Tidak mengherankan kalau terkadang mereka yang bernalar tidak tahu ilmunya berfikiran terlalu sempit, menganggapnya sebagai syirik. Padahal do'a dengan membaca Ayat Al Qur'an menjadikan air sebagai wadah dalam do'a itu untuk kesembuhan penyakit didapati riwayatnya pada zaman Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wasalam.
Doa dan ayat Al-Quran, sebagai kalimat-kalimat mulia, secara alami mendapatkan respons positif dari air dapat meningkatkan kesehatan tubuh. Hal ini dibuktikan dalam penelitian Masaru Emoto, ilmuwan Jepang menunjukkan bahwa air yang didoakan membentuk kristal heksagonal dengan lima cabang daun yang berkilauan indah.
Dalam bukunya “ The Message from Water” tersebut menunjukkan bukti nyata. Emoto menjelaskan bahwa penyakit pada tubuh menandakan adanya ketidakseimbangan gelombang, dan penyembuhannya dapat dilakukan dengan menyeimbangkan kembali gelombang tersebut menggunakan air yang frekuensinya selaras dengan tubuh. Efektivitas air dalam membersihkan tubuh akan mencapai tingkat optimal setelah diberikan doa-doa.
Tubuh manusia kandungan airnya sangat lebih mengejutkan lagi, tubuh kita 80%-nya adalah air. Otak kita? 90% air, darah kita? Hampir 95% kandungannya air. Jadi ketika kita minum air yang sudah diberi doa, sebenarnya kita sedang memprogram sel-sel tubuh kita dengan energi positif menjadikan tubuh akan sehat.
Al- Qur’an memberikan petunjuk bagi manusia agar berpikir, merenung, menghayati, dan melihat segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah untuk manusia dan bahwa Allah menjadikan segala sesuatu yang hidup dari air. Kemudian adanya keterkaitan antara Al- Qur’an dan Sains medika tentang Air dan manfaat Air bagi kesehatan. Air memiliki perilaku seperti makhluk hidup, hal ini dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama, yang meneliti bentuk molekul air dan didapatkan hasil bahwa bentuk molekul air yang dibacakan doa akan menjadi indah.
Dalam tesis Prayogi, Aditya Dwi Satria (2023) Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung tentang: "Studi pengaruh suara bacaan ayat Al-Qur'an terhadap perubahan pH, konduktivitas dan kesadahan total pada beberapa jenis sampel Air Minum"
Penelitian dalam tesisnya itu bertujuan untuk menganalisis pengaruh suara bacaan ayat Al-Quran dan terhadap perubahan pH, konduktivitas dan kesadahan total pada berbagai jenis sampel air minum. Semua sampel diberi perlakuan dibacakan ayat suci Al-Quran, kemudian diperiksa pH, konduktivitas, dan kesadahan totalnya sebelum dan sesudah dibacakan ayat suci Al-Quran.
Dari hasil perlakuan tersebut diperoleh hampir semua sampel air mengalami kenaikan pH, hasil pemeriksaan konduktivitas terjadi hampir semua mengalami kenaikan konduktivitas dan begitupun dengan kesadahan totalnya. Berdasarkan penelusuran literatur tentang pengaruh gelombang suara terhadap air, besar kemungkinan suara bacaan Al-Quran menyebabkan vibrasi terhadap molekul karbon dioksida yang terlarut dalam air sehingga menyebabkan gas CO2 terlepas dari badan air yang berefek naiknya pH air dan kesadahan total. Adapun terjadinya peningkatan konduktivitas dan penurunan pada sampel, menunjukkan terjadinya penyusunan kluster-kluster air yang lebih teratur setelah dibacakan ayat suci Al-Quran. Dari penelitian diperoleh kesimpulan bahwa bacaan Al-Quran mempengaruhi kualitas air ditinjau dari perubahan pH, konduktivitas dan kesadahan total. (https://digilib.uinsgd.ac.id/80190/) .
Di Islam sendiri contohnya, bisa dilihat dari air zamzam bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebut melalui sabdanya:
حَدَثَنَا هِشَامٌ بْنُ عَمَّارٍ حَدَثَنَا الْوَليْدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُؤَمَّلِ: أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الزُّبَيْرِ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُوْلُ: سَمِعْتث رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ
Artinya: Hisyam Bin Ammar menceritakan kepada kami, Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami: Abdullah bin Mu’mal berkata: bahwa beliau mendengar Abu Az-Zubair pernah berkata: aku mendengar Jabir bin Adullah pernah berkata: aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Air Zam-zam berkhasiat sesuai dengan niat tujuan diminum oleh penggunanya.”
Jadi Tidak mengherankan jika air zamzam begitu berkhasiat, sebab ia telah menyimpan doa-doa dari jutaan manusia selama ribuan tahun.
Dalam Al-Qur’an pun disebutkan bahwa air termasuk makhluk ciptaan Allah subhanahu wata'ala yang memiliki kehidupan sebagaimana firman-Nya:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
"Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup," (QS. Al Anbiya' ayat 30).
Islam adalah agama yang paling melekat dengan air, shalat wajib air wudu 5 kali sehari, habis bercampur hubungan suami istri wajib mandi bersuci (Junub), mati pun wajib dimandikan dan siklus kehidupan itu tergantung pada air.
Meskipun al-Quran tidak secara khusus menyebutkan tentang meminum air yang telah didoakan oleh seorang kiai, tetapi terdapat beberapa ayat dalam al-Quran yang menjelaskan air sebagai sumber kehidupan sekaligus sarana untuk memperoleh keberkahan dalam surah An-Nahl ayat 10 disebutkan:
هُوَالْذِيْ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً لَكُمْ مَّنْهُ شَرَابٌ وَّمِنْهُ شَجَرٌ فِيْهِ تُوْسِيْمُوْنَ
Artinya: “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang dengannya kamu menggembalakan ternakmu.”
Ayat ini menggambarkan betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia melalui beragam nikmat yang Dia berikan. Dia menurunkan hujan dari langit, menghidupkan bumi yang kering, dan memberikan kita air jernih untuk minum baik untuk kita maupun hewan-hewan yang kita pelihara. Air itu juga menyuburkan tanah, menumbuhkan pepohonan hijau yang menjadi makanan ternak kita. Dari sana, kita bisa memanen susu, daging, dan bulu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semua ini adalah bukti bahwa Allah sungguh Maha Pemurah, mengatur segala sesuatu dengan sempurna agar manusia bisa hidup sejahtera.
Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam pernah memberikan air doa kepada sahabat Tsabit bin Qais radhiyallahu 'anhu setelah membacakan ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a yang ma’tsur pada air tersebut. Lalu memerintahkan Tsabit untuk memercikkan air tersebut pada dirinya sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang hasan.
Selain itu, Jibril juga pernah meruqyah Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam ketika beliau sakit, dengan menggunakan air yang dibacakan doa,
بسم الله أرقيك، من كل شيء يؤذيك، من شر كل نفس أو عين حاسد الله يشفيك، بسم الله أرقيك
“Bismillaah urqiika min kulli syai’in yu’dziika wa min syarri kulli nafsin au ‘ainin hasidin allaahu yasyfiika bismillaahi urqiika”
“Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang mengganggumu, dan dari keburukan penyakit ‘ain yang timbul dari pandangan mata orang yang hasad. Semoga Allah menyembuhkanmu, Dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (HR. Muslim).
Tradisi air doa juga banyak dipraktekkan kalangan ulama salaf yang minum air doa sendiri atau dari orang lain. Di antaranya adalah Shaleh, putra Imam Ahmad. Ia minum air yang telah didoakan oleh ayahnya, Imam Ahmad. Bahkan disebutkan bahwa air tersebut bukan hanya diminum, namun juga disiram pada wajah dan kedua tangannya.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Muflih rahimahullahu dalam kitabnya al-Adaab as-Syar’iyyah (2/441),
قال صالح – ابن الإمام أحمد بن حنبل – : ربما اعتللت فيأخذ أبي قدحا فيه ماء فيقرأ عليه ويقول لي : اشرب منه ، واغسل وجهك ويديك . ونقل عبد الله بن الإمام أحمد أنه رأى أباه يعوذ في الماء ويقرأ عليه ويشربه ، ويصب على نفسه منه
Shalih bin Imam Ahmad bin Hanbal berkata; “Terkadang aku sakit kemudian ayahku mengambil cawan yang di dalamnya terdapat air kemudian beliau membaca ayat-ayat Al-Qur’an padanya, dan berkata kepadaku, “Minumlah darinya dan basuh wajah dan kedua tanganmu.”
Abdullah bin Imam Ahmad menukil bahwa sesungguhnya dia melihat ayahnya membaca ta’awwudz pada air dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an padanya dan beliau meminumnya, dan menyiramkan pada dirinya sendiri.
Dari uraian di atas, maka ada dua cara minum dan mandi air do’a. Pertama, minum air do’a dari orang shaleh, kiai dan ulama, dengan cara memintanya atau diberikan tanpa diminta. Kedua, berdo’a sendiri, lalu ditiupkan pada air dan kemudian diminum sendiri.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika merasakan sakit beliau (membaca kemudian) meniupkan surat Al Ikhlas dan Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) pada tangan beliau sebanyak 3 kali. Lalu mengusapkan kedua tangannya pada bagian tubuh yang mampu diusap sebelum tidur. Dimulai dari kepala, wajah, lalu ke dada. Sebagaimana yang diberitakan oleh ‘Aisyah radhiallahu’anha dalam hadits yang shahih tersebut Malaikat Jibril 'alaihi as-salam pernah meruqyah beliau shallallahu’alaihi wasallam ketika beliau sakit, dengan menggunakan air yang dibacakan doa tersebut diatas.
Dan contoh-contoh lain metode ruqyah yang dilakukan pada masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Diantaranya juga, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sering mendoakan orang yang sakit dengan doa:
اللهم رب الناس، أذهب البأس، واشف أنت الشافي، لا شفاء إلا شفاؤك، شفاء لا يغادر سقماً
“Allaahumma rabbannaas adz-hibil ba’sa wasyfi antasy syaafii laa syifaa a illa syifaauka syifaa an laa yughaadiru saqamaa”
“Ya Allah, Rabb bagi manusia. Hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah. Engkaulah yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan hanya dari-Mu. Berikanlah kesembuhan yang tidak meninggalkan sisa sedikit pun” (Fatawa At-Thib wal Mardha hal 394-395, syamilah).
Syeikh Muhammad bin Ibrahim Alu mengatakan dalam Fatawa wa Rasail Samahatnya bahwa sebagian ulama menghukumi hal ini sunnah, sebagian lain berpendapat hal itu tidak mengapa dilakukan, alias mubah. Banyak nash-nash hadis maupun ucapan para ulama yang menjelaskan mengenai hukum permasalahan ini.
عن عائشة رضي اله عنه أن رسول الله كان إذا أخذ مضجعه نفث في يده بالمعوذات ومسح بهما جسده
Dari Sayyidah Aisyah radhiyallahuanha: Bahwasannya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apabila kembali ke tempat tidurnya, maka beliau meniup kepada kedua telapak tangannya setelah membaca Al Muawwidzat (Surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas) kemudian beliau mengusapkan keduanya ke tubuh beliau.” (HR. Bukhari Muslim)
Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan kesunnahan meniup dalam membaca ruqyah dan ulama sepakat akan kebolehannya. Sementara mayoritas sahabat dan tabiin memandangnya sebagai sebuah kesunnahan.
Bahkan dalam salah satu riwayat Imam Ahmad berpendapat bahwa seseorang yang menuliskan Al Qur'an lalu memasukkannya ke dalam bejana air kemudian kemudian diminumkan kepada orang sakit adalah tidak mengapa dilakukan. Wallahu 'a'lam bisshowab.
