Siapakah Ketum PBNU Pasca Gus Yahya Diberhentikan

Yasayyidiyarasulallah | Siapakah yang akan ditunjuk Syuriah PBNU sebagai Ketua PBNU menggantikan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) setelah diberhentikan?. 

Beragam spekulasi tentang penyelesaian kemelut internal PBNU, mengenai mereka yang layak menakhodai NU nyaris karam di lautan terombang-ambing prahara apa karena tarik menarik (lomba) tambang bernilai trilyunan rupiah?. 

Tidak memilih dua kubu yang saling berseteru menimbulkan kisruh di internal PBNU cara paling selamat menyelamatkan NU dari kepentingan pragmatik dan materialistik serta oportunistik. 

Saat ini sangat mendesak dibutuhkan pemimpin baru di NU untuk masa mendatang satu abad NU yang bisa mengejawentahkan spirit khittah NU, yaitu tidak terjebak hingar bingar kepentingan politik pragmatis, tidak menjadi kaki tangan kapitalis yang hanya berorientasi pada kepentingan bisnis dengan halalkan segala cara. 

Serta tidak tergoda dengan manis kekuasaan atau jabatan menggadaikan organisasi maka biarkan eksistensi NU dengan khittahnya agar tidak tercemar ternodai semangat gagasan besar atau cita-cita luhur nan suci para pendiri NU. 

H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) rasanya apa mungkin, karena belum pernah Ketum PBNU merangkap jabatan menteri tapi tidak mustahil juga bisa menjadi Ketum PBNU, apabila dikehendaki Syuriah PBNU atau melalui putusan muktamar luar biasa PBNU. 

Balik lagi kepada KH. Said Aqiel Siradj, juga berpeluang kalau beliau masih berghirah berjuang besarkan NU yang selama dua periode (2010-2021) sebelumnya memimpin NU aman kondusif dari konflik/polemik internal PBNU. Sang kyai masih memiliki jaringan luas bisa diterima semua kalangan, beliau salah satu tokoh intelektual cendikiawan muslim yang mampu mengejawentahkan NU dengan keilmuan islamiyahnya. 

KH Marzuqi Mustamar yang diberhentikan dari Ketua PW NU Jatim oleh PBNU kepemimpinan Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya sebelum pecah kongsi, beliau juga punya kans menjadi Ketum PBNU, hal ini figur sang Kyai selain komunikasi jalinan jaringannya bagus dengan warga Nahdliyin akar rumput juga kemampuan kitab kuningnya mumpuni dan mampu menterjemahkan garis -garis haluan perjuangan para pendiri NU, bersikap tegas membela NU saat terjadi penyimpangan buku sejarah NU di madrasah-madrasah, membela perjuangan walisong dan mengembalikan makam-makam mereka yang dihilangkan jejaknya.

Banyak yang berharap tokoh-tokoh berpengalaman yang berintegritas, para ulama kyai sepuh NU turun gunung benahi NU seperti halnya Prof.Dr.KH. Ma'ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Musthofa Bisri, KH. Nurul Huda Jazuli, Prof.Dr.KH. Asep Saifuddin Chalim, MA, Dr. KH. Zulfa Mustofa, MA, KH. Abdul Hakim, KH Chalwani Nawawi, KH Mahfudz, Prof. Dr. Ali Maskur Moesa, SH. M. Si, Prof M. Nuh. 

Beliau-beliau ini semoga tidak tinggal diam untuk masa depan NU supaya tidak larut dalam pertikaian dan perpecahan, karena sejatinya NU itu jati dirinya adalah guyub rukun seduluran sak lawase ber-amar ma'ruf nahi munkar serta menebarkan nilai-nilai aswaja NU dengan penuh santun dan damai tanpa kekerasan. 

Sudah hampir pasti konflik internal PBNU saat ini bukanlah soal moral, etika, atau masalah yang bersifat pribadi belaka. Melainkan masalah yang sudah terkait dengan persoalan hukum.

Tak hanya Ormas, bahkan parpol atau LSM pun, kalau sudah terkait atau bersentuhan dengan masalah hukum, maka tak akan bisa tertolong lagi. Harus cepat-cepat diamputasi, sebelum merembet ke masalah lain. Kalau masih masalah personal atau sekadar perebutan posisi di organisasi, itu masih bisa diatasi. Tapi kalau sudah terkait masalah hukum, apalagi dengan penegakan hukum, obatnya tak ada lagi, kecuali berhenti di tengah jalan.

Muktamar NU dipercepat adalah jawabannya. Mantan Ketua PBNU KH Yahya Cholil Staquf agaknya sulit untuk bertarung lagi pada periode kedua. Apalagi kalau Tim Pencari Fakta, sudah selesai berkerja dan mengungkapkan hasil pencarian faktanya di hadapan para muktamarin.

Namun kubu Gus Yahya jelas tidak mungkin akan melepaskan begitu saja pada gelanggang Muktamar sebagai forum pengambilan keputusan paling tinggi di organisasi NU, maka bisa saja semua dapat dibalikkan di forum itu, kecuali kalau ada masalah hukum tidak akan bisa berkutik: skak mat!. 

Dengan demikian siapakah yang akan menakhodai PBNU kedepan, jawaban biasanya tergantung kedekatan dengan pemerintah sekarang, karena NU dalam sejarah berada pasti pada posisi mendukung pemerintahan yang sah untuk menjaga kebangsaan dalam kerangka NKRI harga paten!. 

Wallahu 'a'alam bi as-showab. 

"Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi washohbihi wasallam ajma'in 'adada kholqihi wa midada kalimatihi ila yaumiddin"

(@hyan_elbanis) 


  • Tentang Penulis
  • youtube