan dan disembuhkan.”

Kemudian orang itu menghilang dari pandanganku. Aku terbangun dari tidur, kemudian doa itu aku baca. Demi Allah, doa itu aku baca setiap kali aku mendapatkan musibah atau kesulitan, maka aku mendapatkan jalan keluar dan pertolongan Allah dengan cara yang sulit dicerita.

Doa Nabi Khidir 'alaihi as-salam tersebut juga terdapat dalam bacaan Ratib Al Aydrus (Al Habib Abdullah bin Abu Bakar Al Aydrus), juga ada dalam Ratib Al Attas (Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos) dan Ratib Al Haddad (Habib Abdillah bin Alwi Al Haddad). Ketiga ratib ini mencantumkan do'a Nabi Khidir 'alaihi as-Salam.

يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ اُلْطُفْ بِنَا يَالَطِيْفُ يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرُ

Dalam Ratib Al Athos ada penambahan lafal do'a dari penyusunnya Habib Umar bin Abdurrahman Al Athos gurunya Habib Alwi Al Haddad penyusun Ratib Al Haddad  yaitu kalimat do'a berikut ini:

يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ اُلْطُفْ بِنَا فِيْمَا نَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ اُلْطُفْ بِنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ

"Wahai Dzat Yang maha lemah lembut.. selamatkanlah kami dari musibah musibah yang turun, sesungguhnya Engkau Dzat yang maha lemah lembut, berbuat lemah lembutlah kepada kami dan kepada seluruh umat islam".

Seperti diketahui Ratib Al Aydrus disusun saat kemarau panjang di dalamnya banyak lafal sholawat, untuk memohon pertolongan Allah (turunnya hujan). Sedangkan Ratib Al Athos disusun untuk diberikan perisai iman, husnul khotimah, panjang umur dan rizqi lancar. Sementara Ratib Al Haddad disusun dengan situasi menyangkut keamanan agar dipagar benteng, yaitu dimana suatu daerah di Yaman akan diserang musuh kemudian beliau diminta untuk menyusun ratib ini, pembacaan ratibnya ini sangat tepat pada saat kondisi Indonesia dalam situasi melawan penjajah, ratib ini datang lebih awal di Indonesia barulah kemudian ratib lainnya menyusul.

Wallahu 'a'lam bi as-showab. 

Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin" 

(@hyan elbanis) 

  • Tentang Penulis
  • youtube